TUJUH PULUH DELAPAN

34 6 0
                                        

ARKA POV

Amarahku benar-benar sudah mencapai puncaknya. Sungguh dua bersaudara itu menghabiskan banyak sekali stok kesabaran yang ku miliki.

Jika bukan karena permintaan Mikha yang ingin hubungan ini disembunyikan, aku sendiri yang akan menghajar Kendrick, meski dia sahabatku. Sahabat macam apa itu yang dengan terang-terangan memegang pinggang kekasih sahabatnya.

Cih, masa bodoh dengan omong kosong tentang persahabatan. Aku sudah muak sejak melihat Kendrick menatap Mikha dengan pandangan lapar saat pertama kali mereka bertemu tadi. Terlebih lagi sekarang dengan tidak tahu malunya tangannya menggandeng pinggang Mikha. Aku sangat paham orang seperti apa dia, karena itu tak akan ku izinkan Mikha dekat dengannya, atau sekedar mengenalnya.

Dan bodohnya, gadis kecilku itu tidak menolak sama sekali. Oh shit, apa dia menikmatinya? Aku bisa saja menyentuhnya jika Mikha menginginkan itu. Aku bisa memuaskannya! Astaga apa yang ku pikirkan? Sial.

Aku segera keluar dari mobil dan mengikuti mereka. Ku ambil jarak aman agar mereka tidak mengetahui keberadaanku.

Beberapa saat telah berlalu, gadisku tengah tersenyum saat keluar dari ruang periksa. Ia berjalan sambil memandang kakinya yang tak lagi terbungkus gisp. Ah senyum itu, aku sungguh merindukannya.

Tapi apa yang mereka diskusikan saat ini? Ah sial, aku tidak bisa mendengarnya dari sini. Lalu itu, siapa yang di telepon Mikha? Aku terus saja memperhatikan mereka dari kejauhan. Amarahku semakin memuncak saat melihat interaksi Mikha dengan kedua lelaki bersaudara itu. Menyebalkan!

Tunggu dulu, kemana Mikha akan pergi dengan menyeret Winda seperti itu? Ku mohon hati-hati sayang, kakimu baru saja sembuh.

Aku mengikuti mereka dengan diam. Ah mereka ke kamar mandi rupanya. Seketika pikiranku melayang saat mendapati kenyataan yang sering dilakukan Adinda. Dia akan beralasan pergi ke kamar mandi untuk membenarkan dandanannya. Oh shit! Jangan bilang kamu mau berdandan Mikha? Sialan, kenapa aku jadi berpikir buruk seperti ini terus?  Awas saja kalau kamu benar berdandan untuk lelaki lain!

Mengingat kemungkinan itu, hatiku terasa sesak dan bergemuruh. Aku ingin segera menyeret Mikha menjauh dari predator itu. Aku terus saja berjalan berputar di sekitar taman yang terletak tak jauh dari kamar mandi, sambil memikirkan bagaimana caranya agar Mikha dapat menjauh dari Kendrick maupun Aldrich.

Ah baiklah, aku akan menelepon dia. Tapi, apa itu dibenarkan? Mengingat janji yang telah aku ucapkan di depan orang tua Mikha. Aku sungguh merindukan dia tapi aku juga lelaki yang akan terus memegang janjiku. Tapi aku sungguh kangen!

Masa bodohlah, berbuat curang sekali ini saja. Toh ini juga demi kewarasan jiwaku. Aku terlalu paranoid jika Mikha tidak berada dalam jangkauan pengawasanku. Aku butuh mendengar suaranya untuk meredakan amarahku. Jika dibolehkan aku butuh pelukannya.

Aku mencari tempat yang aman untuk duduk, tempat yang bisa menyembunyikan keberadaanku dari Mikha, namun aku masih tetap bisa memantaunya. Ya, lorong dekat toilet, di sebelah pohon beringin besar dekat dengan taman sepertinya tempat yang sesuai. Aku bisa leluasa mengawasi gadisku.

Aarrggh.. Aku merasa frustasi saat ini, aku benar-benar merindukan gadis kecilku itu, aku butuh penenang merekku sendiri, aku butuh Mikha!

Segera ku hubungi kekasihku itu.

Drrtt.. Drtt.. Drrtt..

Ah dia mencari tempat yang aman juga ternyata. Dia sangat konsisten sekali dengan ucapannya. Mikha sungguh tak ingin hubungan kami tercium siapapun. Lihatlah, gadis kecil itu mengendap-endap agar temannya tak tahu siapa yang meneleponnya. Aih sial, itu justru memicu amarahku semakin meluap. Aku benci disembunyikan!

BERITAHU MEREKA!!! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang