TUJUH PULUH SATU

35 5 0
                                        

"Hmm bisa dipertimbangkan sih Win. Menurut Pak Fabian bagaimana? Saya harus menolak atau malah menerimanya Pak?" Aku mengalihkan pandanganku dan meminta pertimbangan Bang Arka.

Aku benar-benar ingin mengetahui reaksi Bang Arka terhadap masalah ini. Sungguh bibirku kelu saat mendengar sindiran-sindiran yang terus dilontarkannya. Dan entah kenapa setiap ucapannya seakan memojokkanku. Apa dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya?

Padahal aku yakin, melihat dari wajah dan matanya, kata-kata yang diucapkannya justru membuat hatinya bertambah sakit. Tidak bisakah kita saling menunggu dengan tenang Bang? Tanpa harus selalu saling menyakiti?

"Saya yakin kamu punya pilihan terbaik untuk dirimu sendiri Mikha. Semua itu tergantung komitmen yang kamu ambil," Bang Arka menatap sendu padaku, "dan semua tergantung hatimu." Imbuhnya lirih.

Aku terdiam mendengar semua itu. Nah, benar kan, aku yakin kamu pun tak rela Bang. Makanya, lebih baik jangan memancing di air yang keruh. Simpan saja energimu untuk menekan rasa rindu kita.

"Saya yakin sama hati saya Pak." Dengan tegas ku jawab. Berharap jawabanku bisa memuaskannya dan setidaknya memberi ketenangan pada Bang Arka.

Ting... Pintu lift terbuka di lantai satu, tepat di sisi kiri lobi jurusanku. Winda, setengah menyeretku, mengajakku keluar dari lift dan berjalan mendekati lobi. Bang Arka menyusul dibelakang kami.

Entah setan apa yang merasukinya, sesampainya di depan lobi, tiba-tiba saja dengan lantangnya Winda berteriak.

"Cieeee.. Bakalan ada yang resmi jadian nih. Ihiiirr... Woooyy, Kay sama Kak Aldrich mau jadian nih."

Sontak saja seluruh mata memandang ke arah kami. Wajahku berubah pucat pasi. Rasanya darahku tak mengalir di sisi kepala sampai wajahku. Mendadak terasa kebas.

Aku membungkam mulut Winda yang tanpa saringan itu, memberinya tatapan tajam. Dari sudut mataku aku melihat Bang Arka sempat terhenti langkahnya.

Dengan tanpa malu, Winda malah membalik badannya sambil berbicara layaknya teman akrab pada Bang Arka.

"Pak Fabian, disini aja, kita sorakin Kay biar cepet jadian sama Aldrich." Matanya berbinar saat menatap Bang Arka.

Entah hanya perasaanku saja atau apalah namanya, tapi Winda seakan menjadi genit saat dihadapan Bang Arka. Sial, apa dia menyimpan rasa pada Bang Arka?

Aku yang tahu emosi Bang Arka sedang tidak baik, tak menanggapi apapun yang diucapkan Winda. Aku lebih baik menyumpal mulutnya itu dengan tanganku dan membawanya pergi menjauh.

"Begitu ya? Saya lebih baik pergi saja. Permisi Winda, Mikha, saya duluan. Kalian teruskan saja permainan menyenangkan ini." Ujar Bang Arka memberi tanggapan. Wajahnya dingin meski ada senyum dibibirnya.

Entah kenapa, aku melihat senyumannya itu tak ubahnya seringai yang mengancam. Sangat menakutkan.

"Pak Fabian gak asyik nih." Cibir Winda. Whoa... Aku sunggu kagum pada keberanian mulutnya yang ceplas ceplos itu, entah apa yang ada di otaknya saat mengatakan itu pada dosennya. Membayangkannya saja aku ngeri.

"Jadi Kay udah punya jawaban buatku nih?" Tiba-tiba saja muncul suara dari arah lift yang menghentikan semua pergerakanku, Bang Arka dan Winda.

Serempak kami menoleh ke arah suara itu dan tiba-tiba riuh suara sorakan menggemandi lobi jurusan ku.

Double sialan! Kenapa waktunya pas sekali sih?

Aku langsung membalik badan, berusaha menghindari pertemuan mendebarkan ini. Aku melirik sekilas ke arah Bang Arka, wajah dinginnya semakin dingin dan mungkin tanpa dia sadari tangannya refleks mengepal. Astaga, jangan sampai ada tindakan impulsif dari Bang Arka yang bisa membuka kedok kami!

BERITAHU MEREKA!!! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang