SERATUS EMPAT PULUH

51 7 0
                                        

Aku bergegas mandi dan membersihkan tubuhku. Sedikit berendam mungkin akan meredakan debaran jantungku yang entah kenapa mendadak bertalu kencang saat mengingat ucapan Kendrick tadi.

Mungkin memang inilah saatnya.

Setelah puas berendam yang lebih lama dari biasanya, aku segera merapikan diriku. Ku poles sedikit wajahku dengan make up tipis. Sekedar memberi kesan segar saja.

Setelah ini, apa yang harus ku kenakan ya? Ah entahlah, memikirkan itu aku semakin gugup. Segera saja ku ambil seragam kebesaran saat aku bersantai di rumah, hotpants dan kaos tanpa lengan.

Aku terlalu malu jika menggunakan baju seksi. Dan aku terlalu gugup jika menggunakan gaun yang terlampau anggun. Lebih baik menjadi diri sendiri kan?

Drrtt.. Drrtt...

Ponselku berdering saat aku selesai melakukan semua ritual selepas mandiku. Segera aku mengangkat panggilan dari Mama.

"Kay, kamu gak kenapa-napa kan sayang? Kay, mana yang sakit nak? Ada yang luka? Ada yang berdarah? Kamu gimana sekarang sayang? Apa yang kamu rasakan? Cepat katakan pada Mama nak. Asal kamu tahu, Mama ini Mama mu Kay. Katakan sayang, apa yang saat ini kamu rasakan? Apa--"

Mama terus saja menyerangku dengan berbagai kalimatnya. Aku tersenyum mendengar semua itu. Mamaku mengkhawatirkan aku.

"Cepat katakan Kay!" Setengah berteriak akhirnya Mama menghentikan ucapannya.

"Kay mau jawab tapi Mama terus aja ngomong tanpa jeda. Gimana Kay bisa menyela Ma?" Ucapku sambil manyun.

"Oh iya maafkan Mama. Jadi gimana?" Mama belum menyerah mencercaku.

"Mama tenang aja, Kay baik-baik aja. Mama dan ibu teruskan saja menyiapkan segala keperluan resepsi Kay dan Abang. Kay mau yang terbaik ya Ma. Kay percaya sama Mama dan juga Ibu."

"Tapi kamu gimana sayang? Mama khawatir, Mama secepatnya pulang ya."

"Tenang Ma. Abang sebentar lagi pulang. Mama teruskan dulu keperluan Mama sama Ibu. Kay beneran gak kenapa-napa kok Ma."

Aku enggan bertemu Mama untuk saat ini. Bukan karena aku tak mau, tapi aku malu karena bisa ku pastikan aku akan menangis tersedu di hadapan wanita itu. Dan aku tak mau itu sampai terjadi. Hal sepele seperti itu, hanya akan membuat Mama semakin sedih dan berpikir yang macam-macam.

"Ah Mama lupa, anak Mama udah punya suami. Mama jadi rindu Kay kecil yang selalu mengekori Mama kemana pun."

"Idih, masa Kay kecil mulu Ma. Kapan ngerasain gedenya dong?"

"Wah, udah pinter sekarang ya. Oke deh kalau gitu. Mama mau jalan lagi sama Ibu. Kamu baik-baik dirumah ya. Kalau ada apa-apa telepon Mama. Ah dan jangan lupa, cepat lakukan kegiatan orang gede ya, biar Mama cepet dapat Kay dan Arka junior. Nanti biar ada lagi yang mengekori Mama kemanapun." Mama terbahak di seberang sana.

Tentu saja ada tawa lain yang menyahutnya, dan aku yakin itu suara Ibu. Eh tunggu dulu, kenapa suara tawanya ramai sekali ya? Astaga, apa mereka sekarang bersama Ayah dan Papa?

"Mama dimana sih? Kok ramai?" Tanyaku dengan rasa penasaran yang tak bisa dibendung.

"Emang cuma kamu yang bisa mesra-mesraan sama Abang. Dih, Mama juga bisa dong. Malam ini kamu jaga rumah ya. Jangan lupa pesan Mama, buatin Mama Kay junior. Mama sama Papa mau double date sama Ayah dan ibu. Kamu jangan ngiri. Mandi yang bersih, luluran dan pakai parfum. Nungguin suami pulang tuh harus udah cantik dan wangi. Oke sayang? Kalau gitu, udah dulu ya Kay, bye."

Belum juga aku menjawab atau merespon apapun ucapan Mama, panggilan itu langsung dimatikan.

Astaga, apa tadi Mama bilang? Double date? Apa mereka sedang puber kedua? Astaganaga!

BERITAHU MEREKA!!! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang