Malam itu terasa sangat panjang bagi semua pihak yang baru saja ditinggalkan Luna. Bahkan, Miki memaksa untuk keluar dari rumah sakit agar bisa menuju rumah sakit tempat Reynata dan Luna berada untuk melihat keadaannya secara langsung. Tangis haru kembali terdengar saat Miki, dan Karin berada di ruang tempat Luna berbaring. Mengabaikan Arga yang duduk di luar yang ditemani Manggala, ia terlalu lemas menerima kenyataan pahit dihadapannya. Dalam hatinya, Arga masih mengharapkan adanya keajaiban yang bisa membuat kekasihnya bangun. Ia tidak sanggup jika harus ditinggalkan secara tiba-tiba seperti ini.
Tak lama Paman Agung juga datang dengan kursi roda. Menyampaikan bela sungkawanya yang terdalam karena kepergian Luna. Sebagai orang yang meminta diakui Paman, ia merasa sudah sangat gagal melindungi keempat anak dari mendiang sahabatnya itu. Tindakan dan pengorbanan Luna sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan usahanya selama ini. Pemikiran Luna yang panjang dan persiapan mendadak yang sama sekali tidak bisa diduga membuat Paman Agung melupakan segala pengalaman sebagai pengacara. Dirinya yang sudah bukan anak muda itu bahkan berandai-andai bisa mengembalikan waktu supaya bisa menyelamatkan perempuan muda berpikiran tajam itu.
Reynata menyusul masuk ke dalam ruangan dan kembali histeris saat melihat Luna benar-benar telah terbujur kaku. Paman Agung memberanikan diri mendekati ketiga perempuan itu, meminta mereka untuk menguatkan diri walaupun semua ucapan itu hanyalah sebuah kesia-siaan dan tidak bisa memberikan penghiburan apapun.
"Maafkan saya, Tuan. . saya terlambat mencegah kejadian ini." kata Andreas penuh penyesalan. Paman Agung menggelengkan kepalanya, namun tidak mengeluarkan suara apapun.
Reynata memukul-mukul pelan tangan Luna, "Lun, bangun! Jangan begini, ini enggak adil buat gua, Lun. . kenapa cuma gua yang bersaksi nanti?! please, Lun bangun! Lu yang tahu segalanya, termasuk rekaman itu. Cuma lu yang tahu gimana kronologinya, ayolah Lun banguuuun !" katanya sambil terisak. Karin menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena tak kuat melihat permintaan Reynata. Miki lemas diatas kursi rodanya. Dani memeluknya dari samping supaya kekasihnya itu tegar.
Perlahan Karin melangkah mendekat. Berlutut disisi tempat tidur yang lain dengan memegang sebelah tangan Luna yang terasa sedingin es. "Maafin gua Lun." ia sesenggukan dengan menatap wajah saudaranya, menggerak-gerakkan pelan tangannya, "Apa enggak bisa lu bangun sekarang dan ijinin gua buat minta maaf? gua janji bakal bersujud dan melakukan apapun yang lu mau. Apapun. Hari-hari berikutnya gua juga enggak akan marah-marah lagi dan nyuruh lu ini itu. Gua bakal bebasin lu ngomong apapun ke gua." pintanya seolah itu berguna untuk membangkitkan Luna dari tidurnya. Namun, semua itu tetaplah sia-sia. Kematian lebih kuat memeluk erat tubuh Luna.
Miki memberitahu Dani untuk mendekatkan kursi rodanya ke tempat tidur Luna. Mengambil tempat disamping Reynata. "Lun. . . kalau lu cuma tidur, please jangan lama-lama, bangun sekarang! Lu tega akting begini sampe bikin kita semua sesenggukan. Lagian lu yakin mau tidur selama-lamanya, nanti siapa yang bakal jadi teman curhat, dan berantem gua di rumah? Siapa lagi yang bakal bisa gua jadiin kambing hitam supaya enggak dimarahin sama Karin." ia berhenti sebentar, kemudian menarik nafas, "walaupun kadang lu nyebelinnya maksimal, tapi gua enggak rela lu ninggalin gua dengan cara kayak gini." suasana berubah hening, seolah tak hanya Miki yang menanti Luna benar-benar akan mengakhiri sandiwaranya. "Kak Lunaa, please jangan begini." untuk pertama kalinya Miki menyematkan kata 'kakak' untuk Luna. Melanggar permintaan Luna yang dulu enggan dipanggil 'kakak' karena merasa seumuran.
Paman Agung merasa sebaiknya Karin, Reynata dan Miki diajak keluar untuk dinasehati. Ia meminta Dani memanggil Manggala untuk menenangkan kekasihnya dan membuka hati untuk menerima takdir yang telah berlaku atas Luna. Selain Dani dan Manggala, Paman Agung juga Andreas untuk membawa Karin. Jika sudah tenang, Paman Agung ingin membahas bagaimana Luna akan dimakamkan. Karena, menurutnya tidak baik membiarkan Luna terlalu lama didiamkan di rumah sakit. Meskipun meninggalkan luka yang mendalam, mereka tetap harus mengantarkan Luna ke peristirahatan terakhirnya dengan perlakuan yang baik karena dirinya sudah memberikan pengorbanan yang begitu besar demi terkuaknya kasus pembunuhan dan menyelamatkan saudara-saudaranya.
Meskipun Reynata, Miki dan Karin sempat memberi penolakan, tetapi Dani, Manggala dan Andreas tetap berusaha mengajak ketiga perempuan itu untuk keluar. Setelah semuanya pergi, giliran Paman Agung yang mendekat kearah Luna untuk memberikan penghormatan dan ucapan terima kasih. Ia mendoakan supaya perempuan yang sudah dianggapnya sebagai keponakan itu beristirahat dengan tenang dan tak lagi mengalami kesulitan serta penderitaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Sisters 2
General FictionPertemuan yang terjadi karena permintaan Paman Agung, membuat Karin, Luna, Reynata dan Miki harus menerima kenyataan kalau mereka adalah saudara dari satu Ayah yang sama. Hari demi hari mereka lalui dengan tenang dalam rumah yang diwariskan ole...
