SERATUS EMPAT PULUH ENAM

51 5 0
                                        

"Abang, kasih tau dikiiittt aja. Kisi-kisi yang Abang kasih masih terlalu luas cangkupannya. Kay bingung harus belajar dari mana."

Malam ini aku masih terus mencoba keberuntunganku. Sudah hampir dua minggu ini, sejak masa minggu tenang sebelum UAS hingga malam ini dimana besok hari terakhir ujianku, aku masih terus mencoba merayu suamiku yang juga bertindak sebagai dosenku di kampus untuk mau memberiku sedikit saja bocoran soal ujian.

Sebenarnya aku tahu, Bang Arka tidak akan pernah memberitahukan soal itu kepadaku, dia benar-benar keras hati jika menyangkut kedisiplinan. Tapi, mencoba tak ada salahnya kan? Siapa tahu Bang Arka sedang tersesat malam ini.

Dan besok adalah ujian terakhir dengan mata pelajaran yang diajar oleh Bang Arka. Jadi, mencoba sekali lagi boleh kan?

"Abang," Suaraku ku buat seimut mungkin, "Abang tega banget sih sama Kay. Gak usah soalnya, tapi kira-kira aja deh seputar yang mana gitu. Misal nih, mikroorganisme tuh butuh apa buat hidup. Atau jenis-jenis media perkembangbiakannya tiap jenis mikroorganisme." Aku masih semangat memberondong suamiku dengan berbagai kalimat yang ku buat seseksi mungkin sebagai rayuanku.

Sialnya Bang Arka tak tergoda. Ia tetap bergeming.

"Bang!" Suaraku sudah meninggi. Ku goyang saja lengan kokohnya agar ucapanku mendapat respon darinya.

"Abang ih! Tidur di luar aja nanti." Aku segera berdiri dan berniat meninggalkan meja makan.

Baru saja tubuhku berbalik, suara berat itu menghentikanku.

"Duduk Kay! Jangan merengek untuk hal yang tidak masuk akal. Biarkan suamimu makan dengan tenang." Kali ini suara Papa yang menegurku.

Aku menatap Mama untuk meminta bantuan dan hanya di balas dengan gelengan kepala. Jika sudah seperti ini, aku memilih duduk kembali, sebelum murka Papa mendatangiku.

"Perbaikan tingkah lakumu, suamimu sudah sangat sabar menghadapimu. Bahkan jika itu Papa, Papa yakin tidak akan sesabar Abangmu. Kamu meminta sesuatu yang tidak masuk akal, apa kamu sadar akan hal itu? Abangmu harus profesional meski kamu istrinya! Jangan lagi merengek, telinga Papa gatal mendengar itu terus menerus selama dua minggu ini." Ujar Papa saat tubuhku kembali ku hempaskan di kursi.

Mataku sekilas melihat senyum tertahan dari bibir Bang Arka. Cih, dia mencibirku!

Bang Arka menatapku sambil mengangkat kedua alisnya. Sial, dia jelas sedang mengejekku yang tak mendapat dukungan dari siapapun.

"Oiya Pa, ada yang harus Papa lihat."

Bang Arka yang sudah selesai makan malam segera bangkit dan berjalan menuju ke kamar.

Untunglah Abang memotong ceramah Papa.

"Kay, jaga tingkah lakumu. Jadilah dewasa nak, peranmu sekarang bukan hanya sebagai anak. Lebih penting dari itu, kamu itu sekarang seorang istri Kay. Kamulah yang akan menjadi pendukung dan penyemangat suamimu Kay, jangan malah membuatnya dalam pilihan yang sulit Kay." Mama memberiku wejangan setelah Abang beranjak menghilang dari pandangan.

Aku hanya menunduk. Ucapan Mama sepenuhnya benar, hanya saja egoku menguasai hatiku.

"Tapi Ma--"

"Cukup Kay! Hentikan rengekanmu sayang. Tidak baik seperti itu." Papa menyela ucapanku.

Aku bergeming. Ucapan orang tuaku sepenuhnya benar, hanya saja aku yang terbiasa mendapatkan semua yang ku inginkan, kali ini harus menahan diri dan mencoba bertoleransi.

Mama dan Papa meneruskan makan mereka yang belum selesai. Tak lama kemudian, Abang telah kembali sambil membawa sesuatu di tangannya.

"Pa, ini undangan yang sudah jadi. Sisanya sudah Arka letakkan di ruang kerja Papa. Undangan untuk Ayah juga sudah Arka serahkan." Bang Arka mengulur sebuah kertas tebal, berwarna ungu di padu merah muda yang sangat cantik.

BERITAHU MEREKA!!! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang