SERATUS DUA BELAS

41 4 0
                                        

"Ren, kamu urus semuanya. Main halus saja. Masalah kampus, aku sendiri yang membereskan."

Telingaku menangkap suara-suara yang membangunkan tidurku, pagi ini. Namun mataku enggan ku buka. Biarlah, aku dengarkan dulu segala percakapan lelakiku dengan tangan kanannya.

"Jangan lupakan perjanjian itu. Desak wanita ular itu untuk mengakuinya dan ambil paksa surat itu. Aku ingin melihatnya. Beraninya dia mengancam wanitaku!" Aku meremang mendengar suara Bang Arka. Wanitanya? Siapa, aku?

Wah, lihatlah! Dewi batinku bersorak kegirangan! Astaga lemah sekali hatiku, baru diberi gombalan receh saja sudah kalang kabut.

"Berkas-berkasnya, tolong kamu percepat. Ah iya, dan satu lagi, hubungi Roy, tanyakan hasilnya. Desak dia juga untuk segera menyelesaikannya." Lagi-lagi suara baritone itu terdengar sangat menuntut.

Dasar arogan!

"Kabari aku jika ada berita apapun. Dan perketat pengawasan. Kita tidak bisa tahu apa yang akan direncanakan wanita ular itu. Jangan kecolongan lagi. Pengawalan harus ekstra hati-hati dan waspada terus. Jaga jarak, jangan sampai Mikha terbebani dan merasa risih."

Aku terus mendengarkan percakapan satu arah itu. Pengawasan? Pengawalan? Siapa yang dikawal dan diawasi? Aku?

Seketika otakku langsung mengumpulkan serpihan puzzle yang tercecer. Astaga! Pantas saja Bang Arka tahu apapun yang terjadi padaku. Dia mengawasiku tanpa ku sadari.

Ah.. Otakku langsung mengirimkan beberapa potongan kejadian kala itu. Kala aku berlari pada Aldrich. Lelaki itu mengatakan tempat parkir favoritnya adalah tempat yang 'aman'. Apa yang dimaksud adalah aman dari pantauan Bang Arka? Berarti dia tahu juga masalah pengawalan ini? Astaga, aku sedang berhubungan dengan siapa sih ini? Mafia atau seorang dosen? Bulu kudukku meremang tanpa permisi.

"Selesaikan dengan halus. Bagaimana pun caranya." Ucapan Bang Arka sontak membangunkan aku dari lamunan.

Mataku masih terus ku pejamkan sambil menajamkan pendengaranku. Berharap aku mendapatkan informasi apapun yang sekiranya bisa memberiku ketenangan.

Kenapa sekarang sepi sekali? Apa Bang Arka keluar kamar? Tapi sepertinya tadi aku tak mendengar suara pintu terbuka. Atau sedang di ruang ganti ya? Baiklah, aku akan mengintip sedikit saja untuk mengetahui keadaan.

"Bangunlah sayang. Buka selimut itu. Aku tahu kamu sudah terbangun dari tadi dan aku yakin kamu sudah mendengar semua percakapanku."

Sial! Baru saja aku ingin membuka selimutku namun suara itu justru membuatku terlonjak saking kagetnya. Nyaliku menciut seketika.

"Pasti banyak yang ingin kamu tanyakan, hmm?" Bang Arka membuka perlahan selimut yang sejak tadi ku tutupkan pada seluruh tubuhku hingga kepalaku terbenam di dalamnya.

Lelaki itu duduk di sampingku dengan sebelah tangannya memegang lenganku.

Wajah itu, meski aku yakin saat ini dia belum mandi, tapi terlihat sangat tampan. Dan yang terpenting, dia milikku.

Aku justru meringis saat memaksakan tersenyum di hadapannya. Sungguh sulit membohonginya. Apalagi jika sudah tertangkap basah begini.

"Abang sudah bangun dari tadi?" Tanyaku berbasa-basi sambil menyandarkan tubuhku ke kepala ranjang.

"Seperti yang kamu dengar sendiri." Bang Arka mengulum senyumnya.

Double sialan! Dia menyindirku.

Merasa tidak bisa menghindari lagi atau sekedar menutupi malu, akhirnya aku memutuskan saja langsung bertanya tanpa sungkan lagi.

"Berapa orang?" Tanyaku langsung tepat sasaran. Aku yakin Bang Arka mengerti maksudku.

BERITAHU MEREKA!!! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang