EMPAT PULUH TIGA

46 7 0
                                        

"Apa yang terjadi tadi?" Tanya Bang Arka saat isakanku mulai mereda. Ia menatapku erat. Kini kami duduk berdampingan di sofa ruangan Bang Arka.

"Hah?" Respon yang sama, yang selalu ku berikan saat Bang Arka bertanya.

Bagiku, kadang kata-kata minimalis Bang Arka harus dibuatkan kamus tersendiri. Aku susah untuk mengerti.

"Tadi pagi, ada apa denganmu Mikha? Kekasihmu itu meminta izin dengan wajah kalut padaku dan bilang kekasihnya kecelakaan." Bang Arka mulai menjelaskan dengan sindiran pedas sebagai imbuhan.

Ah jadi tentang kecelakaan itu. Seketika otakku langsung mengingatnya.

"Tadi aku gak sengaja nabrak mobil berhenti pas lampu sedang merah. Aku terburu-buru biar gak telat masuk kelasnya Pak Fabian yang terhormat." Ujarku setengah menggodanya. Ku angkat kedua alisku sambil menahan senyum.

Wah, lihatlah wajah Bang Arka, mendadak berubah sangar! Garis tegas langsung terlihat di rahangnya. Dasar gak bisa diajak bercanda!

"Di mana kamu kecelakaan? Dan kenapa kamu memanggil Aldrich? Seperti apa hubungan kalian?" Cerca Bang Arka sambil matanya menuntut penjelasan segera.

Deg..

Bagaimana aku harus menjelaskannya? Apa aku harus menghindar saja? Tapi lihatlah wajah galak itu! Dia sudah siap siaga menerkamku! Baiklah, akui saja Kay, demi kewarasan bersama.

"Ada di..di..di dekat rumahmu Bang." Aku menjawabnya dengan menunduk. Ah sial, jadi ketahuan kan kalau aku ini seorang stalker!

Bang Arka tersenyum mendengar jawabanku. Di usapnya pucuk kepalaku.

"Kamu menghindariku, tidak mau mengangkat teleponku dan kamu menjauhiku. Tapi setiap hari, kamu menyambangi kediamanku dari jauh. Apa menurutmu itu masuk akal Mikha? Bukankah lebih baik kita bertemu? Aku rasa itu lebih baik untuk kesehatan mentalmu dan juga hatiku." Panjang lebar Bang Arka mengucapkan kalimatnya. Namun yang ku tangkap hanya beberapa saja. Keterkejutanku ternyata belum usai.

Aku menyandarkan tubuhku di sofa ruangan itu dan ku pejamkan mataku. Aku meresapi setiap kata Bang Arka yang terdengar sangat indah tapi kenyataannya sangat tidak masuk akal. Kenapa jadi sesulit ini sih?

"Putuskan hubungan apapun yang sedang kamu jalani dengan Aldrich. Aku tak mau kamu terlalu dekat dengannya." Lirih ku dengar sayup-sayup suara Bang Arka.

Aku bergeming, masih setia pada kegelapan yang ku ciptakan.

"Apa yang sudah kalian lakukan? Dan kenapa kamu malah menghubungi dia saat kecelakaan? Kenapa bukan aku, Mikha?" Bang Arka masih asyik mencercaku.

Sekali lagi, aku hanya diam dan menutup mataku. Aku masih meresapi semua ini. Aku serasa berada di antara batas mimpi dan nyata. Batas yang ingin ku tembus sekali lagi.

"Jangan harap kamu bisa mengikuti proyekku yang sedang dipegang Aldrich. Tak akan ku izinkan kamu dekat dengannya." Bang Arka terus saja bersuara.

Kepalaku terasa penat, otakku penuh dengan banyak pertanyaan dan banyak kata yang juga ingin ku lontarkan. Tapi tidak sekarang. Saat ini, tubuhku meronta minta diistirahatkan.

"Ayolah Mikha, jangan naif! Apa kamu tidak tahu jika Aldrich menaruh hati padamu? Jauhi dia. Kamu hanya milikku!" Ku rasa inilah puncak kesabaran Bang Arka. Suaranya makin meninggi diiringi desahan nafas kasarnya.

"Jangan bilang kamu juga menyukainya? Katakan padaku, apa kamu menyukai Aldrich? Apa kamu mencintai dia? Mikha, bilang pada Abang, kalau kamu tidak menyimpan perasaan apapun pada Aldrich! Katakan Mikha!" Bang Arka sudah membentakku. Suaranya sangat mengganggu telingaku.

Aku membuka pelan mataku. Melirik Bang Arka sekilas. Hatiku bersorak saat melihat Bang Arka seperti ini. Namun sekali lagi, otakku tidak mengizinkan semua ini. Mereka selalu saja berkelahi. Hei otak dan hati, tolong berdamailah sekali ini.

"Kenapa aku harus menjauhi Aldrich? Bukankah dia cocok denganku Bang? Aku sendiri dan dia sendiri. Kami tidak terikat dengan siapapun. Sangat wajar bagi kami untuk bersama. Dan dia lelaki yang baik juga ku rasa." Entah keberanian dari mana yang membuatku berani mengatakan kebenaran ini.

Sontak wajah Bang Arka menjadi berubah. Wajahnya merah menahan amarah. Namun sedetik berikutnya, auranya berbeda. Ia tampak kesakitan, ia seperti sedang menahan sebuah beban berat.

Bang Arka ikut merebahkan punggungnya di sandaran sofa. Matanya ikut terpejam. Sebutir air mata menetes di matanya, namun secepatnya ia hapus. Aku tahu, kata-kataku adalah pukulan telak untuknya. Ini seperti hal tabu untuk diucapkan diantara aku dan Bang Arka.

"Kamu benar. Sangat benar Mikha. Aku tidak berhak melarangmu. Dan kamu sangat berhak menjalin hubungan dengan Aldrich atau lelaki manapun. Aku benar-benar kalah. Sekali lagi aku kalah. Di kalahkan oleh keadaan." Lirih Bang Arka berucap. Setetes air mata kembali mengalir.

Bang Arka membuka matanya, menoleh ke arahku dan tersenyum.

"Kamu berhak bahagia, Mikha. Kejar kebahagiaanmu jika memang Aldrich bisa memberikan semua itu. Ini masa muda kalian, masa-masa kalian merajut asa dan cinta. Kamu dan Aldrich masih sangat muda dan juga baik, aku yakin kalian akan bahagia." Imbuh Bang Arka sambil menatapku lekat. Matanya memancarkan entah apa nama perasaan itu. Aku hanya bisa menangkap, ada kesakitan disana.

"Aku akan memastikan kebahagiaanku Bang. Entah Aldrich atau siapa yang nanti ku pilih, aku akan memastikan bahwa aku akan benar-benar bahagia. Tapi...apa Abang akan bahagia?" Aku bertanya serius pada Bang Arka. Aku sungguh ingin mengetahui jawabannya. Mungkin jawabannya akan memberiku sedikit angin segar.

"Apalah arti kebahagiaan untukku Mikha? Aku merasa sudah tidak pantas untuk merasakan kebahagiaan. Bagiku, bahagia adalah hal mewah yang sangat jauh dari jangkauanku. Aku ini hanya lelaki biasa tanpa status jelas. Lagipula, jika kelak semua masalahku beres, aku hanyalah seorang duda. Adakah yang bersedia bersama duda? Apalagi duda cerai! Aku rasa tidak ada." Nada pesimis sangat terasa dalam ucapan Bang Arka. Tidak ada lagi semangat dalam suaranya.

Dia bukan Bang Arka yang ku kenal selama ini. Selama aku mengenal Bang Arka, dia adalah sosok berhati lapang dan berjiwa tegar. Namun sekarang, ia tak ubahnya seperti bubur bayi yang lembek.

"Abang..abang tadi bilang apa? Abang.. Mau bercerai? Tapi kenapa Bang?" Tiba-tiba aku kembali fokus pada omongan Bang Arka.

"Jika memang Kay yang salah, Kay akan pergi Bang dari hidup Abang. Bukankah selama sebulan lebih ini, Kay sudah tidak pernah mengganggu Abang lagi? Kay gak pingin ngerusak rumah tangga Abang kok, Kay akan pergi Bang, Kay janji. Apapun yang Abang bilang, akan Kay lakuin, asal Abang jangan kayak gitu lagi. Kay cuma pingin Abang bahagia dan rumah tangga Abang juga baik-baik aja." Aku tergugu. Seketika otakku menampilkan kilasan-kilasan alasan perubahan Bang Arka.

Aku mendadak panik, saat menyadari aku mungkin saja bisa menjadi salah satu alasan Bang Arka menggugat cerai Adinda. Hah, nama itu, sangat aku benci! Tapi apa hakku membencinya?

Adinda dan anaknya lebih berhak atas diri Bang Arka dibanding aku. Aku sangat menyadari itu. Meskipun nantinya hatiku sepenuhnya ku berikan pada Bang Arka atau hati Bang Arka sepenuhnya hanya ada aku, namun apalah dayaku? Aku bukan siapa-siapa. Jadi salahkah jika aku ingin melindungi diri dan hatiku? Bukankah lebih baik menghindar saat ini daripada nanti? Aku takut hatiku semakin terperosok dalam lembah cinta terlarang ini.

"Jangan tinggalkan anak istrimu Bang. Aku yang harusnya pergi dari hidupmu. Aku yang tidak pantas berada disisimu. Aku hanya orang lain. Aku yang harus pergi." Aku terus saja bersuara sambil memikirkan alasan Bang Arka dibalik semua ini.

Ku dengar Bang Arka mendesah kasar sambil mengusap wajahnya. Tampak sekali kelelahan di raut mukanya.

"Ada atau tidak ada kamu dalam hidup Abang, Abang tetap akan menceraikan Adinda. Ada hal yang mutlak tidak bisa Abang terima dari dirinya." Suara Bang Arka menggetarkan sanubariku. Memukul tepat di ulu hatiku.

Ada apa ini Bang? Ada hal penting apa dibalik keputusanmu itu?

BERITAHU MEREKA!!! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang