Murid kelas A dan B yang selesai berolahraga serempak membalas, "Iya~!"
"Hum? Padahal ibu mau ngajak kalian jalan-jalan loh~"
"Mau~! Mau~!" Para murid itu mendadak ricuh.
"Kalo gitu kalian duduk, kita istirahat dulu 15 menit, ibu ambilkan air minum ya?"
"Iya~"
Begitu Sunny pergi mengambil air untuk anak didiknya, Jeno langsung mencari bocah incarannya. Untuk di jadikan gandengan.
"Mana ya~?"
Jeno yang berada di barisan tengah langsung berjalan menuju belakang, tempat dimana temannya itu biasa berbaris.
Namun, ketika Jeno asyik mencari, tiba-tiba seseorang menarik tangannya. "Nono~! Cama aku yuk!"
"Ndak mau~ Noie ndak mau cama Nana~" Tolak Jeno sembari melepas genggaman Jaemin.
"Noie mau cama Cana, cama Huwal~" ucapnya lagi.
Dan setelahnya Jeno langsung meninggalkan Jaemin yang masih terpaku.
Padahal Jaemin ingin mengajaknya berbaris dengan Haechan, Renjun dan Hyunjin.
.
"Jeno, ini barisnya 2 2 sayang~ Jeno pilih, mau sama Hwall apa Sanha~" Si Seohyun sejak tadi terus bernegosiasi dengan Jeno. Tapi putranya Jung Jaehyun itu sama sekali tak mau melepaskan gandengannya ke kedua temannya.
"No~!" Jeno menggeleng ribut.
"Tapi temannya 2 2 loh, liat~" Seohyun menunjuk para murid yang sudah berbaris 2 2 di depan mereka.
"No~! Noie. Ndak. Mau!"
"Seohyun," Sunny yang selesai membariskan murid-muridnya datang, "biarkan saja. Jangan dipaksa, kalo kelewatan nanti nangis." Ujar Sunny sedikit pelan agar Jeno tak mendengarnya.
"Baiklah~"
"Jeno, Sanha, Hwall, ke barisan yuk! Abis ini kita berangkat."
"Hu'um!"
.
Perjalanan mereka tak begitu jauh. Hanya mengitari memutar mengitari kompleks. Tapi, yang istimewanya adalah guru-guru yang mendampingi terus mengajak mereka bernyanyi. Jadi, perjalanan yang seharusnya membosankan menjadi sangat menyenangkan.
Sementara itu, di barisan agak belakang, Jeno yang melihat bangunan tak asing langsung menyeret kedua temannya ke bangunan itu.
Ketika mereka sudah dekat, Jeno melihat seseorang yang sangat familiar di depan pagar dengan banyak bocah sepantarannya.
"Makli~!"
Ini adalah SD tempat Mark dan sepupunya menimba ilmu. Pantas saja Jeno merasa tak asing dengan jalannya. Ah, kalau begini, berarti Jeno bisa ke sekolah Mark dan Lucas dengan jalan kaki kan? Mengapa Jeno tak menyadarinya waktu pertama kali kesini?
"Jeno~!" Mark yang dipanggil langsung menaruh rumput yang dipegangnya ke tong sampah dan mendekat ke Jeno.
"Makli Makli! Ni Cana, ni Huwal!" Jeno dengan antusiasnya memperkenalkan kedua temannya yang masih di gandeng begitu erat.
Sementara itu, Mark yang diajak bicara hanya melihat teman yang berdiri di kanan kiri Jeno.
"Ooo ini? Yang namanya Huwal sama Cana ini Jeno?" Mark menatap remeh kedua bocah itu.
"Hu'um!" Si Jeno mengangguk cepat.
"Kalian!" Mark masih ingat jelas tentang Jeno yang pernah di pukul oleh Sanha hingga membiru, dan Hwall yang membuatnya nyaris kehilangan lunch box iron man.
"Apa~?" Cicit Sanha yang merasa terintimidasi.
"Mark! Ayo cabut rumputnya! Jangan ngobrol terus sama anak TK!"
Suara cempreng yang memekakkan telinga itu membuat Jeno mengintip dari balik badan Mark, tetangganya itu sepertinya tengah sibuk kerja bakti di sekolah. Persis seperti yang ayahnya lakukan dengan bapak-bapak lainnya di kompleks ketika Minggu di akhir bulan.
"Ah! Noie pelgi Makli~ dadah~"
Tanpa menunggu jawaban dari Mark, Jeno bergegas meninggalkan Mark dan kembali menyeret kedua temannya. Dan hal itu membuat Seohyun yang berjaga di belakang tak lari-lari lagi untuk mengembalikan ketiga bocah itu ke barisan.
"Hah~ Bocah ini~!" Gerutu Seohyun.
Setelah mereka menjauh dari sekolah Mark, langkah Hwall tiba-tiba memelan.
"Jeno, itu capa?" Tanya Hwall ketika merasa aman dari kehadiran Mark.
"Xixi~"
Mendapat respon begitu, Sanha mengernyit, "napa ketawa?"
"Ndak papa xixi~"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.