Disuatu malam, sebelum jam tidur, sepasang kaki mungil berjalan tergesa-gesa menuju ruang kerja rumahnya. Tangannya yang gempal sedikit kerepotan membawa buku dongengnya yang lumayan tebal.
Cklek
"Ayah~" Kepala Jeno menyembul dari balik pintu.
"Kenapa sayang?" Jaehyun yang sedang berkencan dengan laptopnya menghentikan acaranya.
"Celita~ Bobo~"
Jeno menjawab tanpa repot-repot mendekat, dirinya sudah mengantuk dan ingin segera tidur.
"Ah mau ayah dongengin?" Tanya Jaehyun begitu menyadari jika Jeno membawa buku dongeng kesukaannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hu'um! Hoaamm~"
"Ahaha, bentar, ayah save dulu tugas ayah. Sekarang minta bunda anter ke kamar. Oke?"
"Ukaii~"
.
"Ayo sini ayah ceritain~" Ujar Jaehyun sambil menyamankan posisi Jeno.
Ketika Jeno sudah nyaman dengan posisinya, Jaehyun pun membuka bukunya dan mulai bercerita.
"Pada suatu hari, di padang rumput yang terbentang luas, hiduplah seorang anak serigala sebatang kara. Dia sangat tampan dan pintar~"
Si Jaehyun pun mulai larut dengan ceritanya. Tidak tau saja jika sang putra masih membuka lebar kedua matanya sambil sesekali berkedip-kedip. Entah jatuh kemana rasa kantuk Jeno. Tadinya ia benar-benar mengantuk dan sekarang malah tidak sama sekali.
"Akan tetapi serigala kecil itu suka menipu orang. Sudah banyak orang yang tertipu olehnya. Salah satunya adalah si gadis kecil-"
Jeno awalnya tenang, hingga saat ia mendengar kata 'menipu', ia jadi teringat sesuatu.
"Ayah! Tika Noie ndak ada ilon man! Bu gulu tipu Noie!"
"Huh?" Jaehyun sontak menoleh ke arah Jeno, ia pikir bayinya ini telah memejamkan matanya.
"Bukan gitu. Iron mannya ada cuman kayak miniatur gitu, nggak gede kayak yang dia punya." Ujar Doyoung meluruskan maksud Jeno.
"Bentar," Jaehyun menoleh ke arah Doyoung, "sejak kapan bunda disini Jeno?" Jaehyun kira, Doyoung langsung pergi setelah ia naik ke ranjang Jeno. Tapi ternyata, istrinya itu sedang merapikan bufet mainan Jeno.
"Sejak tadi lah." Jawab Doyoung acuh.
"Ayah~" Si Jeno yang terabaikan menepuk-nepuk paha Jaehyun, "bu gulu tipu~" Adu Jeno lagi.
"Terus mau Jeno gimana? Kan emang bu guru punyanya itu~"
"Beli ilon man ayah! Nti taluh tika xixi~"
"Kenapa di taruh TK? Nanti malah di pinjem temen-temen Jeno, terus Jeno nggak bisa main iron man."
"Ndak papa~ Nti Noie main bumbubii Noie~ Temen main ilon man~ Xixi~ Beli ayah ayo ayo~!"
"Hah~" Jaehyun beralih ke istrinya, "tanyain ke pihak TKnya, boleh nggak nyumbang mainan? Kalo boleh nanti kita kasih iron man sama mainan yang lain."
"Okey besok aku tanyain dulu." Si Doyoung yang lelah akhirnya ikut berbaring di ranjangnya Jeno. Tepat disamping si mungil yang sedang membujuk ayahnya.
"Tapi kalo nggak boleh, Jeno mainan sama iron man punya bu guru." Imbuh Doyoung sambil menyamankan posisinya.
"Ndak mau! Kecik! Noie ndak cuka!"
"Bawa aja iron man dari rumah."
Mendengar tutur Doyoung, Jeno langsung menatap tak suka bundanya itu. Kalau masalah mainan, pasti seperti ini. Dengan seribu alasan pasti sang bunda akan berhasil menghasut sang ayah, dan semua itu akan berakhir Jeno cemberut seharian.
"Tuh dengerin kata bunda~ Toh iron man Jeno banyak kan?"
Kan?
Bibir Jeno sudah maju beberapa centi.
"Ih, ada bebek disini ayah!" Doyoung terkekeh melihat Jeno yang cemberut seperti itu. "Ini temannya Nono ya? Si Noie bukan?" Tanya Doyoung sambil memainkan bibir mungil Jeno.
"Ni Noie! Ndak bebek~"
"Bebek ini, liat bibirnya maju maju gini~" ujar Doyoung sambil menirukan gaya Jeno tadi.
"Xixi~ Unda kayak bebek~"
"Ahahaha~ Dibalik sama anak sendiri~"
Nyut~
"Aw! Sakit!" Sontak Jaehyun langsung menampol tangan Doyoung yang masih mencubit perutnya.
"Udah udah, ayo lanjutin ceritanya ayah."
"No~! Ilon man! Balu~"
"Iyaa kalo boleh sama ibu guru, kalo nggak boleh ya bawa iron man Jeno aja~"
"No~! Balu ayah!"
"Aaaa~ Ayah paham~ Ini pasti modusmu kan? Bilang aja mau mainan baru~ Sini sini ayah gigit dulu mochinya!" Jaehyun langsung menangkup pipi Jeno dan berpura-pura akan menggigitnya.