"Abang." Aku memanggil lirih sosok yang tengah mengamatiku dari balik punggungku.
Kini kami berdua telah berada di kamar Kak Farel setelah makan malam tadi. Aku telah membuka brangkas yang diceritakan kakak dalam mimpiku. Dan benar saja, kodenya adalah ulang tahunku. Sesuai dengan mimpiku.
Mataku menatap tak percaya pada kotak kardus berwarna merah muda yang berhias pita dan bungan berwarna kuning. Tanganku mengusapnya dengan penuh perasaan.
Mimpi itu nyata! Mimpi saat kakak mengajakku ke danau pinus. Apa kakak menghampiriku sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya? Seketika air mataku meleleh.
"Bukalah sayang." Bang Arka telah berada di sisiku sambil mengusap lembut punggungku.
Aku membuka dengan perlahan kotak itu. Mataku disambut oleh selembar amplop dengan warna senada dengan kotaknya. Ada beberapa album foto dan di bagian paling bawah ada gaun.
Segera ku ambil gaun itu dan ku bentangkan. Astaga, ini sangat indah. Gaun berwarna ungu muda, dengan hiasan bunga dan pita merah muda di pinggang. Beberapa bunga berwarna merah muda juga tampak menghiasi hampir seluruh gaun sebagai motifnya. Sangat indah.
Otakku langsung memproyeksikan gambaran ulang tahun kakak beberapa tahun lalu, saat kami masih baru sebagai keluarga. Aku sempat meminta gaun serupa milik putri kerajaan. Saat itu aku membisikkan keinginanku pada kakak tentang keinginanku menikah dengan kakak dan memakai gaun yang indah. Ini mirip impian konyolku dulu dan kakak mewujudkannya.
Ya, sangat konyol, karena aku baru menyadari, itu bukan rasa cinta tapi itu hanya rasa kagum karena aku baru saja mendapatkan saudara. Saudara yang ternyata sangat luar biasa. Kakak yang sangat hebat. Kak Farel.
Warna gaun ini warna kesukaanku. Warna yang selalu ku gunakan sejak aku kecil. Entah apa alasannya, bagiku warna ungu dan merah muda merupakan perpaduan warna terbaik. Dan kakak sangat mengetahui itu.
"Cantik." Suara lirih Bang Arka menarik kembali kesadaranku.
Aku menatap wajah Bang Arka yang berbinar.
"Kapan resepsi pernikahan kita Bang?" Tanyaku dengan segera yang langsung disambut dengan kening Bang Arka yang berkerut.
"Bulan depan bagaimana?"
"Akhir semester ini saja, bisakah Bang? Sekalian Abang berpamitan pada seluruh jurusan." Aku sedikit menawar.
Sejujurnya, aku belum siap jika dalam waktu dekat. Setidaknya jika akhir semester ini, masih ada waktu sekitar tiga bulan.
Bang Arka termenung sejenak. Tampak dari wajahnya sedang mengamati responku. Ah titisan cenayang itu rupanya sedang mengukur sejauh mana respon anehku.
"Baiklah. Sepertinya itu ide yang bagus. Nanti kita bicarakan dengan orang tua kita, Mikha. Apa itu artinya kamu siap memproklamirkan status kita pada semuanya?" Akhirnya Bang Arka memberi keputusannya dan tentu saja disertai pertanyaan anehnya.
Aku tersenyum lebar mendengarnya. Tentu saja aku siap, memangnya kalau tidak siap harus bagaimana? Toh sekarang pun kami sudah suami istri. Namun seketika itu juga muncullah ide baru dalam otakku.
Astaga, kenapa bisa otak minimalisku sangat cepat berpikir jika menyangkut hal seperti ini?
"Bang, bisakan kita memilih tema garden party? Kay gak pingin berdiri di atas panggung, yang hanya diam sambil memandang dan menyalami para tamu. Kay ingin berbaur dengan para tamu dan menyapa mereka secara langsung. Bolehkan Bang?"
Bang Arka tersenyum sambil mengusap puncak kepalaku.
"Apapun yang membuatmu bahagia, lakukan saja sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomanceSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
