"Noie bica liat unda~"

23.5K 1.7K 154
                                        

"Siapa yang hari ini sekolah~?"

Dengan tas ransel berbentuk kepala iron man, Jeno berlompatan sembari menjawab pertanyaan sang bunda.

"NOIE NOIE~!" Matanya hanya tinggal segaris begitu menggambarkan jika Jeno ingin segera berangkat ke sekolahnya. 

"Bekalnya udah?"

"Udah~!" Jeno tersenyum lebar sambil mengangguk cepat.

"Minumnya udah?"

"Udah~!"

"Okey waktunya berangkat!"

Doyoung pun menggandeng Jeno menuju mobil. Ini hari kedua Jeno sekolah. Tak ada drama pagi ini, karena Jeno sudah mendapatkan tas ransel iron man, bekal nasi goreng Iron man legend sang bunda, dan juga jus strawberry, ah jangan lupa biskuit bayinya, dan mainan Bumblebeenya. Semuanya sudah masuk kedalam tas iron mannya.

Kemana bukunya? Semua perlengkapan sekolah Jeno bundanya yang pegang. Tasnya sudah tak muat. Doyoung sempat berpikir, sepertinya koper lebih cocok untuk tas sekolah Jeno.

"Unda~ Nti unda itut cekuyah?" Jeno yang digandeng sang bunda mendongak.

"Tentu saja~"

Tiba-tiba, langkah Jeno terhenti. Ia menarik tangannya, dan berbalik,

"AYAH~! A~YAH~"

Dengan berkas-berkas kantor yang belum dimasukkan ke dalam tas, Jaehyun tergopoh-gopoh menemui Jeno. "Apa apa?"

"Uang~" Tangan Jeno menengadah ke ayahnya.

"Buat apa uang lagi? Kan udah ayah kasih tadi 2 ribu."

"Unda~" Jeno menunjuk bundanya, "unda cekuyah ayah~ Caku unda~" Jawaban polos Jeno sontak membuat kedua orangtuanya tertawa terbahak-bahak.

"Ahahaha~ Uang 2 ribu mana cukup buat bunda jajan~" Seketika itu, Doyoung mengubah mimik wajahnya.

"Jangan dengerin ayah Jeno, ayo ayo sini masuk mobil~"

"Ayo ayah~ Cekuyah~ Nti dapet caku glanpa, xixi~"

.

Sesampainya di TK, Jeno langsung berlari menuju kelasnya. Tak peduli dengan sang bunda yang masih ribut tentang apa dengan ayahnya. Yang penting Jeno sudah tak sabar untuk bermain dengan iron man milik ibu Sunny. Kemarin ibu guru itu sudah menjanjikannya robot iron man di kelas. Makanya hari ini ia membawa Bumblebee, bukan iron man.

Brak

Pintu kelas dibuka dengan kasarnya. Sontak, semua anak-anak yang ada disana terkejut bukan main. Hwall, yang kesal dengan ulah Jeno langsung berdiri dari duduknya.

"Cantai dong! Gaget aku!" Protes Hwall sembari menggebrak meja.

"Huh~ Noie ndak tau!" Kali ini Jeno lebih berani. Bahkan ia mendekat kearah Hwall.

Kemarin, ketika Jaehyun pulang, Jeno langsung mengadu pada ayahnya itu. Tentu saja, apalagi nasihat seorang ayah kalau bukan menjadi berani dan lawan saja kalau nakal? Tapi setelahnya, Jaehyun harus mendapat ceramah semalaman oleh Doyoung karena mengajarkan Jeno yang tidak-tidak.

"Ndak boleh yusak pintu! Nti bu gulu malah!"

"Huh?"

"Ndak boleh gitu!"

"Ndak boleh?" Jeno memiringkan kepalanya, ia tak pernah berpikir ibu Sunny akan marah kepadanya.

"Iya!" Suara Hwall menyentak. Jeno menangkapnya sebagai ekspresi marah. Bocah Jung itu langsung terngiang-ngiang nasihat sang bunda untuk tidak marah-marah.

"Api unda bilang ndak boleh malah malah."

"Huwal ndak malah!"

Ditengah perseteruan antara Jeno dan Hwall, muncullah ibu Sunny lengkap dengan buku absen dan buku entahlah, Jeno tak tau.

"Kenapa ini anak anak?"

Jeno yang mendapat sosok pelindung langsung mengadu. "Bu gulu~ Huwal tipu Noie~!" Tangan mungil Jeno menunjuk Hwall gencar.

"Tipu?" Dahi Sunny mengernyit, ada masalah apa ini pagi-pagi?

"Huwal ndak bohong! Pintu Jeno-" Hwall terdiam, dia tak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan Jeno yang menggebrak pintu. Tak hilang akal, Hwall berlari menuju pintu dan menirukan Jeno membuka pintu kelas.

"Jeno gini bu gulu~"

Brak

Pintu kelas yang tak bersalah pun kembali menjadi korban.

"Nti pintu yusak ya bu gulu ya?"

"Noie ndak tau!" Jeno pun merapat ke Sunny, "Bu gulu~ Huwal malah malah~ Unda bilang ndak boleh malah malah, api Huwal malah, telus Huwal bilang ndak malah~ Huwal tipu bu gulu~ Ayah bilang, ndak boleh tipu tipu~"

"Ahaha~" Rasanya Sunny ingin menggigit pipi kedua anak ini. Gemas sekali mereka terus mengadu agar tak disalahkan.

"Kalian ini ya~ Jeno, sini ibu kasih tau, kalau buka pintu pelan pelan ya~ Bener kata Hwall, kalau pintunya di buka kayak gitu pintunya bisa rusak. Terus kalau pintunya rusak gimana dong? Masak kelasnya Jeno nggak punya pintu?"

"Xixi~ Ndak punya pintu~" Jeno langsung tertawa begitu membayangkan kelasnya tak memiliki pintu,

"Ah! Nti Noie beli~ Noie ada uang~"

"Berapa emang uangnya?"

Dengan bangga Jeno merogoh sakunya, "dua libu~!"

Bagaimana Jeno tak bangga dengan uangnya? Uang 2 ribu itu adalah uang pertama kali yang Jeno punya. Uang perdana dari sang ayah.

"Ahahaha~ Simpan uang Jeno, buat beli jajan. Tapi ingat ya, buka pintu harus pelan-?"

"Pelan xixi~"

"Dah sana duduk Jeno~"

Begitu uang 2 ribunya kembali masuk ke saku, Jeno pun duduk di bangku warna merah, persis di dekat jendela tempat sang bunda menungguinya di luar kelas, alias di pojok belakang.

Setelah menasihati Jeno, Sunny pun beralih menasihati Hwall. Jeno? Dia tidak peduli dengan Hwall. Ketika ia duduk, dirinya langsung menoleh ke arah jendela. Ada sang bunda di depan matanya.

"Unda~! Noie bica liat unda~" Dengan senyum mengembang, Jeno melambaikan tangannya ke arah Doyoung.

Tentu saja Doyoung membalas lambaian tangan Jeno. Kalau diacuhkan Jeno pasti akan mengamuk.

"Kenapa?" Si Doyoung lalu menunjuk Hwall yang masih di nasihati Sunny.

Sejujurnya Doyoung sedikit menyesal, andai saja tadi tak begitu menanggapi Jaehyun, pasti sekarang ia tak akan ketinggalan berita.

"Ndak tau xixi~"

"Unda~ Nti ini," Jeno kembali merogoh saku celananya, "beli pintu."

"Hah?!" Pintu?! Dua ribu?!

.
.
.
TBC~

Jeno SafariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang