"Kamu tahu sayang, aku sangat kagum padamu sejak malam itu. Dari kekaguman itu tumbuh benih cinta. Aku selalu ingin menjaga dirimu dan diriku sendiri, karena aku mencintaimu, Mikhayla Putri Sanjaya."
Oh manisnya kata-kata Bang Arka. Aku tersenyum mengingat setiap momen dan kata yang diucapkan Bang Arka saat tubuhnya ada di atas tubuhku. Mengurungku dalam jeratan lengan kokohnya. Aku sungguh tak bisa melupakan semua itu meski itu telah berlangsung beberapa hari yang lalu.
Sejak saat itu, hubungan kami semakin dekat. Aku hampir tiap hari ke rumah Bang Arka. Alasan yang ku berikan pada orang tuaku selalu seputar penelitian di kampus. Padahal, aku dengan sangat jelas sudah di coret dari daftar peneliti. Aku hanya diberi tugas untuk membuat laporan yang tidak selalu bekerja tiap hari.
Dasar manusia posesif! Enak saja mencoretku dari keanggotaan tim peneliti hanya gara-gara cemburu dengan Aldrich.
Ah, dan tentang Aldrich. Aku sungguh sangat merasa bersalah padanya. Kini di kampus dia terkenal sebagai kekasihku, meski aku nyaman bersamanya tapi nyatanya hatiku bukan untuk Aldrich. Aku hanya berharap Bang Arka tidak mendengar berita ini. Dan sebenarnya aku merasa diuntungkan meski terlihat kejam. Aku bisa bersembunyi dibalik punggung Aldrich dan menutupi kisah cinta terlarangku.
Hah, kadang cinta membuatmu menjadi bodoh hingga kamu tak peduli kemana cintamu akan bermuara. Ya seperti itulah aku sekarang.
Mama dan Papa sudah mengetahui jika aku mencintai Bang Arka. Apa mereka menerima? Jelas tidak!
Setelah aku menceritakan semuanya. Ya semuanya! Termasuk siapa Bang Arka saat ada di kampusku. Aku tidak menutupi sedikit pun. Mama dan Papa terkejut saat menyadari kenyataan takdir kami yang begitu serba kebetulan. Mereka jelas melarangku menjalin hubungan itu. Latar belakang kegagalan mereka dalam menjalani pernikahan pertama, jelas menjadi alasannya. Mama menangis saat itu, memintaku untuk melepas diri. Papa...jangan ditanya, wajahnya terlihat berang! Aku yakin jika tak ada Mama maka Papa akan mendatangi Bang Arka malam itu juga.
Oh aku sudah membuat mereka menderita, tapi entah kenapa, hatiku ingin mengikuti skenario yang saat ini sudah tertulis untukku. Saat itu, satu hal yang membuatku semakin yakin. Sebelum keluar dari kamar, wanita hebatku membisikkan sesuatu padaku.
"Jika kamu ingin mengikuti kata hatimu sekarang, tolong buka mata dan telingamu sayang. Serap dan buktikan setiap berita yang akan kamu dapat. Mama yakin, sebentar lagi banyak hal yang akan kamu temui. Pastikan hatimu kuat dan belum jatuh terlalu dalam pada Arka sebelum masalah pernikahannya selesai. Masuklah pada kehidupannya dengan cara baik dan elegan. Mama yakin, anak gadis Mama bukanlah perusak hubungan orang. Jika menempuh jalan ini, yakinkan hatimu, kemana ia akan berlabuh sebelum angin yang akan mendorongmu semakin jauh." Kata-kata Mama saat itu sukses membuatku terjaga sepanjang malam.
Tentu saja, mana ada orang tua yang tidak khawatir jika anaknya menjadi kekasih dari suami orang. Sedangkan kakakku? Hah lelaki dingin dan posesif itu jelas melarangku. Bahkan dia berteriak pada Papa meminta untuk mengalihkan kuliahku di kampusnya saat itu juga. Alasannya, agar aku selalu bisa diawasi olehnya. Oh ayolah, aku bukan bayi lagi Kak!
Perasaan tenang dan bahagia menyelimuti hatiku, meski rasa waswas itu tetap ada. Setidaknya ada keluargaku yang mengetahui kondisiku saat ini. Dan beruntungnya, aku dikelilingi orang-orang yang tulus menyayangiku. Meski Mama dan Kakakku tidak memiliki darah yang sama denganku.
"Jangan senyum-senyum sendiri. Cepat turun, ditunggu Papa buat sarapan." Lamunanku buyar oleh sapaan Mama yang tiba-tiba saja sudah berdiri di tengah ambang pintu kamarku.
Sontak aku menoleh pada Mama dan memberengut menatapnya.
"Ih siapa juga yang senyum-senyum sendiri. Orang Kay lagi siap-siap berangkat ke kampus." Jawabku sambil pura-pura merapikan rambut dan bajuku.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomantizmSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
