Kakiku melangkah memasuki mobil dengan pengawalan dari Ayah dan juga Papa. Otakku rasanya masih membeku mengingat kejadian tadi. Kejadian yang menohok tepat di jantung hatiku.
Inginku menertawakan yang telah terjadi, tapi ada sedikit nyeri yang memeras jiwaku. Aku ini hanya anak yang dilahirkan sebagai penebus kebebasan wanita yang katanya telah melahirkanku.
"Mikha, maafkan Ayah ya. Bukan maksud Ayah menjauhkanmu dari Abangmu. Tapi temperamen Arka..." Ayah menggantung ucapannya.
Suara Ayah menarikku kembali ke kenyataan. Dan aku tersenyum kala mendengar ucapan itu.
"Kay tau Yah, tenang aja. Pengendalian emosi Abang emang cuma sebatas jarak dari angka satu sampai tiga." Aku terkekeh membayangkan raut wajah Bang Arka.
Ah suamiku itu, tidak pernah bisa menahan amarahnya dengan baik. Mudah sekali menyulut emosinya.
"Bahkan jika sampai ke angka tiga aja itu udah bagus banget. Biasanya baru satu setengah aja udah meledak-ledak si Abang." Aku kembali menertawakan suamiku.
Astaga! Istri macam apa aku ini? Tapi memang seperti itulah Abang. Kini aku mulai terbiasa dengan semua itu. Meski ada takut saat melihatnya menggila -jika mengambil istilah Kendrick- tapi jika bukan karena kesalahanku, aku sih biasa saja.
Dan suara tawa Ayah menyahut ucapanku.
"Maafkan Arka, Pak Farhan. Sejak dulu, emosinya susah dikendalikan. Baru-baru saja ini saat dekat dengan Mikha, dia mulai bisa dijinakkan." Terselip sungkan dalam suara Ayah.
Namun justru aku yang sekarang menahan tawa. Dijinakkan? Astaga Ayah, pemilihan katanya sangat... Luar biasa!
"Tidak hanya Arka saja, jika tidak ingat ada Kay, dalam situasi seperti tadi, saya bahkan bisa membalik meja tadi Pak William." Papa menyahut ucapan Ayah dengan tawa yang mengiringi. Dan Ayah menanggapinya dengan tawa yang tak kalah kencang.
Aku menatap kedua lelaki itu dengan takjub. Astaga, bagaimana bisa dalam situasi ini mereka masih bisa menertawakan keadaan.
"Tapi, Arka tidak pernah menyakitimu kan, Mikha?" Aku melirik ke arah Ayah yang menatapku penuh selidik.
Oh gosh, apa yang dipikirkan Ayah sih? Bagaimana bisa dia mencurigai anaknya sendiri? Dan aku sangat paham maksud ucapannya itu.
"Abang gak pernah main tangan Ayah. Abang itu lembut, gak pernah kasar, hanya saja pengendalian emosinya memang, ya Ayah dan Papa tau sendiri kan seperti apa. Tapi jika tidak ada yang menyulut amarahnya, Abang akan baik-baik aja. Kay pernah melihat Abang marah, tapi memang alasan kemarahan Abang itu sesuai. Abang gak suka kalau miliknya diganggu orang lain. Kalau udah kayak gitu, gak perlu waktu lama bagi Abang untuk menggila." Ups aku keceplosan.
Sontak Papa menatapku tajam. Astaga mulut, tolong kondisikan dirimu! Aku merutuki kecerobohan mulutku saat terbuka!
"Jaga sopan santunmu Kay. Arka suamimu." Nah kan, Papa sudah mulai emosi juga.
"Maaf Pa, Yah. Kay lama-lama terbiasa mendengar Kak Ken ngomong gitu kalau Abang marah." Aku menunduk saat berbicara.
Sumpah, aku lebih takut pada kemarahan Papa.
"Hahaha tenang saja Pak Farhan. Hal seperti itu malah membuat rumah tangga mereka nantinya penuh bumbu cinta. Benar kan Mikha?" Ayah melirikku sambil menaikkan sebelah alisnya.
Yes, aku mendapat sekutu! Terima kasih Ayah. Aku tersenyum menanggapi.
"Ingat Kay, kamu sudah menikah. Suamimu adalah pakaianmu. Dan kamu adalah pakaian suamimu. Jadi, saling menjaga dan menghormati." Papa memberikan petuah yang sama, yang sudah berkali-kali ku dengar sejak aku resmi menyandang gelar istri.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
عاطفيةSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
