"Jeno ayo bangun~ Sekolah~"
"Ndak mau~ Noie ndak sekulah~!"
"Heum~? Bangun dulu yuk~ Bunda mau denger kenapa Jeno nggak mau sekolah?"
"Noie cape unda~" Ujar Jeno sembari membuka matanya.
"Cape? Tapi pas di sekolah Jeno senang kan ketemu teman-teman?"
Bibir Jeno mengerucut. Ia setuju dengan yang satu itu. Tapi ayolah bunda Jeno ingin berlibur hari ini.
Perlahan Jeno mulai medudukkan dirinya. "Noie ndak mau sekulah. Mau besal kayak unda~"
"Bunda dulu juga sekolah sayangku~ Bangun jam 5, mandi terus sarapan. Jam setengah 7 berangkat ke sekolah~ Sama kayak Jeno."
"Sekalang ndak~"
Doyoung tersenyum tipis. "Jeno mau kayak bunda? Kalo mau kayak bunda harus sekolah dulu~ Jadi anak yang pintar~"
Ayah sama bunda sepakat nggak nuntut Jeno pintar di akademik, Jeno bisa pintar di bidang lain. Jadi anak yang baik, berprinsip~ Jeno pun harus bisa berdiri di kaki sendiri.
"Unda!" Jeno melotot ketika bundanya malah melamun.
"Eh kenapa Jen?"
"Noie ndak sekolah ya~"
"Jeno sekolah. Dirumah juga nggak ada temen."
"Ada unda~"
"Bunda mau buat kue~"
"Noie bantu!"
"Boleh~ Tapi setelah pulang sekolah ya~"
"Sekulah telus sekulah telus!"
"Siapa yang pagi pagi udah ngomel ngomel heum?" Jaehyun dengan pakaiannya yang telah rapi memasuki kamar putranya. Bisa ia lihat Jeno tengah cemberut di depan istrinya. Drama apalagi pagi ini.
"Noie ndak mau sekulah~"
"Ayah kasih uang dua ribu masih nggak mau sekolah?"
Jeno menggeleng ribut. Uang dua ribu milik ayahnya tak lagi menarik untuknya hari ini.
"Ayah tambah jadi empat ribu?"
"Ndak mau~"
"Enam ribu? Banyak loh itu udahan, bunda nanti juga bekalin kue kan sama susu?"
"Noie ndak mau sekulah~ Mau main main~"
"Di sekolah kan main-main?"
Itu pandangan orang dewasa. Tapi tidak bagi Jeno. Menurutnya ketika ia berada di sekolah ada banyak hal yang harus ia taati. Seperti harus masuk ke dalam kelas saat bel berbunyi, berdoa dan bernyanyi bersama saat hendak pelajaran, belum lagi ia harus bisa membaca. Jeno tak bisa bermain dengan bebas seperti dirumah.
"Gimana kalo gini, abis sekolah ayah yang jemput, nanti mandi bola, mau?"
"Mandi bola ayah? Yang jauh?!" Seketika itu Jeno berdiri.
Doyoung yang tak mau putranya jatuh dari kasur langsung memegangi pinggul Jeno.
"Yap!"
"Ayo unda didi~ Noie mau sekulah~"
"Siap kapten!" Sang bunda lalu menggendong Jeno menuju kamar mandi.
.
.
.
"Napa dua libu?" Jeno menatap tak terima uang dua ribu di tangannya.
"Emang dua ribu kan sakunya Jeno."
"Ayah bilang tadi ndak! Enam libu~"
"Iya iyaaaa~" Jaehyun keluarkan uang 4 ribu dari dompetnya untuk kemudian ia beri pada putranya.
"Xixi~ Noie kaya~ Nti Noie beli donat banyak banyak~"
"Di tabung Jenooo~ Jeno juga ngapain beli donat."
"Huh?"
"Masak donat makan donat?"
"Noie pintol ndak donat!"
"Bwahaahaha~ Pentol ahahaha uhuk!"
Doyoung menyeringai melihat Jaehyun yang tersedak air liurnya sendiri. Rasain! Anak sendiri di katain! "Ayo Jeno berangkat!"
"Uhuk uhuk!"
"Xixi~ Dadah ayah~"
.
.
.
"Dadah tante~ Noie pelgi yaaa~~"
[wkwkw Minhyun hiatus dulu yakkk~]
[Sehat sehat kalian biar bisa ketemu Noie lagi wkwk]
[byebye~]
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeno Safari
FanficBagaimana ketika si Noie kecil masuk taman kanak-kanak? [untuk yang baru baca, bisa ke baby Jeno daily dulu ya, biar nggak begitu bingung~]
