Sesampainya di pemakaman, Karin menemukan Reynata yang juga sedang berjongkok dengan memegangi batu nisan Luna. Manggala terlihat menemani disampingnya. Karin mempercepat langkahnya menghampiri saudaranya yang sedang menangis itu. Manggala sengaja meninggalkan keduanya untuk bicara dan menghampiri Andreas.
"Rey, lu kesini kenapa enggak bilang gua?" tanya Karin yang ikut berjongkok.
Reynata memaksakan diri untuk tersenyum, "Maaf, gua pikir lu butuh istirahat dibanding harus kesini lagi sama gua." jawabnya.
"Kenapa lu kesini, Rey?" tanya Karin sambil mengusapkan tangannya pada batu nisan Luna.
Reynata menatap lurus pada nama yang terukir pada nisan didepannya, "Gua cuma belum bisa pergi ninggalin dia sendirian disini. . . dia kan biasanya biang rusuh bareng Miki." katanya lalu menghela nafas panjang, "gua enggak bisa bayangin sepinya nanti di rumah. Enggak ada lagi yang ngomongnya ketus, muka jutek, atau ngomongnya nyelekit."
Karin mengangguk setuju kemudian terkekeh pelan, "Padahal dia udah melindungi kita sampai merelakan nyawa sendiri, tapi yang paling kita inget malah jelek-jeleknya." kemudian menatap batu nisan saudaranya, "itulah Lun, seharusnya lu jangan pergi secepat ini . . . supaya lebih banyak ngasih kenangan manis sama kita."
Reynata ikut terkekeh pelan, "Maaf ya, Lun. . . jangan marah dan bangkit dari kubur gara-gara gua ngomong kayak gini." kemudian sempat hening sejenak, Reynata terlihat sedang meresapi kalimat yang akan diucapkan selanjutnya, "Gua harap sekarang lu benar-benar tenang di alam yang lain. Semua usaha lu berhasil, lu sukses bohongin gua waktu bilang kita bakal selamat. Gua akuin lu pembohong ulung." senyum terpatri dibibir Reynata.
Karin menyentuh lembut taburan bunga diatas pemakaman saudaranya, "Diantara kalian, cuma gua yang enggak tahu apa-apa. Selama ini, gua pikir udah melakukan banyak hal, bahkan sampe GR dengan ngerasa tersiksa dibebani sama kehadiran lu dan yang lain dalam hidup gua. Padahal kenyataannya, gua enggak benar-benar ngelakuin hal yang berguna dan seheroik yang lu lakuin sekarang." ia mengambil nafas sebentar, "setelah kejadian ini, gua pun menyadari sesuatu . . . meskipun gua yang lahir duluan dan dianggap tertua serta bisa diandalkan, tapi kenyataannya lu lah yang yang jadi pelindung di keluarga kita. Lu mengawasi dan melindungi semuanya secara diam-diam, kemudian memilih menyimpan semua hal buruk seorang diri. Gua enggak bisa bayangin betapa beratnya hidup yang lu jalanin selama kenal sama gua, karena dibanding yang lain, gua adalah penyebab kesulitan terbesar lu, kan?"
Reynata mengarahkan tangannya pada pundak Karin supaya saudaranya itu bisa tabah dan berhenti menyalahkan diri. "Semoga lu benar-benar mau maafin, gua ya Lun. . . sebagai penebus kesalahan, gua janji bakal mencontoh apa yang lu lakuin. Kali ini, gua benar-benar akan menjaga ikatan persaudaraan kita, keluarga kecil gua." air mata kembali turun dari mata Karin, ". . . mulai sekarang gua cuma akan percaya sama saudara-saudara gua, dan enggak akan lagi mau dibodohin sama orang lain. Gua bakal ngelindungi dan ngawasin Reynata serta Miki sampai mereka menikah. Gua bakal berusaha sebaik mungkin seperti apa yang udah lu lakuin buat kita semua." ia menarik nafas panjang, "jadi . . . sekarang, lu bisa beristirahat dengan tenang. Sekali lagi gua ngucapin terima kasih buat kehadiran lu selama ini. Gua masih enggak nyangka, pertemuan kita singkat banget." Suasana berubah hening. Keduanya menatap dengan nanar batu nisan didepannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Sisters 2
General FictionPertemuan yang terjadi karena permintaan Paman Agung, membuat Karin, Luna, Reynata dan Miki harus menerima kenyataan kalau mereka adalah saudara dari satu Ayah yang sama. Hari demi hari mereka lalui dengan tenang dalam rumah yang diwariskan ole...
