Reynata baru saja keluar dari dapur dengan membawa sepiring telur balado. Ia sempat terdiam saat melihat kehadiran dua saudaranya dan dua laki-laki yang mengekor dibelakangnya. Tak lama kemudian dia tersenyum ramah.
"Halo, selamat malam dan selamat datang." Reynata menyambut dengan ramah dengan berjalan menghampiri mereka. Arga dan Dani membalas senyum hangat nan manis itu.
"Maaf karena bertamu di malam hari. Abis, enggak ada waktu lagi buat ketemu Luna selain sehabis pulang kantor." kata Arga dengan raut malu-malu. Luna memundurkan langkahnya agar sejahar dengan kekasihnya itu dan mengalungkan lengannya pada lengan Arga.
"Basa basi. Intinya dia enggak bisa nahan rindu sama gua, Rey." susul Luna dengan tatapan menggoda.
Arga berdecak sebal, "Emang disini gua doang apa yang kangen?" omelnya dengan suara pelan. Luna memeletkan lidahnya keluar, menunjukkan ia tidak peduli dengan balasan perkataan kekasihnya itu.
Reynata tertawa pelan, "Enggak apa-apa, kok. Santai aja. Anggap kayak berkunjung di rumah saudara lu aja." lalu, Reynata melirik ke arah Dani yang sejak tadi terlihat canggung karena tidak tahu mau berkata apa."Kayaknya, gua baru kali ini lihat cowok yang dibelakang Miki. Siapa ya?" tegurnya dengan halus, berharap Dani akan memulai perkenalan. Senyuman manis tak sekalipun dihilangkan dari bibirnya.
Dani mengerjapkan kedua matanya dengan cepat ketika mendengar perkataan Reynata. Miki ikut memerhatikan teman itu dan menunggu kalimat yang akan terlontar dari mulutnya. "Ah, maaf karena diem aja. Saya Dani, temannya Miki dari Yogyakarta. Niatnya cuma mau nganter dia sampai rumah karena hari udah malam, tapi Miki malah minta saya buat mampir dulu. Maaf, kalau kedatangan saya menganggu." katanya.
"Ooh, Dani.." Reynata mengangguk-angguk sambil tersenyum usil kepada Miki. "Gua Rey, saudara ketiga disini plus kakaknya si cewek yang ngajak lu mampir kesini. Miki juga udah cerita soal lu sama kita. Jangan sungkan dan kaku, ya... Eh, iya omong-omong umur lu berapa?" tanya Reynata.
"20 tahun." jawab Dani. Reynata tertegun mendengar jawaban Dani. Begitupun dengan Luna yang langsung menatap laki-laki disampingnya. 20 tahun? Menurut mereka, bukankah itu artinya dia lebih muda dua tahun daripada Miki?
Perlahan Reynata menarik rasa tertegunnya dan mengangguk perlahan, "Oh, 20 tahun." responsnya, "oke, jangan sungkan selama berada disini. Ngomongnya juga enggak usah pakai 'saya', kesannya formal banget. Disini ada yang alergi dengan kalimat-kalimat formal." katanya dengan mengarahkan pandangannya kepada Luna.
Luna mengerlingkan pandangannya kearah lain dengan malas, "By the way, Rey.. lu enggak pegal diri sambil megangin tuh piring lama-lama? Gua sih pegal, lihat lu." tanyanya.
"Pegal, sih.. makanya, kalian buru-buru masuk deh ke ruangan." jawab Reynata yang kemudian berjalan memasuki ruang keluarga. Ia meletakkan piring ditangannnya di atas meja. Arga dan Dani duduk diatas sofa yang disediakan.
"Omong-omong Kak Karin kemana?" tanya Miki pada Rey yang bersiap akan kembali ke dapur.
"Masih di dapur. Oh iya, kalian bisa ikut bantu? Soalnya masih ada makanan yang harus dibawa?" tanya Reynata yang sebenarnya adalah perintah. Luna dan Miki mengangguk. Lalu, karena merasa tak enak Arga dan Dani ikut berdiri.
"Lu mau ngapain, Ga?" tanya Luna yang heran dengan tindakan Arga. Miki dan Reynata pun memberikan pandangan yang sama pada dua laki-laki itu.
"Mau bantuin kalian." jawab Arga yang disusul dengan anggukan Dani.
"Ehh, enggak usah. Tamu duduk aja disini, dan tunggu kita sampai balik." cegah Reynata dan memberikan jari telunjuknya sebagai isyarat agar dua laki-laki itu kembali duduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Sisters 2
Ficción GeneralPertemuan yang terjadi karena permintaan Paman Agung, membuat Karin, Luna, Reynata dan Miki harus menerima kenyataan kalau mereka adalah saudara dari satu Ayah yang sama. Hari demi hari mereka lalui dengan tenang dalam rumah yang diwariskan ole...
