Karin duduk termenung di dapur. Dirinya masih dirundung duka mendalam setelah kepergian Luna yang tak pernah ia duga. Ia memikirkan apa setelah ini bisa hidup dengan baik, karena terus dibayangi rasa bersalah pada saudaranya itu. Ia menundukkan kepalanya di atas meja, tertutupi dua tangan yang saling bertumpu. Ruangan yang ditempati begitu sunyi dan hanya terdengar detak jam yang terpasang di dinding diatas ambang pintu ruangan dapur. Pundaknya terlihat naik dan turun, sebelum akhirnya terdengar helaan nafas panjang dari perempuan itu.
"Kenapa malah tidur di sini, Rin?"
Teguran itu mengagetkan Karin, dan mengira kalau itu adalah suara Reynata. Ia mengangkat kepalanya perlahan dan semakin terkejut melihat sosok Luna duduk di bangku di hadapannya dengan dua tangan menopang dagu.
"Enggak takut masuk angin?" tanyanya.
Karin mengucek kedua matanya karena takut salah mengira perempuan di hadapannya adalah Reynata. Beberapa detik menunggu, wajah perempuan didepannya tak berubah seperti yang diinginkannya, "Luna?"
Luna mengangguk mengiyakan, "Jangan kabur, ya . . . penampilan gua tetap cantik, kan?" tanyanya, yang lalu duduk bersandar. Sontak Karin berdiri dari duduknya dan dengan setengah berlari menghampiri Luna, yang juga menatap pergerakannya.
"Lu datang lagi ke sini karena mau jemput gua, ya? Enggak apa-apa, Lun. . . gua enggak akan menolak." sergahnya.
Luna mengernyit sebal, "Apa'an sih?! Lu pikir gua setan gentayangan yang mau membalaskan dendam apa?" omelnya. "Gua kesini karena mau menenangkan lu dan minta supaya lu enggak lama-lama bersedih. Sikap lu yang begini bikin gua enggak tenang, tahu."
Karin terdiam sebentar. Membuat Luna menatap heran dan penasaran dengan apa yang dipikirkannya. Lalu, ia dikejutkan dengan Karin yang tiba-tiba berlutut dan menunduk dibawah kakinya. Luna berusaha memundur kursinya namun tertahan dengan kedua tangan yang memegangi kakinya. "Rin ! Lu ngapain, sih ?! Jangan begini, dong !" omelnya.
"Gua belum sempat minta maaf secara langsung, Lun. . . lu mati karena gua." suara Karin tak terdengar jelas karena bicara dengan kepala tertutupi tangannya. Luna buru-buru berjongkok, dan memaksa saudaranya untuk bangun.
"Enggak. Gua begini bukan karena lu." lalu Luna berdecak sebal, "kali ini gua harus meluruskan kesalahpahaman lu itu." ia memaksa Karin untuk berdiri dan duduk dibangku sebelahnya.
"Gua udah dengar semua ceritanya dari Reynata, Lun . . ." kata Karin dengan raut sedih, "lu menemui Tante Talitha waktu itu, karena dia mau menghancurkan rekaman itu, kan? Terus, dia juga menggunakan gua untuk mengancam kalian supaya enggak berkhianat."
"Benar, dia sempat menunjukkan foto lu yang enggak sadarkan diri supaya kita enggak macam-macam. . . tapi, masalah utama Tante Talitha dan Paman Iqbal marah karena gua yang lebih dulu berkhianat dengan mengirimkan salinannya ke Andreas." Jawab Luna, "Awalnya, rencana gua adalah menahan Andreas mendengarkan itu sampai gua dan Reynata kembali ke rumah sakit dan memastikan lu dibebaskan dan membawa lu ke sisi kita juga tapi ternyata . . . Andreas pun punya rencana sendiri. Tapi gua enggak menyalahkan dia, sih. . . salah gua sendiri enggak berkoordinasi. Itulah kelemahan yang bikin gua harus melibatkan Reynata ke dalam bahaya." terangnya. "Seharusnya, lu jangan ngerasa terlalu bersalah. . . yaaaaa benar sih, gua kesel banget pas lu mengacuhkan permintaan maaf gua, kabur dari rumah, terus bilang benci ke gua dan yang lain. . . tapi sebenarnya karena sikap lu yang begitu, malah menggiring gua tahu seperti apa sifat Tante Talitha plusssss, sekarang lu jadi tahu kan siapa pembunuh orangtua kita?" Luna menggenggam tangan Karin, "Dengar ini baik-baik," ia menyelipkan rambut bagia depan Karin kebelakang telinganya dengan lembut, "gua enggak marah sama lu. Jadi, berhenti menyalahkan diri sendiri." Karin menunduk malu melihat kesabaran Luna terhadap dirinya. "Ngomong-ngomong, hari ini gua dengar semua janji lu di kuburan tadi siang."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Sisters 2
General FictionPertemuan yang terjadi karena permintaan Paman Agung, membuat Karin, Luna, Reynata dan Miki harus menerima kenyataan kalau mereka adalah saudara dari satu Ayah yang sama. Hari demi hari mereka lalui dengan tenang dalam rumah yang diwariskan ole...
