Bagian 184 (Foto Model)

932 150 32
                                    

.
.

Ya Allah, sebagaimana Engkau perbagus rupaku, perbaikilah akhlakku.

.
.

***

Keesokan harinya, di kediaman Farhan dan Erika ...

Yunan menyaksikan perubahan drastis yang terjadi di antara orang tua angkatnya.

Keduanya sama-sama berambut basah setelah keramas, dan kepergok beberapa kali saling curi pandang dengan ekspresi malu-malu. Kemesraan mereka layaknya pengantin baru.

"Mau nambah lagi, sayang?" Tanya Erika pada suaminya.

"Mau dong. Masa' ditawarin nambah enggak mau," jawabnya diiringi tatapan nakal.

Muka Erika merona malu. Padahal maksud Erika nambah nasi goreng, tapi Farhan sepertinya mengartikannya lain.

Yunan mengulum senyum. Sepertinya semalam telah terjadi gencatan senjata di antara mereka berdua.

Erika berdiri dan mendekati piring suaminya. Menambahkan nasi goreng ke atasnya. Mendadak gerakannya sempat terhenti. Farhan menggenggam tangannya yang sembunyi di bawah meja makan. Meraba telapaknya dengan cara sensual yang membuat Erika memberinya isyarat untuk berhenti karena kuatir ketahuan Yunan.

Anak itu menyadarinya. Dia berdehem, dan Farhan akhirnya melepas tangan istrinya.

"Mm ... Ayah, kalau Ayah sibuk, Ayah tidak perlu mengantarku ke pesantren hari ini. Aku sudah sembuh. Jadi aku bisa berangkat sendiri naik angkot."

"Hah? Enggak sibuk kok. Biar berangkat sama Ayah saja."

"Beneran nih Yah? Kalau aku berangkat sendiri, Ayah kan bisa lebih lama berduaan sama Ibu di rumah."

Muka Erika berubah memerah seperti kepiting rebus. Dia menatap Farhan dengan tatapan 'Tuh kan! Kamu sih!'

Farhan tersenyum malu karena merasa kepergok Yunan. "Hus. Anak kecil enggak boleh godain orang tua."

"Aku sudah bukan anak kecil lagi," jawabnya cengengesan.

"Aku serius nih Yah. Ayolah. Biarkan sesekali aku berangkat sendiri. Kan barangku juga cuma sedikit. Cuma tas punggung satu." Yunan berdiri dan segera pamit.

"Aku berangkat Yah, Bu. Assalamualaikum," ucapnya sambil mencium tangan mereka.

"Wa alaikum salam. E-eh ... kok kamu jadi beneran berangkat sendiri?" Farhan terheran-heran sekaligus merasa bersalah.

"Iya. Nanti kukabari kalau sudah sampai. Assalamualaikum," dia mengucap salam sekali lagi, sembari berjalan keluar pintu.

"Wa alaikum salam," jawab mereka berbarengan.

Blam. Pintu ditutup. Keduanya saling tatap. Erika cemberut. "Tuh kan. Kamu sih pakai genit-genitan segala di depan Yunan. Jadinya berangkat sendiri deh dia."

Farhan menggaruk belakang kepalanya. "Aku enggak tahu kalau dia bakal serius."

Erika membawa piring kotor ke bak cuci. Baru akan menyalakan keran, tangan Farhan sudah merangkulnya dari belakang.

"Lanjutin lagi yuk yang tadi malam."

Pipi Erika terasa panas mendengar ajakan dengan suara mesra di telinganya.
"Entar telat ke kantor gimana?"

"Biarin aja. Kan jarang-jarang. Yuk ... ayo dong ..., " rayunya sambil mengecup leher Erika.

"Hh ... iya iya."

Mereka memasuki kamar tidur dengan tangan Farhan menggenggam erat tangan Erika. Seolah tak rela istrinya lepas darinya barang sedetik pun.

***

ANXI (SEDANG REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang