"Jangan telat, Pak Fabian selalu tepat waktu dan beliau gak suka anak yang suka telat." Aldrich mengingatkanku lewat panggilan telepon yang dilakukannya pagi ini.
"Iya Kakak Disma yang tampan! Ini udah ke seratus kali kak Al bilang sejak kemarin sore lho. Dari habis ngasi pengumuman sampai sekarang, itu terus yang dibahas." Cerocosku.
Aldrich tertawa diujung telepon. Suaranya nyaring dan terdengar sangat ceria pagi ini. Entah apa yang membuatnya sebahagia itu.
"Jangan sampai kamu ngerubah nama kontakku di ponselmu lho. Itu nama keramat. Kamu sebut 3 kali pasti aku gak akan datang!" Sahutnya diakhiri tawa yang semakin pecah.
"Yeee dasar artis jurusan! Aku jadi penasaran, hari ini peran apa yang mau Kak Al mainkan?" Sindirku.
"Hari ini aku jadi mahasiswa teladan dong, kayak biasanya." Suara Aldrich terdengar sombong.
"Auk ah. Ya udah, Kay berangkat dulu ya Kak. Kakak udah di kampus?" Tanyaku.
"Udah dari tadi. Ini lagi sarapan sama anak-anak." Aldrich menjawab dengan santai. Ku tajamkan pendengaranku dan benar saja dibelakangnya ada beberapa suara lelaki sedang berbincang.
"Ya udah Kak. Kay berangkat ya. Sampai ketemu lagi." Pamitku segera.
"Kay.. Gak pingin Kak Al jemput?" Aldrich menawariku tumpangan.
"Gak usah Kak. Kan dari semalam udah Kay bilang, Kay mau berangkat sendiri. Kay mau mampir dulu soalnya. Aku berangkat ya. Sampai ketemu di kampus." Tolakku halus. Segera aku berpamitan pada orang tuaku dan berangkat.
Aldrich memang sudah menawarkan diri untuk menjemputku sejak kemarin. Namun, rutinitas harianku yang baru satu bulan lebih ini ku jalani, tidak kuasa untuk ku tinggalkan.
Lagi-lagi, logikaku dikalahkan oleh perasaanku. Saat aku ingin mengakhiri semua ini, namun ke sinilah aku kembali. Aku menghentikan mobilku dan menatap rumah serta mobil yang ku kenal baik dari balik kemudiku.
"Ah sudah berangkat rupanya. Tumben hari ini pagi banget," aku menatap jam tanganku, "astaga, aku yang kesiangan!" Seruku.
Pagi ini aku tidak terlalu lama mengamati rumah itu. Segera ku kendarai mobilku menuju jalanan.
Secepatnya aku menyetir mobilku. Kata-kata Aldrich terus menghantuiku. Jangan telat. Pak Fabian tidak suka orang yang telat. Kata itu terus berputar di otakku hingga kaki kananku semakin dalam menekan pedal gas.
Braaakkk..
"Aahh.." Aku berteriak sekeras-kerasnya saat menyadari aku menabrak mobil yang ada di depanku.
Tanganku mendadak dingin, keringat membasahi dahiku dan tubuhku bergetar hebat. Aku sungguh terkejut. Aku melirik sekilas, astaga Kay, ini salahmu, lampunya bahkan masih merah dan kamu terus saja menekan gas. Semoga tidak parah dan tidak ada korban.
Aku menepikan mobilku, mengikuti mobil depan yang ku tabrak. Ku lihat seorang pria paruh baya keluar dari dalam mobil. Ah semoga aku bisa mendapat keringanan.
"Maaf Pak. Maaf sekali. Saya tidak sengaja. Sungguh saya tidak sengaja. Saya keburu-buru mau ke kampus. Saya salah lihat jam tadi Pak, jadi tidak sadar jika hari sudah siang." Ujarku dengan lembut dan wajah yang benar-benar ketakutan. Aku pasrah bila harus mendapat kemarahan pria ini.
Ku lirik sekilas, bagian belakang mobilnya agak penyok namun tidak parah. Dan ku lihat mobilku, astaga!! Kenapa punya Bapak ini cuma penyok dan lecet dikit sedangkan punyaku sampai separah ini? Seketika aku ngeri membayangkan reaksi Papa.
"Pak, maaf, jika diizinkan saya akan menanggung biaya kerusakan mobil bapak. Saya janji akan menanggung semuanya." Imbuhku kemudian saat tidak mendengar sepatah katapun dari si empunya mobil yang ku tabrak.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomanceSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
