Chapter 6

1.5K 146 19
                                        

Hadi tersenyum masam karena lagi-lagi dia bertemu dengan anak kuliahan menyebalkan itu. Walaupun Hadi dongkol bukan main karena dia masih belum bisa melupakan ketengilan si anak kuliahan ini.

Sayang sekali Hadi harus menghadapi anak kuliahan ini sendirian karena Tio sedang menyusun barang di bagian rak berisikan minyak goreng.

"Bang, nggak ada diskon ya?"

Hadi berdecak kesal.

"Nggak ada" jawab Hadi dengan ketus, dia pun men-scan barcode harga yang ada di belanjaan anak kuliahan itu.

Kali ini, si anak kuliahan hanya membeli mie instant sebanyak lima bungkus serta saus sambal satu botol berukuran kecil. Dengan telaten Hadi men-scan semua belanjaan si anak kuliahan lalu dia memasukkannya ke dalam kantung belanja.

"Kenapa nggak ada, sih bang?" ucap anak kuliahan itu yang membuat Hadi mendelik kesal ke arah si anak kuliahan.

"Tanya sana sama yang punya toko. Lu itu kenapa, sih? Suka banget nanyain diskon ke gue? Gue ini cuma pegawai toko, bukan yang punya toko" ucap Hadi yang sudah jengkel sekali dengan si anak kuliahan ini.

Dia sampai lupa untuk menggunakan bahasa formal ketika menghadapi pembeli karena si anak kuliahan yang rese ini.

"Basa-basi aja, sih bang. Lagian abang seru, sumbunya pendek. Nggak kayak pegawai sebelumnya, kalem banget, pendiem juga, kayak orang kena sariawan" jelas si anak kuliahan membuat Hadi semakin jengkel saja.

"Nih, totalnya 1 juta" ucap Hadi membuat si anak kuliahan kebingungan.

"Ih, kok murah bener bang? Naikin lah jadi 10 juta."

Hadi tersenyum.

"Cepetan lu kasih duitnya! Ini total belanjaan lo!" seru Hadi kesal sambil menunjukkan total belanja si anak kuliahan di layar komputer.

Si anak kuliahan dengan wajah datar memberikan uang 100 ribu ke Hadi membuat laki-laki itu kembali jengkel.

"Belanjaan lo cuma 28 ribu ya, Udin! Harus banget pake duit 100 ribu buat bayar?!" kesal Hadi dan anak kuliahan itu menatap Hadi dengan tatapan terkejut.

"Kok abang tahu nama saya Udin?"

Hadi kembali tersenyum manis.

"Bodo amat gue, sini duit lu!" seru Hadi yang sudah lelah menghadapi si anak kuliahan yang entah memang benar namanya Udin atau tidak.

Si anak kuliahan bernama Udin itu menarik kembali uang 100 ribu yang ia taruh di atas meja kasir. Dia memasukkan kembali uang lembaran 100 ribu itu ke dalam dompet lalu dia meletakkan uang 28 ribu rupiah di atas meja kasir. Si Udin itu meraih kantung belanjanya.

"Ambil aja kembaliannya, bang" ucap si Udin lalu dia pamit undur diri.

"MEMANG NGGAK ADA KEMBALIANNYA ANJING! JANGAN BELANJA LAGI LO DI SINI!"

***

Renjana sibuk bermain dengan boneka penguin yang ada di atas meja milik Elias. Sambil menunggu Elias yang sedang pergi melihat keadaan beberapa pasiennya. Renjana duduk di ruangan Elias dan karena terlalu bosan, Renjana memainkan boneka penguin yang ada di atas meja. Dia awalnya tertawa pelan karena Elias yang wajahnya galak malah memiliki boneka penguin lucu ini di ruangannya.

Jika ada yang mencari keberadaan Nanda, laki-laki itu sibuk menelepon seseorang di luar ruangan milik Elias. Sudah hampir setengah jam Nanda menelepon dan tidak kunjung masuk ke dalam ruangan.

Renjana tidak tahu siapa yang Nanda telepon. Ketika dia bertanya, Nanda malah menjawab,

"Anak kecil nggak boleh tahu."

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang