'Tok tok tok !'
"Ki, bangun ! Katanya disuruh bangunin pagi." Karin mengetuk pintu kamar Miki dengan agak kuat.
Pintu terbuka dan memperlihatkan wajah Miki yang sudah segar. "Bentar lagi turun, kak. . . mau bedakan dikit."
"Oke, hari ini sarapan roti isi telur aja, enggak apa-apa?" tanya Karin.
"Enggak apa-apa." Miki berkata dengan semangat.
"Mau dibawain bekal? Tapi, menunya roti juga? Gua belum sempat belanja." katanya lagi.
"Enggak usah, deh . . . abis wawancara, kayaknya mau makan siang sama Dani." jawab Miki.
Karin tersenyum penuh arti, "Oke deh." lalu, ia bergerak turun akan menuju dapur. Samar-samar ia mendengar pintu terbuka d belakangnya.
"Yang dibangunin cuma Miki, aja Rin?" tanya Reynata yang menyusul turun di belakangnya. "Jadi, iri nih." saat di lantai satu, ia menjajarkan tubuhnya di samping Karin dan mengalungkhan sebelah tangannya di pundak Karin.
"Gua yakin lu bakal bangun sendiri kalau ada sesuatu yang harus lu lakuin pagi-pagi." jawab Karin sambil tersenyum, membiarkan dirinya berada dirangkulan.
Reynata hanya mendeham, "mau bikin apa pagi ini?"
"Sandwich sederhana. Roti bakar, isi telor mata sapi dengan keju dan olesan saus."
"Ada selada, enggak di kulkas? Kalau ada, bisa dimasukin juga. Jadi deh hamburger ala rumahan."
"Kita minim sayur-sayuran, Rey. Lupa belanja kemari sore."
Reynata mengangguk mengerti, "Ya udah, kita makan seadanya aja yang penting tetap kenyang." ia melepaskan rangkulannya ketika sampai di dapur. Mulai bergerak menyiapkan piring-piring dan bungkusan roti dari lemari persediaan, sedangkan Karin beralih membuka pintu lemari es untuk mengambil tiga butir telur. Keduanya sibuk dengan peran masing-masing tanpa adanya percakapan.
Sudah 3 bulan berlalu sejak mereka ditinggal selamanya oleh Luna. Berkat kedatangan mendiang saudaranya melalui mimpi, ketiganya mulai belajar ikhlas menerima kenyataan dan melanjutkan kehidupan mereka. Hukuman atas kasus kejahatan yang dilakukan oleh Tante Talitha dan Paman Iqbal juga sudah diputuskan dengan cepat. Keduanya mendapatkan hukuman seumur hidup tanpa keringanan remisi, sedangkan para pendukung dan pelaksana kejahatan seperti anak buah mereka mendapatkan hukuman 20 tahun. Mereka hidup tanpa ada lagi beban kecuali rasa kehilangan atas Luna yang masih tersisa dihati mereka.
Miki baru saja sampai di lantai satu dan melanjutkan langkah kakinya menuju dapur. Ia berhenti sejenak ketika melewati ruang keluarga. Terbayang seseorang yang sedang berbaring diatas sofa sambil memegang buku tebal ditangannya. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya karena lagi-lagi membayangkan aktifitas Luna yang pernah dilihatnya semasa hidup. Miki berlalu pergi menuju dapur dan melihat kedua kakaknya sudah selesai memasak sarapan.
"Haduh, maaf ya gua telat turunnya." ucap Miki merasa bersalah.
"Enggak apa-apa. Santai aja. Hari ini ada kasus apa sampai lu harus berangkat pagi-pagi banget?" tanya Reynata yang sudah duduk di samping Miki. Ia menyerahkan piring berisi roti diatasnya.
"Ada kasus sengketa saham dari salah satu perusahaan di daerah kemang. Terus, belum nemu jalan keluarnya dan salah satu pihak melakukan gugatan balik, jadi sekarang mau lakukan peninjauan dari keputusan persidangan." jawab Miki dengan menggebu-gebu. Ia membuka mulut lebar dan menggigit potongan roti. "Doain supaya kasusnya enggak berlarut-larut, ya biar gua segera dapet fee hahaha." ia berkata dan tertawa dengan mulut penuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Sisters 2
General FictionPertemuan yang terjadi karena permintaan Paman Agung, membuat Karin, Luna, Reynata dan Miki harus menerima kenyataan kalau mereka adalah saudara dari satu Ayah yang sama. Hari demi hari mereka lalui dengan tenang dalam rumah yang diwariskan ole...
