"Kamu kenapa Kay? Masih kesel ya sama Ibu tadi?" Aldrich membuyarkan lamunanku saat kami berjalan menuju lantai yang terdapat bioskopnya.
Aku tersentak, kaget dengan ucapan Aldrich dan juga sentuhannya di bahuku.
"Hah? Yang tadi? Gak kok Kak, biarin aja, bawaan hamil kali." Aku tersenyum masam membayangkan wanita hamil yang baru saja keluar dari toko perlengkapan bayi.
"Beneran kamu gak kenapa-napa? Tampangmu itu lho, masih kayak gimana gitu Kay." Aldrich terus saja mencercaku dengan berbagai pertanyaan. Aku tahu, ini bentuk kepeduliannya.
Aku hanya bisa mendesah sambil menggelengkan kepala. Iya, hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku tidak mungkin bilang jika aku tahu siapa wanita itu dan kenapa tingkahnya seperti itu.
Tidak ada satupun wanita yang ingin cinta pasangannya terbagi. Terlebih jika statusnya sudah menjadi suami istri. Di sinilah kebodohanku, yang terus memaksa kakiku untuk melangkah, menerobos dinding batas yang jelas terlihat. Menikmati rasa sakit yang aku terima sebagai konsekuensi dari rasa cinta yang mengiringinya.
Sejenak hatiku tersentil saat melihat wanita tadi keluar dari toko perlengkapan bayi. Dewi batinku berdiri angkuh sambil menatapku nyalang. Hei Mikhayla, jangan menjadi gadis yang tak tahu diri! Apa kau tidak melihat, wanita tadi menggendong anak dari lelaki yang kau cintai dalam perut besarnya? Bahkan untuk berjalan saja dia sulit! Mereka harusnya berbahagia dengan hadirnya buah hati dalam perut sang istri, mereka harusnya sedang berbelanja bersama untuk mempersiapkan kelahiran buah hatinya. Tapi apa yang kamu lakukan Kay? Kamu malah hadir diantara mereka, bahkan kamu mengikrarkan diri sebagai kekasihnya. Cih!
Hatiku serasa diremas. Sakit dan bahagia ini benar-benar sejalan. Namun sisi angkuhku terus membela diri. Bukannya sebelum aku datang pun, hubungan mereka sudah tidak baik? Bahkan kekasihku melarikan diri dari rumahnya, dari pernikahannya. Ia menghindari istrinya. Whoa bulu kudukku bahkan meremang saat aku mengucapkan kata kekasih. Aku lebih tepat dibilang simpanan!
"Masuk sekarang yuk, Kay?" Aldrich tiba-tiba sudah membawaku di depan pintu masuk bioskop. Aku sungguh tidak sadar ke mana langkahku terulur.
Aku terus menatap wajah di depanku. Betapa bahagianya jika aku bisa menjalani sebuah hubungan normal seperti ini. Hubungan yang sama, yang sempat aku rajut beberapa tahun yang lalu. Hubungan yang tidak perlu memakai topeng untuk menutupi kenyataan. Hubungan wajar dan normal antara lelaki dan wanita. Hubungan yang tidak mengganggu dan tidak merusak hubungan orang lain. Hubungan antara dua orang, tanpa ada celah untuk orang ketiga.
Entah apa karena aku sempat merasa sakit hati, kecewa dan terjatuh karena menjalin hubungan dengan yang seumur denganku, makanya aku sekarang mencoba menapaki hubungan yang tidak biasa, yaitu bersama suami orang. Entahlah, aku sungguh tak habis pikir dengan cara kerja otakku. Apa aku sedang membutuhkan tambahan adrenalin dalam hidupku?
Kami sudah memasuki bioskop. Tangan Aldrich terus menggandengku. Ia membimbingku menuju bangku kami. Dia terus memegang tanganku sepanjang film diputar yang entah menceritakan apa. Pikiranku terlalu jauh melayang hingga tahu-tahu film itu telah usai. Aku semakin yakin, Aldrich memang menyukaiku. Dari perlakuannya padaku, aku bisa melihat ketulusannya. Dan, aku pun menikmatinya.
Oh Tuhan, cobaan apa lagi ini! Aku belum bisa menata hati, malah sekarang diberi rasa baru yang juga sama menyenangkannya. Kenapa aku bisa menjadi serakah seperti ini?
Sangat salah jika aku mengambil semua rasa ini. Mana ada hati yang bisa di bagi? Mana ada satu hati mencintai dua lelaki? Sungguh keserakahan sudah menggerogotiku. Setelah sakit yang membawaku terjatuh hingga mencapai dasar lubang hitam, kini seakan aku ingin meraup semua cinta yang seketika hadir bersamaan.
Oh Kay, jadilah gadis baik seperti sebelumnya!
Kami keluar dari bioskop. Aku sudah tidak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahku. Senyumku terus menyeruak dari bibir yang mengakibatkan Aldrich terus menatapku dengan mata penuh cinta.
"Sepertinya kamu sangat menikmatinya, Kay." Aku sungguh malu tertangkap basah sedang tersipu. Dia sungguh pandai menggodaku.
"Bisakah kita seperti ini terus?" Aldrich melanjutkan ucapannya dan sukses membuatku menganga. Tanganku di genggamnya makin erat. Apa dia sedang menembakku? Mengatakan cinta padaku? Menginginkan aku selalu di sampingnya, benar ini yang ku dengar tadi kan?
Oh astaga! Aku harus apa sekarang? Harus menjawab apa? Dewi batinku dengan congkaknya menyuruhku menerimanya, dengan alasan yang klasik. Kay, kamu kemarin sudah sangat menderita dikhianati, sekarang saatnya kamu meraih semua cinta yang tersaji!
Aku menatap Aldrich dengan mata berbinar. Entah kekuatan dari mana aku menganggukkan kepala. Aldrich menatapku dengan matanya yang memancarkan tawa riang. Sontak tubuhku direngkuhnya dan tubuhku malah menikmatinya. Oh ayolah Kay, apa kamu sungguh rindu belaian?
"Makasi Kay. Kamu tau, ini hari yang membahagiakan untukku." Suara Aldrich terdengar dari atas kepalaku, nafas hangatnya terasa di telingaku.
"Kita makan malam dulu yuk?" Aldrich masih berbisik dari puncak kepalaku.
Aku memberi jarak pada tubuh kami, menatap teduh matanya. Ku sunggingkan senyuman hangatku. Entah bagaimana awalnya, aku merasa sedikit merasakan kebahagiaan yang tidak mungkin aku dapatkan dari...dia!
"Kita pulang aja yuk Kak. Aku gak enak sama Mama Papa. Nanti kalau aku di coret dari daftar warisan karena kelamaan main gimana dong?" Aku sedikit bergurau dengan Aldrich.
"Aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan menjelaskan semuanya kepada calon mertuaku." Deg.. Hatiku berdetak tak tentu saat mendengar Aldrich mengucapkan kata indah itu.
Oh godaan ini sungguh nikmat. Rasa baru yang wajar ku rasakan. Tanpa ada tekanan. Tanpa ada rintangan. Tanpa bayangan dan tanpa ada batasan. Semua normal, apa adanya. Tanpa ada yang ditutupi.
"Kak..." Lirih ku berucap. Ingin mengatakan yang ada di kepalaku tapi bibirku mendadak kelu.
"Aku tahu, tak semudah itu kamu melupakan sampah itu. Aku hanya ingin kamu tahu, aku selalu ada untukmu. Aku selalu disisimu, dan siap merengkuhmu kapanpun kamu butuh aku." Tanpa aba-aba, air mataku bercucuran. Indah sekali ucapanmu, Aldrich. Sungguh ini yang ku nanti. Aku semakin membenamkan wajahku pada dada bidang ini.
Walau tanpa disadari, Aldrich salah menilai aku. Ya, sejujurnya aku sungguh tak pantas mendapatkan semua ini saat hatiku masih meragu.
Bukan karena sampah itu aku terus terpuruk, Kak Al. Tapi karena seseorang yang telah mengangkatku dari lembah keterpurukanku lalu mengajakku memasuki lembah hitam yang masih belum tentu arahnya.
Aku terlena dengan semua kata mesra dari Aldrich. Buaian kata-kata Aldrich membuatku menaruh banyak harapan. Harapan untuk masa depan yang lebih jelas tertata dan lebih terasa nyata. Harapan yang tak ku dapat dari dia, Bang Arka.
---------------------------------------------------------
Bagi vote nya dong kakak 😘😘😘
Happy Reading semuaaa 💕💕
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomanceSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
