"Noie maleyot unda~"

7K 883 124
                                        

"Gue pulang xixixi~"

Jeno dengan riangnya berjalan memasuki rumahnya. Ia sudah puas bermain dari rumah Mark.

"Noie pulang~"

Lalu ketika Jeno hendak pergi ke dapur untuk mencari bundanya, mata sipit itu mendapati sang ayah sedang menonton tv sambil memakan biskuit bayinya.

Jeno lantas berlari menuju sang ayah. "Ayah~"

"Hai~" Jaehyun acuh. Ia sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari tv. Sinetron kesukaannya sedang konflik, sangat sayang jika terlewatkan.

"Ayah~!"

"Apa sih?"

Klik

"Jeno! Kenapa dimatiin!"

"Ayah ndak liat Noie!" Kening Jeno berkerut tak suka. Bahkan matanya membulat.

"Ya kan ayah lagi liat tv~ Itu mau ketahuan kalo Sukma beneran anaknya Ivan."

"Ayah no malah malah~" Bayi Jung itu lalu naik ke pangkuan Jaehyun. "Noie cayang ayah xixi~"

Jaehyun hanya mendengus kesal. Bagaimana ia bisa marah jika putranya kini memandanginya penuh senyuman.

"Eh, ayah inget. Tadi bunda cerita Jeno mau cium Jaemin ya?"

"Hu'um! Pi unda celamah Noie."

Sang ayah itu terkekeh, ia ingat cerita istrinya yang mengeluh karena Jeno tak begitu mendengarnya.

"Jeno~ Noie Noie~ Ayah mau tanya, siapa yang boleh cium Jeno? Atau yang boleh Jeno cium?"

Berdasarkan ceramah yang Jeno dapatkan dari sang bunda, Jeno dengan lemas menjawab, "Unda, ayah, nte, um Cihun, Uma, Glanpa, nini, upa~"

"Berarti yang lain? Kayak kak Mark, kak Lucas, Jaemin, Renjun, Haechan, Hwall temen-temennya Jeno yang lain nggak boleh di apa?"

"Cium~"

"Sip~ Ayah anggap Jeno paham."

"Ayah!"

"Hm?"

Si kecil itu lalu mendekatkan dirinya ke telinga sang ayah. "Ayah~" Bisiknya.

"Apa?"

"Noie cium Makli xixi~" Bisik Jeno lagi.

"Heh!" Jaehyun sontak menarik kepala Jeno agar ia bisa melihat mata sang putra.

"Noie cium xixi~ Kayak gini~"

Cup

Jeno mencium singkat pipi Jaehyun.

"JENO!"

"Xixixi~"

"BUNDAAA~! JENO BUNDA!"

.

Di malam hari, setelah makan malam, Jeno yang sudah selesai mencuci tangan dan kakinya niatnya hendak langsung ke kamar. Tapi ketika ia melewati dapur, matanya melihat gagang sapu yang begitu menarik malam ini.

"Uuu~"

Sementara itu, di ruang tengah Doyoung tengah memijat kepala Jaehyun yang katanya pening itu.

"Ssshh, yang kenceng yang."

"Udah kenceng ini, kepalamu aja yang keras." Meskipun bilang begitu, Doyoung tetap mengeraskan pijatannya.

"Nyindir apa gimana? Nah nah yang situ~ Terus~"

"Undaa~ Noie maleyot unda~" Jeno dengan bangganya memutar sapu layaknya seorang mayoret marching band.

"Mayoret Jeno ahaha~" Seketika Jaehyun melupakan sakit kepalanya. Apa itu maleyot?"

"Xixi~ Putal putal~"

"Jeno, jangan deket tv, taruh sapunya." Bukannya Doyoung tak menyukai aksi Jeno. Tapi putranya itu terus mendekat kearah tv.

"No~"

Doyoung yang tak mau terjadi hal tak diduga langsung mendekati Jeno, "taruh sapunya sayang~ Nanti kena tv."

"No~ Liat unda Noie kelen~"

"Iya Jeno keren banget, tapi taruh sapunya ya~"

"No~" Si kecil itu semakin mempercepat putarannya. "Liat liat~"

"Jeno-"

Brak

Dengan keras sapu yang di pegang Jeno menghantam tv.

Brak

"Aaaaa~!"

"Jeno!" Jaehyun yang sedari tadi hanya melihat proses penaklukan Jeno oleh sang istri langsung berlari menuju tv yang kini telah jatuh menimpa kaki gempal sang putra.

"Undaa~ Huweee~"

Begitu tv dipindah dan dicabut kabelnya, Jaehyun mendapati kuku jempol Jeno memerah. Ia yakin habis ini kuku itu akan menghitam.

"Cakit undaaa~"

"Sayang~ Astaga~" Sang bunda itu lalu membawa Jeno ke gendongannya. "Di tahan bentar ya~ Abis ini nggak sakit kok~ Jeno kan kuat, katanya mayoret?"

"Hu'um Hiks! Noie kuat huwee~"

Tapi bukannya mereda tangis Jeno semakin menjadi.

"Pinter~ Bunda ambilin puding coklat yang kemarin ya?"

Sembari mengeratkan pelukannya, Jeno mengangguk pelan. "Cakit unda hiks!"

Sungguh kakinya berdenyut sakit.

"Iya tapi ditahan ya, ntar sakitnya hilang kok~" Sambil terus membujuk Jeno, Doyoung membawa putranya itu ke dapur.

"Hiks! Tipi nakal Noie huwee~"

Di sisi lain, Jaehyun yang ditinggal melirik ke tv-nya. Astaga! Mata Jaehyun langsung melotot.

Tv-nya tak bisa diselamatkan. Sisi sampingnya pecah dan bolong.

"Jeno ya Tuhan~ Mana ntar mau nonton bola~"

"Sinetron ku~"

"Ayah~ Cini yah~"

"Iya bentar!" Dengan langkah gontai Jaehyun meninggalkan tv-nya yang tinggal nama.

Beli yang lebih gede ah ntar~ Apa yang sampe satu tembok ya~

"Ayah~!" Suara cempreng itu kembali terdengar.

"Iya sayang sabar!"

.
.
.
TBC~

[Hmm, Minhyun pikir cerita ini membosankan]
[Kalo iya kan epilognya tinggal dikeluarkan ahaha]

[Tapi~]

[Makasih yg udah setia sama Noie~]
[(づ ̄ ³ ̄)づ]

[Dadah nte~ Noie beli tipi dulu~ Xixi~]

Jeno SafariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang