Sandiwara (Part 4)

148 22 1
                                        

Jarum jam bergerak ke angka setengah 11, Luna dan Reynata sedang duduk di salah satu restoran jepang di daerah Pejaten. Miki menolak untuk ikut dan memilih segera berkunjung ke rumah bibinya yang dulu pernah merawat dirinya. 

"Ah, elu tadi kan niatnya mau nyari nasi uduk di sekitar supermarket doang. . . terus, kenapa nyasar kesini, sih?" omel Luna yang tak tahu bagaimana tiba-tiba mengikuti kemauan dan langkah kaki Reynata. 

Reynata terkikik mendengar keluhan Luna, "Enggak tahu, tiba-tiba gua pengen makan sushi dan donburi. Katanya restoran jepang disini, rasa makanannya lumayan enak." 

Wajah Luna cemberut, "Kita makan sekarang sekalian makan siang ajalah." katanya. 

"Iya iya, mau pesan apa lu?" Reynata membuka buku menu yang diberikan oleh seorang pelayan. 

"Gekikara spicy ramen, gyoza sama ocha panas." kata Luna. 

Reynata memanggil kembali seorang pelayan perempuan bertubuh langsing yang sedang berdiri sambil memandangi mereka. 

"Mau pesan apa, kak?" tanyanya dengan ramah. 

"Satu chicken katsu don, satu gekikara spicy ramen, satu porsi crunchy prawn roll, satu porsi gyoza, dua gelas ocha panas." 

Pelayan itu mencatat seluruh pesanan dalam buku kecil di tangannya. Setelah selesai, ia kembali mengulang pesanan tersebut dengan tepat sebelum akhirnya pergi meninggalkan meja Reynata dan Luna. 

"Abis makan kita mau kemana? Enggak mungkin pulang ke rumah, kan terus sore pergi lagi ke apartemen Tante Talitha? Capek banget." kata Luna. 

"Kita jalan-jalan aja, keliling mall. Atau kalau waktunya masih panjang, kita nonton." ajak Reynata. 

"Emang ada film bagus?" 

"Enggak tahu, sih. . . kita cek di bioskop dan internet." saran Reynata. 

"Eh, Rey. . . gua mau ke toilet dulu." Luna berdiri. 

"Oke." 

Luna berjalan pergi meninggalkan saudaranya menuju kamar mandi yang kebetulan terletak di lantai dua restoran. Reynata beralih memandangi layar ponselnya yang menunjukkan ada pesan masuk dari kekasihnya. Beberapa detik kemudian, dia mendengar suara ribut-ribut obrolan dari gerombolan ibu-ibu berpenampilan heboh nan mewah yang baru masuk. Reynata mengenali salah satu wajah perempuan paruh baya dalam kelompok yang berisi 10 orang itu. Dia adalah Tante Talitha. Perempuan itu tak menyadari kehadiran Reynata. Ia tertawa-tawa dengan temannya yang kemudian beralih menuju lantai dua restoran, yang digunakan sebagai tempat makan khusus perokok. 

"Katanya ada urusan bisnis, tapi kok kesini?" pikirnya. "Atau mungkin lagi jeda buat istirahat." ia memilih berpikir positif. 

Disisi lain, Tante Talitha telah duduk disalah satu meja yang dipilih teman-temannya. "Eh Jeng Jeng, gua ke kamar mandi dulu ya. ." 

"Mau ditemenin enggak, Jeng? Buat jaga-jaga kali aja ada yang mau ngintipin Jeng Talitha, kan. . . cantiknya kebangetan, sih." tawar temannya bernama, Mirna. 

Tante Talitha tertawa, "Enggak usah, ah Jeng. Masa iya, di restoran begini ada pengintip."

"Ih, siapa tahu aja, Jeng. Lagi marak, lho kasus pegawai cowok resto masang cctv kecil di kamar mandi buat ngintipin perempuan-perempuan cantik kayak kita." susul perempuan lainnya bernama Sabrina. 

"Aduh, jadi takut tapi enggak apa-apa lah sendiri aja." kemudian Tante Talitha pergi menuju kamar mandi yang terletak dekat dengan tangga. 

Sesampainya di dalam, ia menghela nafas lega karena untuk sesaat bisa terbebas dari riuhan suara bising dan cempreng teman-teman sekaligus partner bisnis dirinya dan suami. Ia menatap sebentar bilik-bilik toilet yang semuanya tertutup kemudian masuk ke dalam bilik pertama ketika melihat tanda warna biru pada bagian pintunya, tanda tak ada orang didalamnya. Saat sudah di dalam dan mengunci pintu, tiba-tiba handphone-nya bergetar. Ia melihat nomor sang adik menghubunginya. 

My Lovely Sisters 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang