SEMBILAN PULUH

49 6 0
                                        

"Selamat siang sayang."

Aku menggeliat saat merasakan sentuhan hangat di kepala dan pipiku. Sayup ku dengar suara yang tak asing menyapa gendang telingaku. Namun mataku masih terasa berat.

"Bangun, Mikha. Isi dulu perutmu, lalu kembalilah tidur."

Suara itu makin dekat di telingaku. Mataku mengerjap menyesuaikan banyaknya cahaya yang masuk. Aku merasakan geli saat hembusan nafas itu membelai lembut telingaku.

"Bangun sayang atau ku cium bibirmu hingga kau terbangun."

Aku tahu ini suara Bang Arka. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman ringan. Sungguh mataku terasa berat untuk dibuka. Ternyata begadang semalaman sangat tidak cocok untukku.

Cup..

Bibirku terasa basah dan hangat. Makin lama semakin basah dan bibirku tenggelam pada kedalaman ciuman yang sekarang terasa sangat menuntut. Aku memaksa mataku untuk terbuka.

Hal pertama yang ku tangkap dalam penglihatanku adalah wajah Bang Arka yang sedang terpejam matanya.

"Hmmpp.." Aku berniat memanggil Bang Arka tapi hanya terdengar serupa gumaman.

Ciuman itu berlangsung lama dan dalam. Hangat, bibir lelaki ini serasa candu untukku. Ku gantung lenganku di lehernya, aku turut masuk dalam ciuman itu.

Sudahlah, aku tak mau menutupi lagi isi hatiku. Jika Bang Arka pernah masuk dalam lembah hitam dan entah apakah benar-benar telah berubah, aku pun kini tak ingin munafik lagi. Tubuhku selalu merindukan belaian Bang Arka, hatiku terlalu rapuh untuk berjauhan dengannya, jadi mulai kini akan ku jalani semuanya apa adanya. Biarlah aku dibilang jalang oleh orang yang tak ku kenal, yang penting hati dan tubuhku bisa sejalan dan menikmati jalan cerita hidupku saat ini.

"Masih mau berciuman atau sarapan? Maksud Abang sarapan sekaligus makan siang." Bang Arka menghentikan ciuman panasnya dan menatap wajahku.

Ku pandangi terus wajah lelaki itu. Dia lelaki yang diinginkan hatiku. Lelaki beristri yang menjadikan aku berstatus simpanan. Tapi, masa bodoh dengan semua itu. Toh Bang Arka sendiri tidak pernah menyatakan aku simpanannya.

"Kay sayang Abang." Bukan jawaban atas pertanyaan Bang Arka, tapi ini pernyataan yang selama ini ku pendam dalam diam.

"Abang lebih mencintaimu, Mikha." Jawab Bang Arka tak mau kalah. Tapi aku merasa memang cinta yang ku dapat darinya sangatlah besar. Diusapnya bibirku yang masih basah.

"Kay mau di sini sama Abang. Kay kangen Abang." Aku menaikkan alisku, kaget sendiri dengan nada bicaraku yang sangat manja ini.

Cih, jangan bikin malu Kay! Dewi batinku menatapku nyalang.

"Udah berani minta macem-macem nih sekarang? Abang bukan orang yang sabar Mikha, Abang juga lelaki normal, kalau kamu mendadak manja dan menggemaskan kayak gini, jangan salahin Abang kalau langsung ku terkam."

Astaga! Apa yang dikatakannya? Aku segera menggeser tubuhku. Meski aku menikmati pelukan dan ciumannya, tapi untuk yang lainnya aku masih terlalu takut.

"Jangan asal ngomong deh Bang. Katanya sayang, masa mau diterkam? Kalau sayang harus sabar dong." Ujarku sambil menenangkan deru jantungku yang terus berpacu.

Bang Arka tiba-tiba terbahak mendengar ucapanku.

"Jika di masa lalu setan dalam diri Abang selalu menguasai jiwa, namun kali ini saat bersamamu, Abang ingin melakukan semuanya dengan benar Mikha. Abang memang tidak akan menyentuhmu Mikha. Leher ke bawah akan Abang sisakan untuk nanti jika kamu sudah ku miliki dengan resmi, tapi leher ke atas, akan Abang kuasai mulai hari ini." Ujar Bang Arka dengan seringai yang ku rasa sangat terlihat menyeramkan dan menggiurkan dalam satu waktu.

BERITAHU MEREKA!!! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang