Perubahan (Part 1)

278 17 0
                                        

Pukul 06.30 petang, Miki baru saja sampai di rumah saat melihat Karin sedang menuruni tangga. Sehabis makan siang, ia pergi menemui teman-teman semasa kuliahnya karena bosan ditinggal sendiri oleh Luna yang pamit ingin menemui kekasihnya. 

"Abis dari mana lu, Ki?" tanya Karin yang sudah sampai di rumah. Ia hanya bertemu dengan Luna yang sekarang berada didalam kamarnya. 

"Abis dari rumah teman." kata Miki sambil meletakkan sepatunya dirak. "Lu baru nyampe apa udah daritadi, kak?" 

"Dari jam 4, gua udah di rumah. Bos gua minta supaya butik ditutup lebih awal, soalnya ada teman-temannya yang mau ngumpul dan pakai ruang belakang." 

"Ooh. Ya udah, gua ke atas dulu, kak. Mau mandi." 

Karin mengangguk dan melanjutkan langkahnya hendak menuju dapur. "Eh iya, Ki." panggilannya yang tiba-tiba menghentikan langkah Miki. 

"Kenapa,kak?"

"Emmm, lu tahu enggak Luna abis darimana? Soalnya, gua ketemu dia juga baru sampai rumah tapi dia buru-buru langsung naik keatas." 

"Dia bilang ke kantor pacarnya buat ngasih bekal." jawab Miki. 

"Ooh." Karin mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia agak tidak tenang saat bertemu Luna dua jam lalu. Raut wajah saudaranya itu terlihat sedih dan tertekan. Luna hanya tersenyum dan berjalan keatas saat Karin baru akan menanyakan kepulangannya. 

"Kenapa, kak? Muka lu kayak lagi berpikir keras, gitu?" tanya Miki. 

"Gua cuma bingung aja, sih. Soalnya pas ketemu, kayaknya moodnya Luna lagi enggak bagus. Enggak biasanya, dia enggak turun-turun dari kamar sampai sekarang."

"Oh iya? Emmm, mungkin dia lagi berantem sama pacarnya, kali." duga Miki.  

Karin mengendikkan dua bahunya, "Mungkin." 

"Ya udah. Gua keatas dulu." Miki melanjutkan langkahnya begitupun dengan Karin. 

***

Satu jam berlalu, Miki keluar dari kamarnya untuk menemui siapapun yang ada dibawah. Ia sempat melirik ke kamar Luna yang pintunya tertutup rapat. Mungkinkah Luna masih belum keluar? Miki melangkah mendekat dan mengetuk pintu itu. 

Tak ada jawaban. Perlahan, Miki menjauh dan menuruni tangga. Ia berpikir mungkin Luna sudah berada dibawah. Ia memeriksa ruang keluarga, tempat biasanya Luna menonton kartun. Namun, tak ia temukan keberadaan perempuan yang sering mem-bully nya itu. Miki beralih ke dapur dan melihat Karin sedang menggoreng kentang.

"Kak, si Luna belum turun?" tanya Miki. 

"Belum. Lu enggak coba ketuk pintunya?"

"Udah, tapi enggak ada jawaban." kini Miki baru merasa khawatir. "Kenapa, ya?"

"Jangan-jangan dia tidur." kata Karin yang sudah selesai dan membawa sepiring potongan kentang goreng keatas meja makan. 

"Masa' sih? Jam segini, dia udah molor? Capek banget apa ya ketemu sama pacarnya." kata Miki yang mengambil sebatang potongan kentang panas dan mencelupkannya ke saus tomat. 

"Coba gua panggil lagi, deh. Sekalian kita makan malam." kata Karin yang melangkah keluar dari ruangan. 

Saat sampai didepan pintu kamar Luna, Karin mengetuk pintu itu beberapa kali hingga akhirnya pintu itu bergerak ke dalam dan memunculkan wajah Luna tanpa ekspresi. 

"Lun? Lu enggak apa-apa? Sakit?" tanya Karin. 

Luna menggelengkan kepalanya, "Enggak."

"Kalau enggak apa-apa, kok lu enggak turun-turun? Si Miki juga udah ketuk pintu lu tapi enggak ada jawaban. Kenapa?"

"Sorry, gua enggak dengar kalau si bungsu ngetuk pintu kamar. Gua lagi tidur." 

"Ooh. Jadi, lu daritadi tidur?"

Luna menganggukkan kepalanya. 

"Hmm, ya udah turun dulu, yuk. Kita makan malam bareng." ajak Karin. 

"Kalian duluan aja. Gua enggak lapar."

Karin terdiam mendengar jawaban Luna. Melihat raut wajah dan cara bicaranya, ia yakin sudah terjadi sesuatu pada Luna hingga sikapnya berubah dingin seperti sekarang.

"Enggak lapar? Lu emang udah makan?"

"Gua udah makan siang tadi sama Arga, dan sekarang belum lapar." jawab Luna. "Gua mau lanjut tidur aja." 

Walaupun merasa tidak terima dengan jawaban Luna, namun Karin tetap menganggukkan kepalanya seolah tak mau lagi memaksanya keluar. Ia pergi saat Luna menutup pintu kamarnya . 

Karin kembali ke dapur dan melihat Miki sudah memakan hampir setengah kentang goreng yang dibuatnya. 

"Gimana? Dibuka pintunya?" tanya Miki. 

"Dibuka, tapi katanya dia enggak mau makan malam dan mau tidur aja. Dia juga enggak dengar lu ketuk pintunya, karena lagi tidur."

"Hmm, gitu." 

"Ya udah, kita makan duluan aja, Ki." ajak Karin. Kemudian, bersama Miki mengambil piring yang sudah tertata diatas meja. "Gua yakin pasti udah terjadi sesuatu, deh. Soalnya sikap Luna masih dingin pas gua tanya-tanya. Kenapa, ya?"

"Gua bilang, paling dia abis berantem sama pacarnya. Dia kan hari ini cuma ketemu sama pacarnya."

"Iya, sih. Tapi, sampe segitunya, ya. Berantemnya parah banget, gitu?"

Seketika Miki berhenti menyendokkan capcai ke atas piringnya karena terpikir sesuatu, "Jangan-jangan... Luna putus dari pacarnya. Makanya, moodnya berubah dan jadi enggak nafsu makan." 

Karin menatap adik bungsunya itu, dan berpikir kalau dugaan yang disebutkan barusan terdengar masuk akal. "Kalau benar, berarti dia sekarang lagi galau tingkat akut. Soalnya, raut mukanya bete dan kayak tertekan, gitu lho, Ki."

"Ckckckck, kasian. Pasti ini pertama kalinya, dia ngalamin patah hati." komentar Miki yang merasa kalau dugaannya 90% benar. 

Keduanya melanjutkan makan malam dengan obrolan ringan. Karin tidak mengatakan apapun soal dia yang bertemu lagi dengan Fathian di butik karena takut akan membuat saudaranya itu khawatir. 


My Lovely Sisters 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang