"Jeno udah mainannya, tidur sekarang."
"Humph! Noie main dino~"
"Jam 8 loh ini, waktunya bobo."
"Ayahh~ becok ndak cekulah~"
"Terus? Kalo nggak sekolah bisa bobo malam malam?"
"Ndak mau bobo~ Noie mau main dino~"
"Ayah telfon bunda ya, ayah bilang kalo Jeno nggak mau tidur." Jaehyun lalu berpura-pura mengambil hp di saku.
"Ayah no~!"
"Ayo dibersihin mainannya."
"Ndak mau~ Capee~"
"Dimana tanggung jawabnya hm~? Kan Jeno yang mainin tadi~ Ayah bantuin deh~"
"Humm~"
Sedikit malas Jeno pun membereskan mainan-mainannya. Untung saja sang ayah tak membiarkan dirinya membersihkan mainan sebanyak ini. Jadi kerjanya banyak terbantu.
Selesai membersihkan mainan, Jaehyun menggiring Jeno ke kamar mandi. Mengajak si kecil buang air kecil dan menggosok gigi. Baru setelah itu, mereka pergi ke kamar Jaehyun untuk mengistirahatkan tubuh.
"Yah~ Celita~" Ujar Jeno begitu ia berbaring di ranjang.
"Cerita?"
Jeno mengangguk cepat.
Jaehyun terdiam, ia memikirkan sebuah cerita yang cocok untuk di ceritakan ke Jeno.
"Yah?" Jeno menepuk perut sang ayah saat tak mendengar sesuatu dari mulut ayahnya.
"Oke, sekarang Jeno pejamin matanya."
Jeno dengan patuh memejamkan mata dan memeluk ayahnya.
"Ehm~ Di suatu istana di negeri yang indah, hidup seorang pangeran bungsu yang sangat tampan. Berbeda dari pangeran sulung. Pangeran sulung memang tampan, tapi pangeran bungsu jauh lebih tampan, hingga seluruh negeri mengakuinya.
Karena ketampanan pangeran bungsu sangat diagung-agungkan, pangeran sulung jadi iri. Ia lalu memanggil seorang penyihir sakti dan menyuruhnya untuk mengubah pangeran bungsu menjadi seekor kelinci.
Penyihir itu langsung mengucapkan mantra dan pangeran bungsu berubah menjadi kelinci putih.
Lalu karena takut ketahuan, Pangeran sulung pun membuang kelinci putih ke sebuah kebun yang sangat jauh dari istana.
Kelinci putih yang malang itu sangat ketakutan. Ia berlari kesana kemari mencari bantuan.
'Tolong~ Tolong aku~'
Ia terus berteriak.
Tapi sayangnya ia hanyalah seekor kelinci yang tak bisa berbicara dengan manusia.
'Tolong aku hiks! Aku seorang pangeran.'
Kelinci putih terus menangis sepanjang jalan.
Hingga saat ia sampai di bawah pohon yang sangat besar, kelinci putih bertemu dengan seekor kunang-kunang.
'Kenapa kau menangis kelinci?' tanya kunang-kunang.
'Aku ketakutan~ Aku seorang pangeran yang dikutuk menjadi kelinci. Tolong aku~'
Lampu kunang-kunang berkedip beberapa kali.
'Maaf~' si kunang-kunang tertunduk sedih, 'aku hanya seekor kunang-kunang, aku tak bisa membantumu mematahkan kutukan.'
'Lalu bagaimana hidupku hiks! Siapa yang bisa menolongku~'
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeno Safari
FanfictionBagaimana ketika si Noie kecil masuk taman kanak-kanak? [untuk yang baru baca, bisa ke baby Jeno daily dulu ya, biar nggak begitu bingung~]
