"Bang, Kay harus gimana? Kay gak punya muka datang ke jurusan. Ini gimana sih Bang? Belum ada satu semester masa udah dipanggil KaJur sih Bang!" Aku terus merengek sambil berjalan hilir mudik di dalam kamar.
Mungkin karena Bang Arka sudah kesal melihatku yang belum berhenti jalan sejak tadi, aku langsung ditarik hingga tubuhku terhempas di atas kasur.
"Kepalaku lebih pusing melihatmu berjalan mondar-mandir sejak tadi, Mikha. Apa sih yang kamu risaukan? Apa kamu gak percaya sama Abang? Hmm?" Bang Arka mengurung ku diantara lengan kokohnya sambil menatap tajam padaku.
Aku yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam. Mulutku tiba-tiba terkunci erat.
"Tapi Bang, bayangkan saja, apa kata mereka semua yang ada di jurusan saat tau masalah ini?" Ujarku sambil terus merengek.
Rasanya aku tak sanggup jika harus mendapat hujatan dari seantero jurusan.
"Emangnya mereka tau apa masalahmu sampai dipanggil KaJur?" Tanya Bang Arka.
Aku menggeleng. Benar juga sih, mereka kan tidak ada yang tahu aku dipanggil KaJur.
"Tapi Bang, mereka semua mungkin tau kejadian siang itu." Lirih mulutku berbicara sambil ku tundukkan kepalaku. Rasanya hatiku masih sakit jika mengingatnya.
Aku bukan tipe gadis yang lemah, yang bisa ditindah dan ditekan dengan seenaknya. Tapi kejadian tempo hari itu benar-benar diluar kuasaku. Aku tak bisa melawan, bukan karena aku tak mampu tapi aku tak berhak. Pada kenyataannya, statuslah yang kembali jadi pemenangnya. Mana ada yang akan membela seorang pelakor? Setidaknya begitu pikirku.
"Aku juga dapat teguran dan aku juga dipanggil. Kamu tenang aja Mikha, Abang yang akan menyelesaikan. Toh kita tidak melanggar hukum kan?" Aku sungguh tak paham seperti apa jalan pikiran lelaki ini, aku hanya mampu menatapnya dengan pandangan yang entah apa sebutannya.
"Abang sih enak bisa lolos dari gunjingan. Siapa sih yang berani ghibahin seorang Pak Fabian yang kejam tapi tampan. Lha aku? Dih anak kemarin sore aja udah belagu, udah berani godain most wanted dosen di jurusan. Pasti gitu mikirnya mereka Bang." Mulutku terus saja mencerocos.
Tak ku sangka malah tawa kencang Bang Arka yang ku terima sebagai jawaban atas seluruh kata-kataku tadi. Dih, dasar kepedean!
"Jadi, kamu beruntung dong bisa dapetin most wanted dosen yang tampan ini? Malah dapetnya tanpa perlu bersaing lagi karena si tampan ini sudah menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk seorang anak kemarin sore." Suara Bang Arka terdengar sangat menyebalkan di telingaku.
Bagaimana ceritanya sih, yang ditangkap Bang Arka hanya bagian yang enak di dengar saja?
"Aku bilangnya pakai 'yang kejam' lho Bang." Sindirku.
Tawa Bang Arka semakin terdengar kencang dan sumbang. Cih!
"Mikha, Abang tak mengelak dikatakan kejam. Memang Abang kejam, apalagi jika itu menyangkut kebahagiaan dan keselamatan orang yang Abang cintai. Siapa pun berani mengusik atau merusak kebahagiaan orang tercinta Abang, maka dengan segera Abang akan menjadi orang yang kejam." Bang Arka menatapku dengan hangat sambil mengusap punggungku.
Aku meremang merasakan sentuhannya dan bergidik mendengar suaranya. Dia benar-benar mempunyai kepribadian ganda!
"Apapun akan Abang berikan untuk mendapatkan kebahagiaan bagi orang tercinta Abang. Apapun. Tetapi, ada harga yang harus dibayar. Orang tersebut akan terikat selamanya bersama Abang. Karena jika Abang sudah mendapatkan 10 rasa cinta, maka Abang akan membalasnya dengan 100 cinta. Jadi bersiaplah sayang." Sentuhan lembut jemari Bang Arka ku rasakan di pipiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
DragosteSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
