Perlawanan (Part 3)

144 23 1
                                        

Sebuah mobil avanza berwarna hitam memasuki komplek perumahan yang ditinggali oleh Luna, Reynata dan Miki. Pak Amir, yang kala itu berjaga seorang diri menghampiri mobil asing tersebut. Sudah tugasnya tak sembarangan mengijinkan orang luar yang belum pernah dilihatnya memasuki area pengawasannya. Kaca pengemudi diturunkan dan memperlihatkan sebuah wajah pria paruh baya yang disekitar mulutnya sudah dikelilingi janggung dan kumis yang berubah. 

"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Amir. 

"Saya Mustofa, kerabat jauh dari pemilik rumah 14 D, dari Padang. Saya mau ijin masuk, boleh Pak." kata tamu itu dengan ramah. 

"Ooh, keluarga Pak Mahfud, ya? Sebelumnya udah bikin janji, Pak Mustofa?" tanya Pak Amir.

"Udah, Pak. Saya udah menghubungi beliau dan kebetulan Pak Mahfudnya ada dirumah." 

"Oh, kalau begitu silahkan, Pak." Pak Amir menjauh dari jarak mobil dan membiarkan tamu tersebut masuk. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih, mobil bergerak menjauh dan Pak Amir kembali ke dalam pos penjagaan.

***

Di pusat perbelanjaan, Tante Talitha dan Karin terlihat berada disalah satu restoran yang menyediakan makanan khas Indonesia. Kedunanya sedang menikmati pesanan masing-masing. Beberapa saat kemudian, Tante Talitha merasakan getaran dari dalam tasnya. Ia mengambil handphone-nya untuk mengecek. Sebuah pesan dari Iqbal telah masuk.

'Apa udah ada tanda-tanda Karin menerima e-mail dari saudaranya itu?' begitu isi pesannya. 

Tante Talitha melirik sekilah ke arah keponakannya yang terlihat menikmati nasi berlaukkan semur daging dan sayur krecek. Ia mengetikkan balasan. 'Kayaknya belum. Kakak enggak melihat dia sibuk dengan Hp-nya. Bagaimana dengan rencanamu, apa anak buahmu udah sampai di tempat target?' pesan dikirimkan.

Tak sampai satu menit, balasan kembali datang, 'Awasi terus, ya Kak dan kabari aku. Barusan aku mendapat telepon kalau anak buahku udah sampai disana dan rumahnya terlihat sepi.' 

Talitha mengernyit kemudian membalas kembali pesan tersebut, 'Jangan-jangan mereka udah berangkat ke rumah sakit? Karin bilang mereka berangkat pagi.' kemudian ia menyembunyikan rasa gelisahnya dengan menyuapkan sedikit nasi dan tempe bacem ke dalam mulutnya. Tatapannya tak lepas dari handphone disamping Karin. Mewanti-wanti jika ada pesan atau email yang masuk.

"Habis makan, kita mau kemana, Tante?" tanya Karin.

Tante Talitha sedikit terkejut ketika keponakannya itu tiba-tiba berdiri, "Mmm, kita ke butik langganan Tante disini kemudian kita mencoba beberapa baju sebelum membelinya." tawarnya.

"Tante punya butik langganan?"  

Tante Talitha mengangguk, "Barang-barang disana bagus dan modern. Dari baju, tas, sepatu sampai aksesoris kayak gelang dan kalung juga keren-keren. Tante mau beli supaya bisa dibawa pulang sekalian buat oleh-oleh. Kamu juga bisa beli beberapa, supaya kelihatan lebih modis." 

"Tapi, mahal-mahal enggak Tante. . . gajiku enggak terlalu besar buat beli barang branded." 

"Iih, apa'an sih kamu. . . udah jangan musingin soal harga, hari ini kan khusus kamu temani Tante sampai jam berangkat ke bandara jadi semuanya akan Tante yang bayar." 

"Duuuh, aku jadi keenakan nih dibayarin mulu sama Tante." kata Karin. 

"Enggak apa-apa lah, toh setelah ini kita pasti bakal susah buat ketemu. Apalagi kamu yang akan kuliah ke luar negeri. Quality time kayak gini pasti jarang bisa Tante dapatkan dari kamu." 

"Ah, Tante. . . jangan ngomong gitu, dong. Kalau Tante mau ketemu sama aku bilang aja, walaupun ambil kuliah di London, aku akan sempetin datang nemuin Tante, ke Jepang sekalipun, tapi kalau lagi masa liburan, yahh."

My Lovely Sisters 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang