Perpisahan (Part 3)

139 20 4
                                        

Di mejanya, Karin terlihat merenung. Memikirkan kembali keputusannya untuk mengambil kuliah di luar negeri. Mempertimbangkan kapan ia akan mulai mengambil barang-barangnya di rumah dan memindahkannya ke apartemen Tantenya. Saat sedang serius memikirkan semua persiapan kepergiannya, tiba-tiba wajah ketiga saudaranya muncul. Raut wajah bahagia kala mereka tengah bersama di rumah. Canda dan pertengkaran diantara mereka pun tergambar dalam bayangan pikirannya. 

Karin menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Apa sih?! bukan saatnya mikirin mereka." ia mengomel, lalu memukul kepalanya supaya bayangan itu menghilang, "ayolah Karin, mulai pikirin hidup lu sendiri. Mereka itu enggak pantas lagi nerima perhatian dari lu karena mereka keturunan dari para perempuan yang udah bikin nyokap lu sengsara sampai mati." ia bergumam untuk dirinya sendiri. 

Tatapannya berubah tajam dan kesal. Lalu, memutar tubuhnya dan mengetikkan sesuatu dalam kolom pencarian di internet. Ia membaca deretan informasi mengenai beberapa universitas jurusan designer yang direkomendasikan oleh beberapa penulis situs. 

***

"Luna kok, enggak pulang-pulang ya?" tanya Miki yang sedang memegangi puding cokelat terlumuri fla susu buatan Reynata. 

"Dia mampir ke tempat lain, kali atau janjian ketemu pacarnya." jawab Reynata yang tengah duduk diatas sofa. 

Miki menganggukkan kepalanya, "Kira-kira gimana, ya pertemuannya tadi? Kok Luna sama sekali enggak ngabarin kita, ya, terus gua kirim whatsapp pun enggak di-read." 

Reynata mengendikkan bahunya, menunjukkan ketidaktahuannya, "Mudah-mudahan udah selesai." 

Miki mengangguk lagi, "Amin. Gua takut pas dengar jawaban Karin kemarin, terus ngasih ultimatum ke Luna, yang nunjukkin dia benar-benar marah." 

"Mungkin Karin udah mencapai batas kesabarannya, makanya ngomong begitu." jawab Reynata. 

Miki menelan pudding-nya, "Gua jadi mikir. . . mungkin gua sama Luna emang udah keterlaluan. Meskipun niat kita cuma sekedar becanda atau iseng demi ngilangin rasa bosan, tapi kayaknya kita kurang menghargai perasaan Karin, yang selama ini udah peduli dan jaga kita banget."

Reynata menganggukkan kepalanya, dan berdeham, "Lain kali jangan diulangin lagi . . . kasih ruang buat Karin supaya dia bisa merasa nyaman dan damai di rumah." 

"Iya, nanti kalau Luna pulang, kayaknya gua bakal diskusiin hal ini dengan serius." jawab Miki. 

***

Ditempat lain, Luna meringkuk dalam pelukan Arga. Sudah hampir dua jam, ia menangis tanpa mau menunjukkan wajahnya. Arga merelakan tubuhnya disusupi oleh kekasihnya dan bersandar pada pohon berbatang besar. Ia tak menyangka perempuan yang biasanya terlihat kuat dan tak mudah merasa sakit hati kini menangis sesenggukan layaknya anak kecil hanya karena menerima sikap sinis dan pengusiran dari saudaranya. 

Telapak tangannya sama sekali tak ia lepaskan untuk menepuk-nepuk punggung kekasihnya agar mau berhenti menangis. 

"Lun, udah jangan nangis lagi. Kamu enggak takut matanya bengkak kayak disengat tawon kalau kelamaan nangis?" tanyanya berusaha menghibur. "Nanti kalau saudara kamu lihat dan nanya, kamu bakal jawab apa?" 

"Disengat tawon." jawab Luna dengan suara kecil. 

"Hmm, kamu enggak kreatif, copy-paste jawaban aku." kata Arga masih dengan tangan mengusap-usap punggung. 

"Enggak bisa mikir." sekali lagi Luna terisak. 

Arga mendecak, "Udah, ah stop nangisnya. Dada aku berasa dingin nih gara-gara rembesan air mata dan ingus kamu." jawab Arga, "mudah-mudahan pihak laundry enggak jijik pas nyuci baju ini. Enggak ada upil yang ikut nempel, kan?" seketika dia menerima pukulan keras didada dari Luna yang membuatnya meng-aduh. "hish, sakit atuh, yang." Arga mengangkat wajah Luna dengan paksa, kemudian malah ikut sedih saat melihat wajah dan mata Luna yang mulai sembab. Kekasihnya itu ternyata benar-benar merasa terpukul. Ia pun kembali memeluknya. "Udah deh, nangis lagi. Puas-puasin. Enggak apa-apa, baju aku jadi dipenuhi ingus asal kamu janji cepat-cepat berhenti nangisnya. Kamu kan harus pulang ke rumah." Luna tak menjawab dan hanya kembali terisak.



My Lovely Sisters 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang