"Wah kafe ini bagus sekali, Kak." Aku terus mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kafe yang baru saja ku masuki bersama Aldrich.
"Ayo." Suara ajakan singkat dan dingin dari Aldrich membuatku tersadar dan segera mengekori lelaki itu menuju meja di ujung ruangan.
Di sinilah kami sekarang. Duduk berhadapan dan sedang memegang buku menu. Namun bukannya segera memilih menu, yang ku lakukan adalah menutup wajahku dengan buku menu itu.
Bagaimana tidak, di kafe yang sejuk dan teduh ini, sebagian besar dari pengunjungnya aku yakini sebagai mahasiswa di Universitas yang sama denganku. Aku khawatir jika sebagian dari mereka akan melaporkan aku yang ketahuan membolos. Bisa saja kan?
"Kenapa kamu seperti itu? Apa yang coba kamu tutupi?" Suara Aldrich menyudahi lamunanku. Tangannya segera merebut buku menu yang ku gunakan untuk menutupi mukaku tadi.
"Kak, itu semua mahasiswa kampus kita kan? Nanti kalau aku ketahuan di sini gimana?" Tanyaku lirih.
"Kamu lupa di sini sama siapa?" Dih songongnya! Suara sombong Aldrich langsung membuat wajahku masam.
Hatiku bergemuruh menahan kesal. Sudah sebulan ini aku menahan kesal setiap kali lelaki di hadapanku ini membuka mulutnya.
"Maka dari itu, Kak. Karena aku bersamamu, gimana kalau sampai teman-teman ada yang tahu aku disini?" Aku terus meluncurkan protesku.
Dengan santainya Aldrich malah melihat jamnya.
"Tenang aja, mereka belum pulang. Lagian hari ini ada agenda pembagian dosen pembimbing akademik. Kemarin pihak kemahasiswaan meminta waktu sejenak saat ospek hari ini untuk mengumumkan itu." Aldrich menjelaskan.
Aku sedikit lega saat mendengar kemungkinan kecil akan ketahuan disini bersama seniorku di jam kegiatan masih berlangsung. Namun seketika otak minimalisku mengingat sesuatu.
"Nah kalau sekarang pembagian dosen pembimbing akademik, gimana denganku kak? Aku gak dapat dosen pembimbing dong." Seruku dengan suara agak meninggi.
"Santai aja, Mikhayla. Nanti aku lihatkan. Toh nantinya pengumuman itu juga dipajang di papan pengumuman jurusan." Aldrich menjawab dengan santai. Aku membelalakkan mata, terkejut dengan penjelasannya.
"Kalau akhirnya akan dipajang, kenapa kami mahasiswa baru dikumpulkan?" Tanyaku yang mulai penasaran dengan alasannya.
"Biar seru aja. Kalian kan masih agak takut sama para senior, jadi ngumpulin kalian tuh lebih gampang dan lebih seru aja." Hah? Aku melongo mendengar penuturan Aldrich.
Mengumpulkan para mahasiswa baru untuk sesuatu yang sia-sia itu seru? Yang benar saja! Apa sih yang ada dipikiran lelaki ini. Aku menatapnya nyalang. Rasa kesal kembali membuncah di dadaku.
"Jangan ngelihatin kayak gitu, ntar matamu menggelinding lho. Buruan cepet mau pesen apa. Aku kelaparan ini habis neriakin kalian tadi." Suara songong Aldrich kembali terdengar, menarikku dari sumpah serapah yang aku lontarkan untuknya di dalam hati.
Aku melengos, enggan menatapnya.
"Ya udah, aku pesankan yang sama aja kayak aku aja ya, anggap aja ini perlakuan khusus yang kamu dapatkan dariku." Ujar Aldrich sambil terkekeh.
Aku segera memalingkan wajahku, kembali menatap nyalang pada lelaki itu. Perlakuan khusus? Yang benar saja!
"Perlakuan khusus apa maksud kakak?" Tanyaku dengan nada masam.
"Nah kan sebulan ini kamu selalu menjadi orang yang mendapat perlakuan khusus dariku." Aldrich menjawab dengan sangat santai. Aku mendelik, tak percaya dengan yang baru saja ia ucapkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERITAHU MEREKA!!!
RomanceSepertinya semesta masih ingin bermain-main denganku. Setelah mengoyak hatiku, kini membuat perjalanan hidupku terseok-seok tak tentu arah. Saat aku mulai merasa lelah dengan semua ini, bayangan wajahnya terus menghantui. Bahkan ternyata dirinya p...
