Waktu menunjukkan pukul 7 malam, namun belum terlihat tanda-tanda Miki berada di sekitar rumah. Luna duduk di meja makan dan memerhatikan dua saudaranya yang sibuk menyiapkan makan malam dengan wajah bosan. Sembari memerhatikan, perhatiannya juga terbagi fokus membalas pesan-pesan dari Arga. Ia menghela nafas panjang. Hal yang juga ia lakukan beberapa kali karena bosan. Tangan kanannya menarik salah satu bangku yang ada disampingnya kemudian menjadikannya alas kaki.
"Lun, daripada kerjaan lu cuma megangin handphone dan menghela nafas terus, kenapa enggak lu ambil piring dan gelas buat makan malam? Diatur di meja makan, gitu." kata Karin yang sedari tadi juga memerhatikan gerak gerik Luna. Dua tangannya sibuk memotong sayur-sayuran diatas talenan.
"Gua enggak mau makan disini. Di ruang keluarga aja." jawab Luna tidak bersemangat.
"Ya udah, berarti bawa piring dan gelasnya kesana." kata Karin.
"Nanti aja. Toh, makanannya juga belum ada yang siap. Nanti piringnya malah berdebu." Luna mencari alasan lain.
Karin berdecak sebal dan tak lagi mengatakan apapun. Reynata tak memberikan komentar apapun dari percakapan kedua saudaranya karena sibuk memotong telur yang sudah direbus untuk dimasak balado.
"Oh iya, Rey... besok lu berangkat dari rumah jam berapa?" tanya Karin yang sadar kalau besok adalah waktunya bagi Reynata kembali ke mess kantor.
"Hmmm, mungkin jam 5-an kali, ya. Biar gua bisa istirahat dulu di mess." jawab Reynata.
"Oke. Kalau begitu, lu harus tidur lebih awal supaya enggak terlambat." Karin mengingatkan. Reynata hanya membalas dengan anggukan. Tangannya beralih menekan tombol ON pada blender untuk menghaluskan bahan-bahan yang akan dijadikan sambal. Suara bising mengisi ruang dapur.
"Oh iya, Lun.. besok, lu bisa kan jaga rumah sama Miki? Gua mau pergi makan siang sama tante gua." kata Karin. Luna mengalihkan pandangannya ke saudaranya yang tertua itu.
"Besok, bukannya lu harus masuk kerja?" tanya Luna.
"Tadi, gua udah izin sama atasan buat ambil cuti besok. Alasan gua sih, karena masih harus jagain lu... tapi, gua mau keluar sebentar buat ketemu Tante Talitha. Enggak apa-apa, kan?" tanya Karin lagi. "Tante, gua sampai mohon-mohon buat ketemu.. enggak enak kalau ditolak. Tadinya, sih mau sekalian ajak lu dan Miki tapi katanya ada hal penting yang mau diomongin sama Tante Talitha. Jadi, untuk kali ini gua berangkat sendiri dulu." terangnya.
"Enggak apa-apa kalau lu mau pergi... Lagipula, besok gua juga mau pergi ketemu sama Paman Agung di kantornya." jawab Luna yang memang sudah mendapatkan balasan dari Paman Agung akan bertemu di kantornya jam 8 pagi.
Karin menghentikan aktifitasnya dan memandangi saudaranya itu, "Mau ngapain? Emang lu udah sehat banget apa, sampai besok mau keluar rumah?"
"Udah agak mendingan, sih... Paling cuma sebentar, karena Paman Agung juga sibuk."
"Sendirian? Atau ajak Miki juga?" tanya Karin lagi. Reynata hanya menoleh sekilas untuk melihat dua saudaranya berbicara kemudian kembali sibuk dengan masakannya.
"Sendiri."
"Kenapa enggak ajak Miki? Ajak dia sekalian, enggak tenang gua kalau lu jalan sendiri. Lagian, emang harus banget ketemu sama Paman Agung besok? Buat apa, mau ngomongin warisan lagi? Atau lu mau nyari penjahat nyokap lu lagi?" tanya Karin yang tak sadar sudah begitu banyak memberikan pertanyaan yang membuat Luna bingung menjawabnya.
"Untuk sekarang, gua mau ketemu sama Paman Agung sendiri, karena gua khawatir nanti si Miki enggak bisa mengontrol diri karena mau tahu pelaku kejahatannya. Lain waktu aja, dan kita bisa berangkat bareng." jawab Luna yang tak menjawab semua pertanyaan Karin.
"Lu mau ngomongin apa lagi, sih?" tanya Karin. Ia menyerahkan potongan sayuran kepada Reynata. Memberikan instruksi untuk merebusnya.
"Gua mau tahu cerita keluarga Ayah.. bagaimana kehidupannya sebelum dan sesudah menikah sama ibu-ibu kita. Selama ini gua tahu ceritanya, kan cuma dari pihak keluarga nyokap. Sekarang gua mau dengar dari Paman Agung, pihak luar yang mungkin bisa lebih netral."
"Oke. Kalau gitu, besok gua ikut sama lu." Karin membuat keputusan. Namun, raut wajahnya kemudian berubah bimbang. "Tapi, jamnya enggak bisa diundur abis jam makan siang aja? Karena, rencananya gua mau ketemu jam 9-an karena Tante Talithta minta buat datang ke rumahnya supaya ketemu sama paman dan anak-anaknya."
"Enggak bisa. Gua udah janji datang jam 8. Ya udah, lah lu jalanin aja acara yang udah disepakati. Gua enggak apa-apa, kondisi gua udah lebih baik dan sehabis dari kantor Paman Agung bakal langsung pulang, kok."
Karin terdiam. Ia menimbang-nimbang permintaan saudara keduanya. Memang kalau diperhatikan, wajah Luna tak sepucat ketika dirawat dan awal dari rumah sakit. Namun, tetap saja ia masih mengkhawatirkan kondisi saudaranya yang belum stabil.
"Enggak usah kebanyakan mikir, deh Rin. Kayak emak-emak takut kehilangan anak aja, lu. Gua udah enggak apa-apa." kata Luna lagi.
Karin berdecak sebal, "Terserah lu aja, deh. Tapi, kalau sampai setelah dari sana lu jatuh sakit lagi... gua enggak mau urus !" ancamnya. Luna hanya berdeham pelan menjawab ancaman yang diberikan. Matanya fokus membaca pesan yang baru saja diterimanya dari Arga. Dalam pesan itu, ia mengatakan akan mampir ke rumahnya untuk menengok Luna.
"Guys, pacar gua mau mampir boleh, enggak?" tanya Luna.
"Arga?" tanya Karin. Ia kini membantu Reynata mencuci blender yang telah selesai digunakan oleh Reynata.
"Siapa lagi? Pacar gua cuma satu, kali." jawab Luna.
"Yakin cuma satu? Ditempat lain, enggak ada? Perasaan dulu ada yang bilang punya banyak gebetan deehh." ledek Reynata yang ingat dengan rasa bangga Luna ketika dulu bilang lebih memilih punya gebetan dibanding pacar. "Terus bangga, gitu deh pas cerita." lanjutnya.
"Masa lalu, jangan diungkit-ungkit keleus." tegur Luna.
"Masa lalu lu kelam, ya Lun.. maen-maen ama perasaan." sela Karin. "Enggak takut kena karma lu."
"Enggak maen-maen, kok ... cuma nyari aman biar enggak galau kalau putus atau diputusin. Kayak kalian dulu." jawab Luna dengan santai. Sontak kepala Reynata dan Karin menoleh kearahnya secara bersamaan dengan menunjukkan raut kesal. "Karma? Enggak lah, kan udah kesepakatan bersama."
"Duh tuh mulut minta banget diolesin sambal balado, nih kayaknya. Nyinyir banget." Reynata jadi orang pertama yang merespons dengan eye smile yang malah menakutkan.
"Iya yah, tangan gua juga kok jadi gatel buat suapin dia sambal balado pakai centong nasi." susul Karin.
Luna tetap cuek, "Jadi, gimana? pacar gue boleh mampir, enggak? Kalau boleh, gua ajak dia makan malam sekalian, gimana?" tanyanya tak peduli dengan tatapan kesal dua saudaranya.
Reynata dan Karin menghela nafas panjang secara bersamaan lalu berusaha mengontrol diri untuk lebih bersabar. Meskipun sudah lama tinggal bersama tapi tetap saja perkataan Luna yang terlalu jujur, kadang membuat emosi mereka naik sampai ubun-ubun. "Ya kalau dia mau mampir, mampir aja." kata Karin kemudian.
"Oke." Luna langsung membalas pesan Arga dengan mengabari kalau ia boleh datang. Kemudian, ia beranjak dari duduknya dan mulai membantu dengan membawakan beberapa piring dan gelas ke ruang keluarga.
"Heuu, giliran pacarnya mau datang aja, baru deh gerak." goda Reynata.
"Heh, jangan berburuk sangka, gua emang mau bantu, kok karena makanan sebentar lagi siap." jawab Luna yang kemudian melangkahkan kaki keluar dapur.
"Alasan aja, tuh." kata Reynata pada Karin, yang langsung menerima anggukan setuju darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Sisters 2
General FictionPertemuan yang terjadi karena permintaan Paman Agung, membuat Karin, Luna, Reynata dan Miki harus menerima kenyataan kalau mereka adalah saudara dari satu Ayah yang sama. Hari demi hari mereka lalui dengan tenang dalam rumah yang diwariskan ole...
