"Ini kenapa pudding coklat enak banget keliatannya?" Si Jaehyun yang masih bergelung nyaman di sofa terus menggulir layar hpnya. Otaknya terus memikirkan tentang pudding buatan istrinya.
"Telfon ah~ Mumpung belom pulang orangnya~"
Drrttt drrttt
Jaehyun mengernyit heran, suara hp yang bergetar tak jauh darinya. Dirinya yang penasaran langsung mencari ke sumber suara.
"Ketinggalan? Yah~ Gajadi makan pudding dong." Jaehyun pun dengan lemas mematikan telfonnya. Hp istrinya ternyata tergeletak di balik bantal sofa.
Drrttt drrttt
Hp Doyoung kembali berbunyi. Nama Sunny terpampang jelas di layar hp itu.
Melihat namanya saja Jaehyun mendadak tak enak. Kenapa guru Jeno menelfon di jam-jam sekolah?
"Halo?"
"Permisi, tuan Doyoung,"
Suara yang bergetar itu tak begitu terdengar, tapi Jaehyun bisa merasakannya.
"Saya suaminya, ada apa ya?"
Hening
Jaehyun yang bingung mengecek hp Doyoung, jangan-jangan sambungan telfon terputus. Tapi nyatanya tidak, "halo?"
"Hah? I-itu, ehmm, Jeno jatuh dan giginya patah."
"Kok bisa?! Dimana dia sekarang?"
"Di UKS tuan, kami pihak sekolah mohon ayah atau ibunya ke sekolah ya, Jeno sama sekali tak mau tenang."
"Saya kesana sekarang!"
Begitu sambungan telfon terputus, Jaehyun langsung berlari menuju kamarnya.
"Kenapa ini pagi-pagi ya Tuhan~"
Sedikit kesusahan Jaehyun mengenakan celananya. Tentu saja ia tak mau ke sekolah putranya dengan boxer. Bisa hilang reputasinya sebagai hot daddy.
.
Ketika Jaehyun datang di sekolah, ia bisa mendapati putranya tengah duduk di pangkuan gurunya sambil di kompres air dingin. Akan tetapi Jeno sama sekali tak tenang. Ia terus menangis sambil menoleh kesana-kemari. Jaehyun sangat yakin putranya itu sedang mencari bundanya.
"Jeno?"
"Ayah huweee~!"
Bayi Jung itu perlahan turun dari pangkuan gurunya. Ia melangkah pelan menuju Jaehyun yang baru saja datang.
"Masih sakit?" Si Jaehyun berlutut di hadapan putranya.
Jeno mengangguk cepat.
"Coba hiiii~"
"Hiiii hiks!"
Salah satu gigi depan Jeno patah seperti yang dikatakan Sunny tadi. Untung saja tidak patah sampai ke tengah gigi. Tapi, gigi putranya berubah menjadi runcing. Kalau begini Jaehyun mau tak mau harus membawa Jeno ke dokter untuk mengikir gigi itu agar yang runcing itu tak melukai mulut Jeno.
Sebentar, ada satu lagi yang Jaehyun harus pastikan.
"Mana patahannya?" Si Jaehyun menatap dua guru yang berjaga di UKS.
"Kami sudah mencari tapi nggak nemuin gigi Jeno di kelas."
Mendengarnya Jaehyun langsung beralih ke putranya, "Jeno, tadi Jeno nggak nelan sesuatu kan? Yang keras, nggak kan?" Jaehyun panik.
"No~"
"Bener ya?"
Sekali lagi Jeno mengangguk. Yah meskipun begitu, Jaehyun tak begitu percaya dengan Jeno.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeno Safari
FanfictionBagaimana ketika si Noie kecil masuk taman kanak-kanak? [untuk yang baru baca, bisa ke baby Jeno daily dulu ya, biar nggak begitu bingung~]
