Aku memarkir mobilku di tempat biasanya. Aku masih berusaha menstabilkan deru nafasku yang masih memburu. Isakanku masih terdengar lirih. Sekarang aku bingung, bagaimana aku bisa keluar mobil dan menjalani kegiatan hari ini jika wajahku seperti ini? Aku mendesah.
Tok.. Tok..
"Hoi, keluar!" Suara seorang pria yang mengetuk jendela kaca mobilku mengagetkan aku.
Sontak ku hapus air mataku dengan segera dan ku alihkan tatapanku. Mataku membelalak mendapati sosok sangar di balik kaca mobilku.
"Turunkan kacamu dan cepat keluar." Bentak lelaki itu dari luar.
Aku menelan ludahku dengan susah payah, ku tatap jam yang ada pada dasbor mobilku. Double sialan! Aku terlambat!
Aku mengutuki kecerobohanku. Seharusnya sekalian saja aku tidak masuk pagi ini. Kalau sudah berhadapan dengan seniorku yang satu ini, aku lebih baik angkat tangan. Menyerah sebelum lebih babak belur.
Baiklah, gunakan semua kemampuanmu Kay. Selesaikan urusanmu hari ini. Jangan sampai kalah darinya. Sudah cukup sebulan ini dirimu diperlakukan tak adil olehnya. Sudah cukup sebulan ini dia semena-mena padamu.
Ya, selama ospek ini, seorang lelaki menyebalkan selalu mengincarku untuk dijadikan sasaran kemarahan atau hukuman. Entah masalah sekecil apapun, dia selalu mencari kesalahanku.
Aldrich, nama seniorku itu. Dia ada di tahun ketiga masa kuliahnya. Sosok yang angkuh, keras kepala, tak terbantahkan, kejam dan juga... Tampan!!
Hah menyebalkan, kenapa lelaki tampan selalu mempunyai otak dengan kemampuan menyiksa dan membuat orang kesal diatas rata-rata sih.
Dengan kemampuan merayuku yang sangat minimalis, aku sedang mempertaruhkan nama baikku di hadapannya dan seluruh makhluk di jurusanku, nantinya. Ku pasang wajah sepolos mungkin dan ku tunjukkan mata mengibaku.
Berjuanglah, Kay! Lakukan semuanya, kamu pasti bisa! Aku memberi semangat diriku sendiri.
Ku buka kaca jendela mobilku. Ku tampilkan wajah mengibaku disertai dengan tetesan air mata yang memang belum sempat mengering sejak tadi.
"Maafkan aku, Kak. Aku telat. Aku gak lihat jam tadi. Aku ada masalah." Ucapku meminta keringanan.
Lelaki itu membelalakkan matanya, entah apa yang dilihat di wajahku. Aku bahkan belum sempat bercermin.
"Keluar dari mobil, cepat." Suaranya sedikit diturunkan.
Dewi batinku bersorak girang, sepertinya usahaku tak sia-sia. Aku bergegas turun dari mobil dan menghampirinya.
"Pakai jas almamatermu." Dia mengingatkan.
Jedieeeerr..
Tiba-tiba kilasan kejadian tadi pagi berputar lagi. Tadi kan Mama belum sempat memberikan jas almamaterku. Oh Tuhan, mimpi apa aku semalam? Pagi-pagi sudah diberi suguhan yang menyesakkan hati. Aiiish..
Aku menengok ke arah mobilku, mataku pura-pura mengintip ke jendela. Dan aku mulai sedikit memainkan drama.
"Astaga!! Aku lupa Kak Al. Maafkan aku!" Aku berteriak, menutup mulutku dengan kedua tangan, pura-pura terkejut dan gugup saat tidak menemukan almamaterku.
Hatiku tersenyum lebar melihat tatapan jengah dari seniorku itu. Aku melihatnya memutar bola matanya secara dramatis, haha aku menang banyak!
"Langsung berkumpul dengan teman-temanmu." Ucapnya singkat.
Yes, sepertinya dia tertipu. Usahaku berhasil. Ah aku ingin sekali menari saat ini merayakan keberhasilanku mengelabuinya.
Aku segera berlari sambil menghapus kasar sisa air mataku. Biarkan saja semua memandangku dengan heran saat melihat wajah sembabku. Aku langsung bergabung dengan kelompokku.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
Storie d'amoreSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
