Mataku terbuka saat ku rasakan panasnya mentari mulai merambat di tubuhku. Ah sial, jam berapa ini? Ku lirik jam dindingku dan itu sukses membuatku langsung terduduk.
Ah gila, sudah sesiang ini dan aku baru bangun? Istri macam apa aku ini yang bahkan suaminya pergi bekerja saja tidak tahu.
Tapi pernikahan dadakan ini memang masih menyisakan kecanggungan untukku. Aku merasa belum terbiasa dengan status baru kami, yang entah bagaimana caranya bisa langsung terdaftar di catatan sipil. Padahal proses perceraian suamiku dengan istri pertamanya masih berlangsung.
Hah, istri pertama ya? Seketika hatiku sedikit panas. Aku cemburu.
Ku buka kunci ponselku -yang tentu saja dibuatkan polanya oleh suamiku- dan melihat beberapa pesan dari suamiku. Aih romantis! Inilah salah satu alasan aku menyukai pernikahan ini, meskipun nyatanya aku belum siap.
Suamiku, Bang Arka-ku membuatku selalu melayang setiap harinya. Dia lebih romantis sejak menikah.
Ku tatap wallpaper di ponselku. Foto saat pernikahanku dengan Bang Arka dengan formasi lengkap. Ada Mama, Papa, Ayah, Ibu dan tentu saja, Kak Farel.
"Selamat siang Kak. Bagaimana disana? Semoga kamu selalu bahagia Kak. Pasti kamu bahagia, karena udah gak terasa sakit lagi kan? Kay juga memutuskan untuk menata hati. Ada seseorang yang membutuhkan kehadiran Kay, jadi mulai hari ini, Kay mau fokus untuk membahagiakan dia. Kakak gak boleh cemburu ya, kan ini juga keinginan kakak. Kak, Kay sayang kamu." Ucapku bermonolog sambil menyentuh wajah kakak di layar ponselku.
Baiklah, semangat Kay. Ini hari baru, status baru dan kehidupan baru. Apapun yang terjadi, roda kehidupan terus berputar. Jadi hadapilah Kay! Dewi batinku terus berteriak lantang mengobarkan semangatku.
Segera ku bersihkan diri. Niatku siang ini ingin memberi kejutan untuk suamiku. Aku sudah bisa membayangkan wajah bahagianya saat melihatku nanti.
Segera aku turun ke lantai satu saat semua kebutuhanku sudah selesai ku siapkan. Ku lihat Mama sedang berkutat di dapur.
Ya, benar. Aku masih di rumah orang tuaku, aku memutuskan untuk tinggal disini sejak kematian Kakak. Aku sungguh tak tega melihat Mama dan Papa jika aku harus keluar dari rumah ini secepatnya. Untungnya Bang Arka tidak keberatan.
"Selamat siang Mama cantik."
Praaanng..
Mama terlonjak mendengar sapaanku dan tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang dipegangnya saking terkejutnya. Aku merasa bersalah, namun tak urung aku tersenyum melihatnya.
"Astaga Kay. Mengagetkan Mama." Ucap Mama sambil mengusap dadanya.
Aku terkekeh melihatnya. Kakiku bergerak menghampiri Mama yang sudah keluar dari kepungan pecahan gelas tadi. Bi Atik dengan sigap membersihkannya.
"Makasi ya Bi." Ujar Mama sambil membawaku menjauh. Dan Bi Atik tersenyum.
"Kay, berangkat ke kampus dulu ya Ma. Jam 1 nanti ada kuliah." Ujarku sambil ikut duduk di samping Mama, di ruang keluarga.
Tanpa menanggapi ucapanku, Mama langsung memelukku erat.
"Makasi sayang. Makasi sudah kembali lagi. Kamu hampir membuat Mama frustasi saat melihatmu begitu terpuruk. Makasi sudah mau menemani Mama dan Papa lagi. Dan juga, menemani suamimu." Mama menangis di balik punggungku, masih dengan memelukku erat.
Ah ternyata mereka semua merasa terluka saat melihatku meratapi kematian kakak. Betapa bodohnya aku, melupakan mereka yang menyayangiku di sini. Maafkan Kay, semuanya.
"Ma, maafkan Kay ya. Hanya saja, kemarin--" Aku tak sanggup meneruskan ucapanku.
"Semua akan terasa berbeda Kay. Tapi kita tetap harus bangkit. Hidup terus berputar, kita tidak bisa berhenti di waktu ini. Ingatlah pesan kakakmu Kay. Dia ingin kamu bahagia sayang, dia tidak ingin kamu terus bersedih." Dan luruhlah air mataku mendengar ucapan Mama.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomansaSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
