"Mikhayla."
Aku membalik tubuhku saat telingaku menangkap suara yang memanggil namaku. Tubuhku sontak terdiam, kaku dengan mata membuka lebar.
Astaga! Dia lagi? Apa yang membuatnya memburuku sampai ke sini? Dengan gugup aku melirik ke kiri dan kananku. Aku yakin sebentar lagi aku jadi pusat perhatian.
Belum selesai rasa kagetku, tiba-tiba saja pipiku terasa panas seperti terbakar dan tubuhku terasa terhantam ke belakang. Beruntung Aldrich dan Winda masih ada di balik punggungku, dengan sigap mereka menahan berat badanku hingga aku hanya terhuyung sesaat, tak sampai terjatuh.
Seketika kepalaku terasa berputar, aku terlalu kaget dengan gerakan yang dengan cepat terjadi di depanku. Perih di pipiku seketika menjadi nyeri.
"Dasar wanita jalang! Gak tau malu! Beraninya menggoda suamiku! Gak tau diri!" Belum selesai rasa sakit di pipi, kini bentakan wanita yang sedang menggendong bayi di hadapanku langsung membuat nyeri sekujur tubuhku.
Inilah ketakutanku selama ini. Inilah mimpi burukku yang tak ingin ku hadapi dan nyatanya malah sekarang terjadi tepat di jurusanku.
"Jangan sembarangan menampar orang! Anda kasar sekali. Seenaknya saja menuduh kekasih saya." Suara Aldrich mencoba membela.
Hah kakak senior tampanku, ia benar-benar menjadi tameng hidupku. Meski pembelaannya tidak tepat sasaran ku bilang.
"Heh, jangan ikut campur kamu ya. Kamu tidak tahu siapa wanita ini. Dia itu pelakor! Perebut suami orang! Dia membuat suamiku berpaling. Dia membuat suamiku meninggalkan aku tepat disaat anak kami baru saja lahir beberapa jam. Dia wanita jalang!" Hatiku nyeri mendengar bentakan dari wanita itu. Kata-kata kasar wanita itu sangat menyayat hatiku. Wanita yang aku tahu pasti siapa dia. Wanita yang mengatakan kebenaran meski tak sepenuhnya benar.
Aku tak merebut suaminya, semua berjalan tanpa rencana. Aku tak menyuruhnya meninggalkannya, tapi suaminya dengan sadar melarikan diri. Aku bahkan tak tahu dia sudah beristri di hari pertama pertemuan kami. Aku sungguh tak merebutnya tapi aku memang mencintai suaminya. Suami Adinda, wanita yang sedang menggendong bayi di depanku, wanita yang telah menamparku dengan sekuat tenaga.
Air mataku luruh mendapat kata-kata pedas itu. Sakitnya tamparan tak sebanding dengan rasa sakit hatiku mendengar ucapannya.
"Kak Al, sudah. Aku baik-baik saja." Bisikku lirih sambil menatap mata Aldrich.
Winda memeluk erat tubuhku. Tangannya tersampir di bahuku dengan sebelah tangannya mengusap lembut lengan kiriku. Entah apa jadinya aku jika tak ada kedua manusia langka ini. Mereka tahu aku salah, tapi mereka membelaku. Padahal aku belum sepenuhnya menjelaskan masalahku.
"Heh wanita jalang, dimana kamu sembunyikan suamiku, hah?" Teriak Adinda padaku. Matanya melotot dengan muka merah.
Mulutku terdiam tak bisa mengeluarkan kata sekedar untuk membela diri. Aku melirik bayi merah dalam gendongannya. Astaga, dia tidak bersalah. Mengapa aku bisa merebut semua yang harusnya bayi mungil itu dapatkan? Aku menjelma menjadi pencuri, yang mengambil kasih sayang dan perhatian sang Ayah. Aku lah penjahat itu! Ku tahan perih di mataku saat air mataku mulai merangkak naik.
"Lha tante ini aneh deh, nanya suaminya kok ke orang lain. Nah situ kerjaannya ngapain aja kok nanya suaminya ke teman saya? Emangnya kita satpam!" Kali ini si mulut los ikut bersuara. Aku ingin tertawa sebenarnya mendengar kata-katanya itu. Dia memanggil Adinda tante!
"Heh, enak aja manggil tante! Harusnya kamu tuh sebelum membela temanmu, kenali dulu siapa dia. Dia ini wanita gak benar. Dia itu penggoda. Dia itu suka tidur dengan suamiku! Dasar murahan!" Suara Adinda terus mengiris hatiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
CintaSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
