TUJUH PULUH EMPAT

35 5 0
                                        

"Kak Ken, kok bisa sih Kakak gak tahu kalau temen Kakak itu juga ngajar di jurusan kita? Apa Pak Fabian juga gak tau kalau Kak Al adiknya Kak Ken?" Aku kembali mengorek informasi apapun yang bisa membuat hatiku lebih tenang.

Kini kami berempat sudah duduk di depan ruang dokter yang akan memeriksa aku dan Kak Al.

"Iya ya, kok bisa sama-sama gak tau sih? Aneh deh. Padahal kan wajah kalian sama. Sama-sama tampannya!" Seloroh Winda yang langsung disambut tawa kami semua.

Dasar ini anak, bisa-bisanya tebar pesona disegala kondisi.

"Kalian tanya tuh si Al. Udah bener belum nulis namanya? Aku yakin kalau dia nulis di data mahasiswa bener, pasti Arka juga bakal ngenalin siapa Al." Kendrick menjelaskan dengan penuh teka teki.

"Emang nama Kak Al siapa?" Nada suaraku penuh keingintahuan.

"Aku nyingkat nama belakangku. Hmm itu nama keluarga. Lebih sering gak aku tulis jika bukan untuk hal yang benar-benar membutuhkan nama lengkap." Aldrich akhirnya mengklarifikasi.

"Tapi Pak Fabian juga gak bakal mengenali aku sih. Selama kakak sahabatan sama dia, emang pernah kalian main ke rumah? Cih, aku yakin kalian lebih sering ketemu di apartemen kakak atau di bar mungkin? Karena aku tidak pernah melihatnya sekali pun." Suara Aldrich penuh sindiran.

Apa? Bar? Aku mendadak tegang. Apa selama ini kehidupan Bang Arka seperti itu? Bebas dan tanpa batas? Aku ngeri saat mendengarnya. Selama ini aku belum pernah bersentuhan langsung dengan hal semacam itu. Jadi ini sungguh mengagetkan aku.

"Hahahaha.. Kamu ini kenapa harus sewot sih Al? Semua orang punya kegemaran masing-masing kan? Yang penting tidak saling merugikan. Kakak juga masih perhatian sama kamu, buktinya lancar aja kan kucuran dana dari kakak?" Kendrick terkekeh saat mengucapkannya. Aku rasa, Kendrick orang yang sangat santai dalam menghadapi apapun dalam hidupnya.

"Kakak tuh harus merubah sikap Kak. Ingat umur. Ingat kesehatan. Ingat Mama Papa. Gak kasian apa sama mereka? Tiap malem kluyuran gak jelas." Aku mendongak saat Aldrich memberi penuturan pada kakaknya.

Ini siapa yang kakak, siapa yang adik sih? Aku tersenyum simpul saat menemukan sikap Aldrich yang selalu ingin menjaga orang-orang disekitarnya.

"Kalau di bar itu ngapain aja sih Kak?" Suara Winda langsung membuyarkan obrolan yang sedikit serius antara dua saudara itu.

Kami semua menoleh ke arahnya. Aku juga tidak tahu seperti apa keadaan Bar itu, tapi aku juga tidak penasaran. Yang aku pikirkan hanya bagaimana kehidupan Bang Arka sesungguhnya. Kehidupan yang tidak pernah dia ceritakan. Kehidupan yang sama sekali belum aku ketahui. Miris rasanya, saat aku mengakui mencintai lelaki itu, namun aku tak tahu sedikit pun tentang dirinya dan kehidupannya.

"Udah lebih baik kamu gak perlu tahu. Itu tuh--" Sergah Aldrich seketika. Ucapannya belum selesai saat suara Kendrick memotong.

"Wah jangan gitu Al. Itu tuh jawaban salah yang justru bisa jadi bumerang untuk mereka. Kalau gadis seperti Kay dan Winda gini mulai penasaran, kamu harus bisa menjelaskan bahkan menunjukkan dengan benar. Kalau kamu menutup akses mereka dan memberikan penjelasan yang salah, mereka justru akan penasaran dan mencari jawaban dari orang lain." Kendrick memotong ucapan Aldrich.

Aku menatap wajah Aldrich. Ia seakan tidak setuju dengan pendapat kakaknya. Hah, lucu sekali mereka ini. Kakaknya yang penganut kehidupan bebas dan adiknya yang bersifat kebalikannya, kira-kira seperti itulah gambaran yang ku dapatkan dari mereka ini. Sangat bertolak belakang.

"Bar itu tempat yang menjual minuman. Banyak yang mengandung alkohol. Selebihnya, jika pingin banget tau kehidupan disana, jangan pergi sendiri. Hubungi Aldrich, minta dia menemani, nanti Kakak juga akan menemani. Kalian berdua, tidak ku izinkan menginjakkan kaki di bar sendirian. Jika Al tidak mau mengantarkan, kalian langsung hubungi Kakak." Kendrick dengan santainya mengucapkan semuanya.

BERITAHU MEREKA!!! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang