Bagian 22 (Catatan Gito)

1.1K 68 1
                                    

.

.

"Sebesar apapun perasaanmu pada Erika, dia bukan satu-satunya perempuan di dunia ini, Yoga. Kamu BISA jatuh cinta pada perempuan lain selain dia."

.

.

***

Dua tahun setelah Yoga dan Erika berpisah ...

Seperti sudah kuduga di awal, akan sulit bagi Yoga untuk melupakan Erika. Dan benar, dia jadi terlihat lebih suram dari biasanya. Sepulang kuliah lebih suka mengurung diri di rumah. Dia juga sering enggan untuk ngumpul bareng anak basket. Padahal aku sudah berusaha mengkoordinir agar mantan tim basket kami saat SMA masih solid dan mengadakan latihan rutin setidaknya dua minggu sekali di GOR (Gelanggang Olah Raga) tak jauh dari gedung sekolah.

Sebagai satu-satunya sahabatnya yang tahu persis sifatnya, aku berusaha untuk ada di saat-saat terberatnya. Sambil berjibaku dengan tugas-tugas kuliah di jurusan public relation, sebisa mungkin tiap akhir pekan aku berkunjung ke rumah Yoga.

Dan seperti biasa, di akhir pekan yang cerah ini, Yoga memilih bersembunyi di balik selimutnya.

Aku memberinya tatapan tanpa harapan. Aku memang sengaja membiarkan dia seperti ini di enam bulan pertama. Kupikir dia perlu waktu untuk menyendiri. Tapi ... INI SUDAH 2 TAHUN! SUDAH LEBIH DARI CUKUP!

Aku menyibak tirai di kamar tidurnya dan sinar matahari menyeruak masuk ke dalam ruangan. "BANGUN, YOGA!! Ini sudah SIANG!!" pekikku.

Yoga bergumam tidak jelas, yang intinya dia tidak mau bangun.

Aku menarik paksa selimutnya. "AYO BANGUN! Ada yang mau kubicarakan SERIUS denganmu!" desakku.

Yoga melihatku dengan muka kusut. "UUURGGHH! RESE KAMU, TO!! AKU GAK MAU BANGUN! AKU MAU TIDUR AJA SEHARIAN!"

Aku menatap sahabatku dengan iba. "Yoga, apa kamu tidak malu? Kamu masih MUDA! Kamu itu PENERUS BANGSA! Masa' anak muda seperti kamu tak berbuat apapun dan hanya TIDUR aja di akhir minggu? MAU JADI APA NEGARA INI??" teriakku dengan nada tinggi, seolah di belakangku ada bendera merah putih berkibar, dengan tulisan di bawahnya 'NKRI HARGA MATI!'

Yoga merampas selimutnya dan kembali menutup tubuhnya seperti kura-kura bercangkang. "ARRGGHH! MASA BODO NEGARA INI MAU JADI APA! MAU PERANG KEK! AKU GAK PEDULI! BAGUS KALO PERANG, BIAR AKU CEPAT MATI!!" balas Yoga.

"Astaghfirullah. Yoga, kamu gak boleh ngomong begitu," kataku terkejut. Sebegitunya kah urusan tidak bisa move on dari Erika, sampai membuatnya terpikir ingin mati saja?

Yoga diam saja. Aku menghela napas.

"Hei, Yoga. Aku punya ide bagus. Bagaimana kalau kamu sekarang mandi, sarapan, lalu kita pergi DOUBLE DATE!" ucapku antusias.

Yoga menyibak selimutnya. "DOUBLE DATE??" kata Yoga bertanya balik.

Aku mengangguk. "Iya. Aku mau kenalin kamu ke saudara sepupuku. Namanya Tania. Orangnya cantik. Kamu gak akan nyesal, deh," bujukku dengan kedipan mata saat berkata 'cantik'. Berharap Yoga akan tertarik.

Yoga kembali memejam. "Ogah," sahut Yoga tanpa pikir panjang.

"Ayolah. Kita akan pergi ke kedai es krim. Aku sudah survei tempatnya. Teman-temanku merekomendasikan kedai ini. Kedai itu baru buka. Tempatnya nyaman dan desain interior kedainya ciamik banget. Kamu 'kan suka wisata kuliner ke tempat-tempat yang bagus kayak gitu. Perusahaan ayahmu 'kan sering bikin resto, kali aja ntar minat bikin kedai es krim juga. Ya 'kan?" bujukku terus, tak menyerah.

Mendengar perusahaan ayahnya disebut, mata Yoga terbuka sebelah. "Tempatnya bagus?" tanya Yoga, terdengar mulai tertarik.

Aku mengiyakan dengan penuh semangat. "Yoi! Pokoknya di kalangan kawula muda lagi nge-hits banget deh," ujarku meyakinkan.

ANXI (SEDANG REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang