"Aku calonnya Mikhayla." Suara Bang Arka sontak membuat aku dan Aldrich membeku. Tatapan kami langsung terarah tepat ke wajah Bang Arka.
Aldrich menatapnya penuh tanya, aku menatap dengan ngeri! Sialan emang Bang Arka.
"Kenapa jadi pada kicep? Kaget ya? Saya juga kok!" Bang Arka melanjutkan bicaranya dengan tenang, tanpa beban sambil melanjutkan langkahnya. Sungguh kalimat yang ambigu!
Ditepuknya pundak Aldrich yang masih membeku dan memberinya senyum simpul. Kemudian pandangannya beralih padaku. Bukan kehangatan yang terpancar dari matanya, tapi peringatan! Double sialan! Aku pasti akan diminta pertanggungjawaban atas semua kejadian ini.
"Al, jangan lupa ambil sampel siang ini. Saya sudah buatkan janji dengan petugas di kebun teh." Pandangan Bang Arka kembali menatap Aldrich. Ternyata lelaki itu sudah sadar dari terkejutnya dan bisa bersikap normal lagi.
"Eh iya Pak. Nanti saya ambil." Jawab Aldrich singkat sambil menatap Bang Arka tanpa jeda.
"Kenapa bengong gitu lihat saya?" Tanya Bang Arka sambil menahan amarahnya.
Ya, aku tahu dia sedang berjuang melawan emosinya saat ini. Wajahnya memerah menahan amarah tapi dengan keahliannya dia bungkus amarah itu dengan baik. Baguslah, Bang Arka setidaknya tahu tempat dan situasi.
"Saya cuma kaget aja Pak dengan ucapan Pak Fabian tadi. Hehehe.. Maaf Pak. Seharusnya saya langsung tau kalau Pak Fabian cuma bercanda. Saya malah sempat mikir aneh. Maaf ya Pak." Ucap Aldrich dengan jujur sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lelaki itu kemudian melirikku dan mengacak rambutku. Sial! Hentikan Kak Al. Apa kamu tidak tahu yang akan aku terima setelah ini? Oh Gosh!
Duh Aldrich yang polos atau malah tak mau tahu, aku sungguh ingin berteriak padamu. Woi Aldrich, yang dikatakannya memang benar, setidaknya itulah impianku kini! Dan ya, dia kekasihku. Nanti setelah ini, aku pastikan dia akan meminta penjelasan padaku dan memberiku peraturan baru yang aku yakin akan semakin aneh!
Aku semakin ngeri menatap wajah Bang Arka. Dan bodohnya aku, tubuhku seakan kaku kala merespon tingkah laku Aldrich padaku di hadapan Bang Arka. Harusnya aku bisa menepis tangannya yang kini sudah menggenggam tanganku, namun entah kenapa syarafku menolak menggerakkan tanganku.
"Pak, kami permisi dulu ya. Kami ada perlu Pak." Pamit Aldrich sambil menarik tubuhku yang mendadak kaku. Astaga Kay!
Aku baru merasa tenang saat berada di depan ruang kuliahku. Oh Tuhan, rasanya aku baru saja keluar dari kubangan lumpur panas. Gelap dan sesak rasanya!
"Kamu kenapa Kay?" Aldrich yang menyadari wajahku belum sepenuhnya kembali normal, langsung bertanya.
"Kay, kaget kak. Baru sekali ini kepergok sama Dosen. Kakak sih!" Cercaku, lebih tepatnya menuduh Aldrich.
"Santai aja. Kita kan gak bikin ulah!" Sahut Aldrich dengan santai. Hah? Gak salah tuh mulut ngomongnya? Iya sih tidak bikin ulah dalam versimu. Tapi dalam pandangan Bang Arka aku sudah masuk zona merah ini! Butuh dikarantina! Pelanggaran besar!
"Udah sana masuk. Bentar lagi pasti Pak Fabian datang." Ucap Aldrich dengan segera saat melihatku hendak membantahnya.
"Makasi ya Kak Al." Aku hendak masuk saat tangan Aldrich menahanku.
"Tunggu Kay. Tadi pagi, kamu berangkat sama siapa? Aku ke rumahmu tapi mobilmu sudah gak ada. Sampai sini aku juga gak lihat mobilmu. Emang kamu naik apa?"
Berangkat bareng dosenmu tuh! Aku ingin meneriakkan itu dengan lantang tapi nyaliku masih terlalu ciut. Akhirnya aku hanya menjawab dengan desahan saja.
"Aku nebeng Kak."
"Nebeng siapa?"
"Nebeng oranglah, masak nebeng demit! Ih amit-amit."
"Iya tau Kay. Tapi siapa? Aku cemburu tau! Kan kamu cuma milikku." Ucap Aldrich dengan lantang dan tiba-tiba, sambil menggenggam tanganku. Aku membelalakkan mataku. Gila nih senior tampan, gak ada akhlak emang! Bisa-bisanya dia teriak kayak gitu di depan kelasku. Oh shit!
Aku membuka mulutku hendak menjawab ucapan Aldrich saat aku melihat sesosok tubuh yang aku kenal dengan baik melintas di sampingku sambil menatap tajam padaku. Ah jadi ini alasan Aldrich sampai berteriak seperti itu. Aku tersenyum. Aku yakin, seyakin-yakinnya, karena Aldrich bukan tipe orang yang ingin menggembar-gemborkan hubungan dengan cara konyol seperti ini.
Aku jadi merasa tersanjung melihat betapa Aldrich melindungi aku dan hatiku dengan cara yang unik. Aku rasa dia ingin menunjukkan padanya dan pada seluruh penghuni jurusan ini, bahwa aku milik Aldrich. Tidak ada yang boleh dan tidak ada yang bisa menyentuh atau melukaiku.
"Buruan masuk Kay, Pak Fabian bentar lagi datang." Ujar Danen, sosok yang sekarang berdiri tak jauh dari tubuhku dan Aldrich. Ia menghentikan langkahnya dan menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kamu tenang aja, Kay bisa jaga diri. Dia tau harus melakukan apa. Lagian, sudah ada aku yang akan mengingatkannya, jadi kamu gak usah repot-repot untuk mengingatkannya." Aldrich yang mewakili aku menjawab! Hah, terima kasih Kakak senior!
Genderang perang sudah ditabuh Aldrich. Aku melihat pancaran permusuhan di mata keduanya. Whoa, aku tak menyangka ada di posisi ini! Aku sungguh ingin lari, sekedar menyelamatkan diri.
"Kak Al, aku masuk ya." Ujarku berusaha memutuskan lomba saling menatap dari kedua lelaki di hadapanku ini.
"Hmm..." Aldrich menjawab dengan gumaman, "nanti selesai kelas aku tunggu di ruang himpunan." Imbuhnya dengan mata yang masih menatap tajam pada Danen dan ku lihat Danen pun tak kalah tajam membalas tatapan Aldrich. Cih, dasar lelaki!
"Ehm..." Dehaman disengaja yang muncul dari belakang kami, mendadak membuat tubuhku kembali kaku. Keringat dingin ku rasakan mulai mengucur dari dahi dan telapak tanganku yang masih digenggam Aldrich.
Dua pasang mata langsung menatap sumber suara. Satu mata mulai melunak, amarahnya surut seketika melihat pemilik suara dehaman tadi. Dan sepasang mata yang satunya, membelalakkan matanya seakan melihat bayangan yang ia sendiri meragukan kebenarannya.
Hah, sepertinya Danen mulai menyadari sesuatu saat melihat sosok itu. Aku sangat yakin, kini jantungnya bertalu tak tentu iramanya. Aku hanya bisa tersenyum sinis padanya. Aku rasa sampah itu akan menuai semua karmanya di jurusan ini. Ah aku jadi tak sabar melihatnya. Apa aku jahat? Aku sungguh tak peduli lagi dengan semua omong kosong tentang menjadi gadis baik atau gadis jahat. Toh peranku sekarang menjadi gadis jahat, jadi lanjutkan saja.
Sedangkan aku? Aku tak perlu membalikkan badanku, atau melirik pemilik suara dehaman itu. Aku sudah sangat hafal siapa pemiliknya. Oh Gosh! Kenapa mereka bertiga memilih hari pertama kuliahku sebagai hari pertemuan mereka sih!
Serasa mengalami de javu, aku seketika mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Saat itu kami juga berada di situasi yang sama dan saling beradu argumen, kala itu di sekolah SMAku. Dan sekarang, kami kembali bertemu di depan kelasku saat aku sudah berstatus mahasiswi. Oh aku sungguh berharap hari ini tidak ada adu argumen lagi!
Namun yang membedakan situasi kini dan beberapa bulan lalu adalah, ketika dulu kami terjebak dalam adu argumen, hanya ada aku, Bang Arka dan Danen. Hari ini, formasinya bertambah dengan bergabungnya Aldrich. Takdir konyol macam apa ini?
Bedanya lagi, dulu Bang Arka mengaku sebagai calon suamiku di depan Danen dengan lantang. Namun sekarang, aku yakin Bang Arka tidak bisa lagi menyombongkan hal itu meski kini kami memang menginginkan hal itu. Situasi dan jabatan Bang Arka lah yang mengikat mulutnya untuk terdiam.
Kehadiran Aldrich yang sudah mendeklarasikan dirinya sebagai kekasihku di jurusan kami, menambah daftar panjang perbedaan pertemuan kami yang sangat diluar akal sehat ini.
Dan tentu saja, kehadiran mereka disini pun akan menjadi daftar panjang rentetan kesalahanku pada Bang Arka hari ini. Sialan!
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
Roman d'amourSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
