Pikiranku melayang seiring dengan debaran jantungku yang masih bertalu tanpa malu. Aku terdiam dalam keheningan, menatap tubuhku dalam balutan gaun putih selutut yang sangat manis kala ku kenakan.
Rangkaian bunga indah nan wangi ku pegang dengan erat, seakan jika tidak menggenggamnya maka tubuhku akan limbung. Rambutku disisir rapi dengan beberapa kepangan dan gulungan serta dihias sedemikian rupa.
Jemariku bergetar dalam genggaman telapak tangan yang lebar. Telapak tanganku membeku diiringi perubahan suhu. Dingin, aku merasa sangat dingin meski kondisiku tidak sedang demam. Kepalaku terus menunduk menatap ujung sepatuku, mencoba menenangkan jiwaku yang tengah bergejolak.
"Giliranmu sayang." Suara baritone yang rendah, ku dengar berdendang di dekatku.
Namun mataku, masih enggan beranjak dari ujung sepatuku.
Menit pun berlalu tanpa ku sadari.
"Ehm.." Giliran suara berdeham yang dalam mencoba menarikku kembali ke kesadaran.
Namun lagi-lagi, suara itu tak mampu membawaku kembali ke kenyataan. Meski pada kenyataannya aku mampu mendengarnya. Entahlah, aku masih berusaha mengumpulkan serpihan pikiranku yang kacau.
"Kay.. Kay.." Lagi dan lagi, banyak suara yang memanggilku
Genggaman di tanganku juga ku rasakan semakin menguat.
"Kay!!" Suara panggilan yang lumayan keras muncul di sisi telinga kananku.
"Yaelah ni anak! Hoi, Nyonya Fabian Arkananta!!"
Deg.
Deg.
Deg.
Laju debaran jantungku mencapai puncaknya saat mendengar suara itu memanggilku. Saking kencangnya hingga ada sedikit rasa nyeri yang menjalar. Tanganku mencengkeram telapak tangan yang sedang menggenggamku. Jangan sampai aku serangan jantung saat ini, ku mohon.
Perlahan mataku menatap pemilik suara yang telah membuyarkan lamunanku. Aku tetap bergeming menatap wajah yang kini tersenyum lebar di sisi kananku. Aku mengenalnya meski belum terlalu lama. Dia gadis baik tanpa filter mulut. Winda, sahabatku.
"Ini buruan ambil cincinnya. Yaelah Kay, pegel banget nih tangan dari tadi kayak gini terus," Oceh Winda dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil mengangkat nampan yang diatasnya ada kotak merah muda cantik berisi satu cincin di dalamnya. Di samping Winda ada Kendrick yang cengar-cengir memperhatikan aku. Astaga, dia mengejekku!
Eh tunggu, kok hanya satu cincin? Otak minimalisku mencoba mencernanya.
"Astaganaga! Dia ngelamun lagi. Woi Kay! Sadar napa?! Ini pasang cincinnya, ditungguin noh sama suamimu." Imbuh Winda dengan mata bulat yang tampak kesal dengan respon ku.
Suami? Apa Winda baru menyebut suami?
Deg.
Deg.
Deg.
Jantungku kembali bertalu dengan sangat kencang.
"Sayang." Kesadaranku tertarik mendengar suara itu. Mataku memfokuskan pandangan padanya.
Suami. Astaga ini benar-benar kenyataan. Kini otakku sudah mampu menangkap semua bayangan itu. Aku telah mampu mengumpulkan serpihan kesadaranku yang tadi sempat tercecer entah kemana.
Benar kata Winda tadi, aku tak lagi hanya sebagai Mikhayla Putri Sanjaya, tapi kini aku juga berstatus Nyonya Fabian Arkananta Syahputra. Tepatnya sejak lima belas menit yang lalu.
Semua berjalan cepat hingga membuatku melayang. Otakku kembali berputar pada kejadian beberapa jam yang lalu. Dimana kakiku terasa terbang saat Ibu dan Mama menarikku kesana kemari dengan banyak riasan dan hiasan yang kini ku kenakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomanceSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
