Didalam lift, Luna mengaktifkan kembali handphone-nya untuk mengecek jam. Pukul 10 lewat 15 menit. Ia cukup tak menyangka pembicaraan yang menurutnya singkat tadi ternyata memakan waktu dua jam.
Ada pesan yang masuk, namun ia enggan memeriksanya dan memilih untuk keluar dulu dari gedung. Begitu sudah berada diluar gerbang kantor, Luna baru membuka pesan dari aplikasi whatsapp yang dikirimkan oleh Miki.
"Luuuuuunnnn, belum selesai ya ketemuan sama Paman Agungnya? Kita mau jalan ke Mall Pondok Indah, nih. Lu mau nyusul jam berapa?"
Luna menghubungi langsung nomor telepon adik bungsunya itu, dan langsung diangkat. "Halo?"
"Lun, lu mau nyusul jam berapa?" tanya langsung Miki. "Udah selesai ngomong sama Paman Agungnya?"
"Udah, baru selesai. Kalian udah jalan?"
"Belum. Lagi, nunggu Karin turun nih dari kamar."
"Kalian jadinya mau ke Mall Pondok Indah? Ngapain? Barang-barang disana, kan mahal. Emang pada punya duit?"
"Kan jalan-jalan doang, enggak pakai belanja. Kalau makan, ada Karin yang janji bakal traktir." jawab Miki dengan mudah.
"Hmm, ya udah kalian duluan aja. Gua masih ada urusan yang harus diselesaiin. Gua hubungin lagi, kalau udah sampe mall."
"Emang abis ini, lu mau kemana lagi, Lun?" tanya Miki penasaran karena sepertinya hidup Luna begitu sibuk meskipun tujuannya pulang adalah untuk berlibur.
"Kepo! Udah ya. See you there." Luna memutuskan sambungan teleponnya. Berganti menghubungi nomor kekasihnya, Arga.
"Halo." terdengar nada tidak antusias dari si penerima telepon.
"Halo, Ga. Lu dimana?"
"Kenapa nanya gua dimana?"
"Masih di kos-an yang lama? Dekat kampus?"
"Hmm." jawab Arga, yang jelas masih enggan bicara dengan Luna.
"Gua kesana sekarang."
"Ngapain?" tanyanya.
"Mau ketemu sama lu."
"Iya, mau ngapain ketemu sama gua? Mau meluruskan pikiran gua?"
"Gua malas punya konflik berkepanjangan, Ga. Jadi, gua mau ketemu sama lu sekarang."
Tak ada jawaban dari Arga.
"Oke, gua jalan sekarang. Jangan kemana-mana." kata Luna sebelum akhirnya memutus sambungan teleponnya.
Ia melanjutkan perjalanannya menuju halte busway yang berjarak 5 meter dari gedung Pamannya.
***
Sesampainya di depan gerbang kos Arga, Luna bertemu dengan Pak Miko, sang pemilik kos, yang sedang menyiram tanamannya dengan selang. Pria berumur 55 tahun itu bergerak mendekati Luna saat melihat perempuan itu mengucapkan salam.
"Ya? Mau cari siapa, mbak?" tanya Pak Miko.
"Saya Luna, temannya Arga, Pak. Diminta datang sama Arga buat nganterin makanan." jawab Luna sambil menyunggingkan senyum ramahnya.
"Oh, ya ya." Pak Miko bergerak membukakan pintu gerbang bercat putih didepannya dan mempersilakan Luna untuk masuk. "Saya Pak Miko, pemilik rumah kos," pria itu menggerakkan tangannya untuk menyalami Luna, "Mau dipanggilin Arganya atau gimana, Mbak?" Tanya Pak Miko ketika Luna sudah duduk dibangku teras.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Sisters 2
General FictionPertemuan yang terjadi karena permintaan Paman Agung, membuat Karin, Luna, Reynata dan Miki harus menerima kenyataan kalau mereka adalah saudara dari satu Ayah yang sama. Hari demi hari mereka lalui dengan tenang dalam rumah yang diwariskan ole...
