LIMA PULUH DUA

39 3 0
                                        

"Pagi Mas Hadi. Apa kabar?" Aku menyapa ramah seorang lelaki yang sedang berdiri di depan gerbang rumah itu. Ia menatapku dengan pandangan tak percaya. Beberapa kali aku melihatnya mengerjapkan matanya, seolah ia menyangsikan kemampuan penglihatannya.

"Ini.. Non Kay? Beneran non Kay?" Tanya Pak Hadi dengan terbata.

Aku tersenyum sambil mengangguk sebagai jawaban.

"Astaga non Kay, apa kabar? Lama gak kelihatan. Kemana aja non?" Cercanya dengan antusias.

"Sibuk jadi mahasiswi baru Mas. Hmm.. Mas, Bang Arka ada?" Aku langsung bertanya tanpa perlu basa basi. Sungguh aku hanya ingin segera melihat wajahnya. Aku tidak bisa tenang sama sekali.

"Ada non. Masuk aja. Semalam pulang larut. Mungkin masih belum bangun." Deg. Ucapan Pak Hadi yang tanpa permisi, langsung membuatku membeku.

Kembali ku ingat, semalam aku melihatnya sekitar jam sembilan malam. Lalu kemana Bang Arka hingga larut malam? Pikiranku langsung melayang meninggalkan logikaku.

"Mas, aku langsung masuk ya." Ujarku segera. Pak Hadi mengangguk dan membuka gerbang lebih lebar lagi.

Aku langsung memarkir mobilku sembarangan. Aku bukanlah gadis yang terbiasa parkir dengan rapi. Bagiku, hal paling melelahkan adalah memarkir kendaraan.

"Mas, tolong bantuin parkir ya, kunci ada di dalam mobil, aku langsung masuk ya." Aku berteriak pada Pak Hadi, menyerah untuk merapikan tatanan mobilku. Lebih baik aku segera masuk, biar Pak Hadi yang meneruskan semuanya.

Kakiku berlari kencang menuju pintu rumah itu. Ku ketuk beberapa kali, namun tidak ada balasan. Ku beranikan diri membukanya.

"Bang.. Abang.. Bang, ini Kay Bang. Abang di mana?" Aku terus memanggil namanya. Berharap dia keluar dari persembunyiannya.

Pandanganku terarah ke kamar Bang Arka yang masih tertutup rapat. Sepertinya memang Bang Arka belum bangun. Ku ketuk pintunya namun tetap tak ada balasan.

Ku ketuk lagi.

Sekali lagi.

Dan sekali lagi.

Nihil.

Keheningan menguasai seluruh penjuru rumah itu. Demi menenangkan debaran jantungku, aku menarik nafas panjang.

"Bang, Kay masuk ya." Ucapku di depan pintu kamar Bang Arka yang hanya bisa diam membisu. Ku buka perlahan.

Nafasku terasa sesak. Tersengal-sengal dalam menarik oksigen yang melimpah disekitarku.

Air mataku pun dengan tak tahu malunya meloloskan diri tanpa permisi. Aku membekap mulutku dengan kuat agar tidak meloloskan sebuah isakan. Ku tatap terus tubuh di depanku sambil mendekatinya.

Tubuh yang hanya diam, dengan mata terpejam dan masih menggunakan pakaian yang sama seperti terakhir kali aku bertemu dengannya di ruangan itu. Wajahnya tampak lusuh.

Kamu kenapa seperti ini Bang? Tolong rawat tubuhmu. Aku merasa sangat bersalah melihatmu seperti ini.

"Bang, Kay datang. Abang kenapa jadi gini sih Bang." Aku mendekati ranjang yang ditempati tubuh itu. Dari dekat, wajahnya tidak hanya terlihat lusuh namun jelas terlihat gurat kesakitan dan kelelahan.

Aku terduduk ditepi ranjang. Menyentuh bahu yang biasanya sangat kokoh itu. Menggoyangkan perlahan.

"Abang. Bangun Bang." Suaraku tak mampu membangunkan tubuh letih itu. Ia tetap terpejam dan bergeming dalam keheningan.

Entah keberanian dari mana, aku mendekati tubuhnya. Menyentuh wajahnya dan mengusapnya. Ada yang terasa lembab di pipinya. Menandakan entah berapa banyak air yang telah melintasi pipi itu. Ah apa kau menangis semalaman Bang? Sepertinya memang begitu, melihat mata tertutup Bang Arka yang nampak membengkak. Oh sial, aku sungguh sakit melihatnya seperti ini. Rasanya hatiku diiris dan dilumuri perasan jeruk nipis.

BERITAHU MEREKA!!! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang