ARKA POV
Masih terlalu dini kembali ke kampus, mengingat jadwal mengajarku tinggal satu kali, nanti siang sekitar jam 1. Namun rasanya aku kurang semangat, mengingat kelas yang ku ajar adalah kelas istriku sedangkan istriku masih belum masuk hari ini. Aku melajukan mobilku menuju gedung tinggi yang juga sudah sangat ku kenal.
Segera aku memarkir mobilku dan masuk ke dalamnya. Pegawai disini sudah sangat menghafal wajahku, jadilah aku langsung naik saja.
"Bosmu ada?" Tanyaku pada seorang wanita cantik yang sedang duduk di depan ruangan besar ini.
"Oh ada Pak. Silakan masuk." Jawabnya sambil mengetuk pintu dan membukanya.
Kakiku segera melangkah memasuki ruang besar itu. Sosok tubuh tinggi tegap itu tengah serius di depan layar komputernya dan tidak menghiraukan kehadiranku yang sudah merebahkan diri di sofa panjang.
Dalam diam aku terus bermain dengan ponselku. Berkirim pesan dan menggoda istriku yang saat ini baru saja bangun. Hah, belum ku sentuh tapi jam segini baru bangun, bagaimana jika aku sudah meminta hakku?
Aku benar-benar harus membuatnya sedikit melupakan kesedihannya. Sungguh, aku rindu pada keceriaan dan ucapannya yang ceplas-ceplos seperti saat pertama kita bertemu.
Otakku kembali mengingat ucapan Mama beberapa hari lalu. Mama mengatakan Mikha memiliki trauma yang berhubungan dengan kehilangan. Merunut cerita Papa aku yakin ini bermula dari saat istriku itu ditinggalkan ibu kandungnya.
Jika mengingat usia saat Mikha ditinggalkan, semestinya dia tidak akan mengingatnya. Namun nyatanya justru alam bawah sadarnya membuat benteng kokoh untuk melindungi batinnya. Hingga trauma itu sangat membekas dihatinya dan membuatnya ketakutan dengan sebuah perpisahan. Pantas saja saat ditinggalkan Farel dia sangat terpukul.
Ah sial, otakku langsung mengingat wajah berantakan dan kusut Mikha saat pertama kali aku bertemu dengannya. Dalam malam yang sedang hujan deras itu, wajah Mikha membeku dan sangat pucat dengan mata sembab dan menggigil. Shit! Aku sungguh ingin menghajar sampah itu saat ini.
"Brengsek." Tanpa sengaja aku mengumpat pelan.
"Kembalilah jika kamu hanya ingin mengumpat padaku. Hari ini aku sungguh sibuk, aku gak bisa menemanimu bermain." Ah sial, lelaki itu masih serius menghadap komputernya meski mulutnya menjawabku.
"Apa kamu tak ingin menyambut kedatanganku?"
"Kenapa aku harus menyambutmu?"
"Aku sekarang hanya seorang dosen, apa kamu tak ingin memberiku selamat?"
"Kenapa? Apa kamu dipecat Ayah?"
"Tidak."
"Hah, berarti bukan berita yang heboh. Jika Ayah memecatmu dan mencoretmu dari kartu keluarga, datanglah kembali. Saat itu aku baru akan menyambutmu dengan menggelar karpet merah dan mendengarkan ceritamu."
"Si brengsek!" Aku melempar kotak tisu di hadapanku tepat ke arah lelaki menyebalkan yang sialnya adalah sahabatku.
Akhirnya lemparanku membuahkan hasil. Kendrick, sahabatku yang sedang ku ganggu disela-sela kesibukannya, mengalihkan perhatiannya padaku.
"Ada apa? Sepertinya kamu sedang berbahagia. Apa sudah membuka hadiahmu?" Tanyanya dengan senyum menyeringai. Cih aku sangat tahu arah pembicaraannya.
"Kami sedang berduka. Masih tidak memikirkan itu."
Dan tawa Kendrick menjawab ucapanku. Ia kini berjalan menghampiriku.
"Arka, aku bukan sebulan dua bulan mengenalmu. Aku tahu bagaimana pikiranmu. Meski berduka, aku yakin hasratmu selalu ada dan sulit dipadamkan. Benarkan?" Kendrick mencibirku dengan tawanya yang menggelegar.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
Roman d'amourSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
