ARKA POV
Aku sedikit berlari saat kelas pertamaku pagi ini usai. Hari ini aku seakan diburu oleh waktu. Beragam kegiatan saling berjajar, antri dengan rapi untuk ku hadiri.
Segera ku tuju mobilku untuk bergegas pergi ke perusahaan. Rendi sudah menghubungi aku sedari tadi hanya untuk mengingatkan rapat yang harus ku hadiri sejam lagi.
"Pagi Pak."
Ah shit! Sepagi ini kenapa suara ini sudah sangat menggangguku? Dan aku sangat hafal siapa pemiliknya.
"Pagi." Jawabku dengan enggan tanpa menolehkan badanku.
"Bisa kita bicara Pak?" Pemilik suara itu sungguh tak peka, apa dia tak tahu aku enggan bertemu dengannya.
Dengan terpaksa aku berbalik dan menatapnya.
"Urusan pribadi atau kuliah?" Tanyaku ketus. Entah kenapa bayangan dia memeluk istriku selalu menari-nari tepat di pelupuk mataku.
"Pribadi Pak." Jawabnya tenang. Ah bocah sialan ini, kenapa sangat tenang sekali? Mencurigakan!
"Panggil aku Abang, jika masalah pribadi." Sahutku masih ketus.
Dan kemudian aku merutuki mulut bodoh ku. Kenapa juga aku mengatakannya? Ah sial, harusnya hanya Mikha yang boleh memanggilku Abang.
Nah kan, bocah ini pasti mencibirku sekarang, lihat saja mulutnya yang sedang menahan senyum itu. Jika tidak mengingat silsilah keluarganya, sudah ku hajar dia sejak dulu.
"Baiklah," Dia menahan nafasnya sejenak, "bang." Imbuhnya sambil memanggilku dengan canggung.
"Katakan, ada apa?" Cercaku.
"Bang, bahagiakan Kay." Aku mengernyit mendengar ucapannya.
"Tanpa kamu minta aku pasti melakukannya."
"Maksudku pasti Abang tahu."
Aku semakin mengernyit mendengarkan ucapannya. Ada apa sebenarnya?
"Bang, Kay tidak setegar dan seberani itu. Dia akan menyimpan lukanya untuk dirinya sendiri. Dia akan sangat melindungi apa yang dicintainya. Dalam hal ini adalah Abang." Hatiku bergejolak mendengar ucapan bocah ini. Astaga, bagaimana bisa dalam waktu singkat dia bisa mengenal karakter Mikha-ku dengan sangat tepat.
Cinta apa yang sebenarnya dia punya untuk istriku?
"Apa maksudmu?" Aku sedang tak ingin bermain teka teki.
"Istri Abang, ah bukan, maksudnya mantan istri Abang atau entah apalah itu hubungan kalian, wanita itu masih mengincar Kay. Aku harap Abang menyelesaikan semua itu dengan baik. Aku tak ingin Kay tersakiti terus menerus. Cukup sekali aku melihatnya menampar Kay. Jika itu terjadi lagi di depan mataku, aku pastikan akan membalasnya. Tak peduli dia wanita atau ibu dari anakmu atau dia wanitamu. Siapapun yang menyakiti Kay, maka aku akan membalasnya meski Kay tak menginginkannya." Emosiku tersulut mendengar ucapan bocah ini.
Brengsek! Bagaimana bisa dia seenaknya mengatakan itu. Tentu saja aku tak akan membuat istriku terluka secara fisik atau batinnya.
"Kau--" Amarahku sudah hampir meledak saat ucapanku dihentikan olehnya.
"Aku tak berniat merebut Kay. Aku sudah kalah sejak awal. Cintanya untukmu sangat besar, hanya saja dia selalu ragu. Tapi aku tahu hatinya hanya untukmu, Bang. Jadi, jagalah dia. Bukan hanya aku yang menginginkan istrimu, tapi banyak lelaki di jurusan ini yang menaruh hati padanya." Mataku membelalak saat mendengar penuturannya.
Astaga, berita baru apalagi ini? Siapa saja yang menyukai istriku? Berapa banyak yang mengincar Mikha-ku? Oh shit, haruskah aku memindahkan kuliahnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomansaSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
