.
.
Yoga, kamu bisa apa?
Aku yang ada di sampingnya.
.
.
***
Seminggu berlalu sejak pertemuan Farhan dan Gito.
Hari Sabtu ini seperti biasa Erika di rumah saja. Dia memperhatikan Farhan yang sedang memakai kemeja, sedang bersiap untuk berangkat ke sebuah pameran seni yang diadakan galerinya.
Erika tertunduk lesu. Walaupun Farhan masih melakukan kebiasaannya, mencium bibirnya setiap mengantarnya pergi ke kantor, dan memeluknya setiap dia tiba di rumah, tapi Erika tetap merasa seperti ada yang kosong.
Dia cemas sebenarnya. Apa Farhan mulai bosan padanya? Pikiran itu membuatnya merasa ingin menangis.
Erika melangkahkan kakinya mendekati suaminya. Dia menarik ujung baju Farhan. Farhan menoleh ke belakang. "Ada apa?" tanya Farhan tersenyum.
Erika menggigit bibir. "Jam berapa pulangnya?" tanya Erika dengan nada getir.
"Insyaallah jam tiga sudah di rumah, kok," jawab Farhan.
Erika diam, seperti ingin bicara tapi ragu.
Farhan mengelus kepala istrinya. "Ada apa lagi?"
Erika tidak tahan lagi. Dia ingin mencairkan es ini. "Aku ... Farhan, apa aku buat kesalahan padamu?"
"Apa?" seru Farhan terkejut.
"Pasti aku buat kesalahan, 'kan?? Apa? Apa yang sudah kulakukan? Tolong kasih tau aku. Aku akan perbaiki. Jangan diam saja. Kalau kamu diam aja, aku gak ngerti!" kata Erika dengan air mata tak terbendung dan jatuh ke pipinya.
"Atau mungkin, kamu sudah bosan denganku? Apa aku wanita yang membosankan? Apa karena kita gak punya anak juga sampai sekarang, lalu kamu bosan denganku?" lanjut Erika dengan suara bergetar dan air mata terus berjatuhan.
"Erika??" sahut Farhan terkejut dengan cara berpikir Erika.
Bagaimana Erika bisa berpikir aku bosan dengannya? batin Farhan.
Farhan memang masih menjaga jarak dengan istrinya karena merasa perlu waktu untuk tenang, tapi kalau jadi seperti ini ...
Sepintas Farhan teringat kata-kata Gito minggu lalu.
"Dia bukan orang yang tega melakukan hal seperti itu. Cobalah untuk percaya juga padanya."
Farhan tak peduli lagi dengan foto itu. Erika terkejut saat mendadak Farhan menarik tubuhnya dan menciumi bibirnya.
"Farhan, tunggu! Bukannya kamu mau ke pameran?" tanya Erika setelah berhasil mencari jeda ciuman membabibuta dari suaminya.
Wajah Farhan nyaris tak berjarak dengan Erika. Dia menjawab dengan napas terengah, "itu bisa nanti, sayang. Itu gak penting."
Sesaat kemudian, Farhan mencumbunya dengan sepenuh jiwa. Rasa kesal dan cemburu yang bercokol dan menghantui pikirannya, mengotori hatinya, kini lebur tak bersisa. Mereka menyatu sempurna, seolah baru saja terpisah oleh waktu yang sangat panjang.
"Sayang, kamu cantik sekali. Gimana bisa aku bosan sama kamu? Jangan pernah tanya itu lagi!" kata Farhan nyaris berbisik.
Air mata Erika kembali menetes. Suara erangan Erika juga adalah candu buat Farhan, membuatnya mabuk dengan ekstasi bernama Erika.

KAMU SEDANG MEMBACA
ANXI (SEDANG REVISI)
SpiritualJika kamu sedang mencari novel Islami/syar'i, mohon maaf kamu salah alamat, zheyenk :) ANXI mungkin bukan untukmu. Coba peruntunganmu di karya saya yang lain : Tirai, Cincin Mata Sembilan (link di bio) ANXI *Untuk Dewasa 21+* Peringkat tertinggi #1...