ENAM PULUH SEMBILAN

36 5 0
                                        

Sudah hampir sebulan ini Bang Arka memenuhi janjinya untuk menjauhiku. Ada rasa rindu yang menyusup di kalbu. Hari-hati yang ku lalui terasa begitu lama dan hampa. Bukannya tidak pernah bertemu dengan Bang Arka, kami sering bertemu, jelas saja karena Bang Arka adalah dosenku.

Nyatanya, saat bertatap muka dengannya kami laksana dua orang asing dan memang inilah yang diharapkan. Namun tetap saja, rasa rindu ini menggerogori hatiku. Aku rindu kekasihku! Aku rindu Pak Fabian Arkananta Syahputra.

Sedangkan hubunganku dengan Aldrich masuk dalam fase canggung. Entah apa yang memicunya. Aku ingin sekali mencairkan suasana ini namun aku belum menemukan waktu yang pas untuk berbicara dengan Aldrich. Dan lagi, aku belum mengucapkan terima kasih padanya atas bantuannya tempo hari.

Hari ini juga jadwalku melepas gips di kakiku. Hah akhirnya, setelah sebulan tersiksa dengan keterbatasan gerakku. Selama aku menggunakan gips, Mama menjadi bodyguard dadakan untukku. Mengantarkan dan menjemputku kemana pun.

"Ma, hari ini lepas gipsnya habis Kay kuliah ya. Nanggung nih hari ini jam kuliahnya langsung, gak ada jeda." Aku bersuara saat kami semua berkumpul di meja makan pagi ini.

"Memang jam berapa kuliahmu?" Papa menimpali.

"Jam 8 sama jam 10, Pa." Aku menjawabnya sambil memasukkan nasi goreng buatan Mama.

"Kalau gitu hari ini kamu bareng Papa aja ya Kay berangkatnya. Ntar Mama yang jemput kamu terus kita baru ke Rumah Sakit lepas gipsnya." Mama memberikan idenya.

"Terserah sih, siapa aja yang mau anterin Kay. Kalau gak ada yang anterin, Kay minta jemput Bang Arka juga gak masalah." Aku terkekeh saat mengatakannya, namun hatiku mendadak pilu saat menyadari itu semua tidak mungkin.

"Jangan main api Kay." Suara bariton Papa terdengar dingin saat menanggapi gurauanku.

"Becanda Papa sayang. Dih gak bisa diajakin nyantai nih." Gerutuku.

"Udah... Udah... Sana cepat berangkat. Keburu telat lho." Mama menengahi pertengkaran yang mungkin terjadi jika aku dan Papa terus mengadu ego kami.

Ya, meski Papa terlihat menyetujui hubunganku, tapi sesungguhnya aku tahu, Papa tidak akan semudah itu melepaskanku untuk Bang Arka. Aku tahu, trauma yang dialami Papa akan berimbas padaku dan memang seharusnya aku juga menahan diriku.

"Ayo berangkat Kay." Suara Papa membuyarkan lamunanku dan aku menganggukkan kepala.

Segera aku membereskan keperluanku dan berpamitan pada Mama. Aku memasuki mobil Papa dan kami meluncur menuju kampusku.

"Papa, maafkan Kay. Selama ini menyusahkan Papa dan Mama." Aku memecah keheningan di dalam mobil.

Entah kenapa, aku merasa belum mengucapkan permohonan maafku pada Papa dengan cara yang benar. Sejak hari Bang Arka mengungkapkan hubungan kami, aku selalu menghindari berbicara dengan Papa. Aku terlalu takut dan malu menghadapi cinta pertamaku itu.

"Apa ada yang harus Papa ketahui lagi? Ada kejutan apa lagi yang pingin kamu beri?" Sarkas Papa. Nyaliku langsung menciut.

"Kay sayang Papa. Kay merasa sudah membuat Papa kecewa dengan hubungan Kay ini. Sebenarnya, Kay merasa nyaman dengan Bang Arka, karena Kay melihat Bang Arka yang memperlakukan Kay seolah Kay ini barang berharganya. Sama seperti perlakuan Papa ke Kay." Aku mengakui perasaanku di hadapan Papa dengan malu-malu. Ini pertama kalinya. Biasanya aku melakukannya dengan Mama.

"Ah omong kosong! Papa selalu menjadi yang terbaik untukmu." Ujar Papa tak mau kalah.

"Papa terbaik, kemudian Kak Farel dan Bang Arka yang terakhir." Aku lebih baik mengalah saja tapi memang itulah kenyataannya.

BERITAHU MEREKA!!! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang