Chapter 64

1K 152 38
                                        

"Mabuk terus kerjaan lo dari tadi."

Nanda menoleh dan mendapati Hadi berjalan mendekatinya. Nanda tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menegak sisa bir yang ia punya tanpa repot-repot menatap Hadi yang duduk di sampingnya.

Hari ini sangat melelahkan untuk mereka semua. Sehingga, di pukul 9 malam ini, rata-rata semuanya sudah terlelap. Jiro, Cakra, dan Mada tertidur di kamarnya Jiro dan Hadi. Sedangkan, Janu, pria itu tidur di kamarnya sendiri. Hanya Hadi yang tidak bisa tidur meskipun dia tergoda juga untuk tidur karena melihat Janu tertidur sangat nyenyak. Tetapi, Hadi menyadari kalau ada seseorang di ruang TV sehingga Hadi memutuskan untuk melihat ke sana.

Ternyata, dugaannya benar. Dia melihat Nanda duduk di ruang TV dengan tiga kaleng bir berada di atas meja. Mengetahui hal itu, Hadi mengambil dua kaleng bir yang belum diminum dan meletakkannya di samping tubuhnya.

"Kenapa lo belum tidur?" tanya Nanda yang meletakkan kaleng kosong itu di atas meja.

"Karena gue belum ngantuk" jawab Hadi yang hanya menatap jam dinding di ruangan ini.

"Kira-kira Renja lagi apa, ya?" gumam Hadi membuat Nanda menoleh ke temannya itu.

"John nggak jahatin Renja, kan? Meskipun dia jahat, dia pasti biarin Renja makan, kan? John nggak bakalan biarin Renja dikurung di tempat yang berdebu dan kotor, kan Nanda?" gumam Hadi lagi yang terdengar sangat khawatir dengan keadaan temannya di luar sana.

Nanda terdiam setelah mendengar gumaman lirih dari Hadi itu. Nanda juga memikirkan hal yang sama. Itulah kenapa dia tidak bisa tidur. Nanda terus kepikiran dengan nasib Renjana yang bersama John di luar sana. Nanda takut, John akan membawa Renjana jauh dari sini dan membuat mereka tidak bisa bertemu lagi. Memikirkan hal tersebut, membuat Nanda mengalihkan pikirannya dengan cara meminum minuman alkohol ini.

Nanda semakin tidak tenang karena Pak Reza belum juga memberikan kabar ke Nanda. Orang-orang suruhan ayahnya Cakra juga tidak menemukan keberadaan Renjana di kampung halaman orang tuanya. Hal ini membuat Nanda tidak berhenti berpikiran buruk.

Nanda selalu teringat betapa kejamnya John dan Jamal. Dua manusia yang tega membunuh teman mereka sendiri dan melakukan aksi balas dendam pada Farhan, kakaknya Jiro. Kekejaman mereka membuat Nanda tidak yakin kalau Renjana akan aman bersama John. Terlebih, dia selalu mendengar ucapan dari Jamal kalau dia akan membunuh Renjana.

Nanda takut, jika John membawa Renjana dan akan membunuhnya di tempat yang sangat sepi.

"Lama-lama bisa gila gue.." desis Nanda sambil memijit pelan pelipisnya karena rasa pusing yang menghantam kepalanya.

"Memangnya belum ada kabar lagi dari Pak Reza?" tanya Hadi dan Nanda menggelengkan kepalanya.

Hadi menatap Nanda dengan cemas.

"Nan, jangan-jangan John udah.."

"Jaga omongan lo Hadi. Gue tonjok lo kalo lo ngomong kayak gitu" ucap Nanda sambil menatap marah ke Hadi.

Hadi mengatupkan bibirnya dan menatap Nanda dengan lekat.

"Cemas, kan lo sekarang?" ucap Hadi membuat raut kesal di wajah Nanda memudar.

"Di awal lo sok sok an nggak peduli. Sekarang, lo malah kepikiran terus, kan?"

Nanda mengusap wajahnya dengan frustasi, "Gue nggak pernah bilang kalo gue nggak peduli sama saudara gue sendiri, Hadi" seru Nanda tertahan, dia tidak mau membuat teman-temannya yang lain terbangun.

"Langsung nuduh dia dan nggak dengerin di dua sisi, itu udah menandakan kalo lo nggak peduli, Nan. Waktu tahu dia pergi keluar sendirian lo sendiri yang bilang kalo kita biarin aja dia pergi karena itu memang maunya" ucap Hadi lagi membuat Nanda menatap lekat temannya itu.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang