Mataku menatap sosok yang ku cari sejak tadi. Ya, sosok yang sedang berhadapan dengan layar komputer di depannya. Sosok yang ku harapkan bisa menyamarkan tingkah lakuku selama ini. Memang kejam menjadikannya sebagai tameng, tapi bagaimana lagi, aku butuh pengalihan untuk membuat semua orang tidak curiga terhadapku yang mempunyai hubungan terlarang. Meski aku tahu, Bang Arka sangat menentang semua ini. Bagi Bang Arka, lebih baik dia berterus terang dari pada aku berdekatan dengan lelaki lain. Tapi, aku belum cukup berani.
"Kak Al. Aku ingin ikut mengambil sampel hari ini." Ujarku mantap, sambil masuk ke ruang himpunan.
Aldrich tertegun, ia nampak kaget melihatku yang tiba-tiba ada di belakangnya.
"Masuk tuh salam dulu Kay, atau ketuk pintu kek. Bikin kaget aja." Gerutu Aldrich. Memang tampak jelas raut wajahnya yang terkejut. Hahaha lucu banget sih Kak Al kalau gini!
"Tadi Kay udah ketuk dulu kok." Aku beralasan. Ku pasang wajah seriusku.
"Masa sih? Kok kakak gak denger?" Bantah Aldrich dengan suara ragunya. Ah dia benar-benar terlalu fokus tadi, sampai bisa ku kerjai!
"Ah itu mah Kakak aja yang telinganya bermasalah." Aku menahan senyumku melihatnya salah tingkah. Kamu tuh Kak, enak banget diusilin.
"Ya udah deh, sini masuk dulu. Udah selesai kuliahnya?" Tanya Aldrich sambil menarik tanganku.
Aku mengangguk dan duduk disamping Aldrich.
"Kita ambil sampel jam berapa?" Tanyaku.
"Agak siangan ya, Kakak mau nyelesaikan ngetik bentar." Entah sejak kapan Aldrich menyebut dirinya sendiri dengan kakak.
"Kakak ada kuliah?"
"Kakak libur kalau senin. Kuliah cuma tiga kali seminggu. Selebihnya Kakak banyak di lab habis gini."
"Kalau gitu, sekarang aja yuk Kak kita ambil sampelnya?"
"Kamu ada masalah Kay?" Aldrich mengamati wajahku.
"Aku baik-baik aja Kak. Emang kenapa?" Aku berusaha menyembunyikan wajah asliku.
"Ya udah yuk berangkat sekarang. Aku yakin kamu gak baik-baik aja." Aldrich langsung bangkit mengambil tas dan kunci mobilnya.
"Bob, nitip ngetik LPJ dong. Kurang dikit. Aku mau ambil sampel dulu ke kebun teh." Aldrich berteriak pada salah satu temannya yang ternyata ada di sisi kiri ruangan itu.
Astaga! Kenapa aku baru sadar ada orang lain selain kami disini. Oh gosh, malunya!
Aku langsung keluar ruangan dengan segera. Memakai sepatuku dengan terburu-buru. Hingga tangan kokoh Aldrich menahanku.
"Kenapa buru-buru?" Bibir Aldrich berkedut menahan tawa. Ah sial, dia pasti sedang mengejekku.
"Kakak ih, kenapa gak bilang sih ada orang lain disana? Kay malu tau Kak!" Cercaku pada Aldrich yang langsung membuat lelaki itu terbahak.
"Lucu banget sih kamu kalau gini. Kan tadi Kakak udah bilang, kakak gak denger kamu dateng. Berarti Kakak juga gak tau ada Boby di sana." Ujar Aldrich mencoba menenangkan aku.
"Tapi tadi Kakak langsung minta tolong Kak Boby gitu?" Aku jadi sedikit bingung dengan ucapan Aldrich. Apa dia sedang mengacaukan pikiranku ya?
"Oh tadi tau-tau aja Kakak ngelihat dia ada di sana." Aldrich menjawab dengan santai. Aku membelalakkan mataku. Oke fix, dia sedang menggodaku! Aku memutar bola mataku yang langsung disambut gelak tawa Aldrich yang membahana.
Kami pun melangkahkan kaki menuju tempat parkir.
"Ada apa Kay? Kamu gak biasanya gini. Ada masalah?" Tanya Aldrich saat langkah kami hampir mencapai tempat parkir.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
Roman d'amourSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
