Mereka bertujuh masih setia berada di rumah sakit sambil menunggu dokter selesai mengoperasi Hana. Mereka semua tidak henti mendoakan keselamatan Hana.
Mau bagaimana pun, Hana sudah mereka anggap seperti adik. Dan, mereka merasa bersalah kepada Hana yang tidak tahu mengenai masalah ini justru selalu terkena getahnya.
Di kursi panjang yang terbuat dari besi ini, Hadi tidak henti mendoakan keselamatan adiknya. Rasanya, Hadi ingin menangis lagi karena dia teringat kalau hari ini, dia ingin menghabiskan waktu berdua bersama Hana. Tetapi, sepertinya, Hadi mengajak Hana di waktu yang salah.
Begitu banyak kata seandainya muncul di dalam kepala Hadi.
Seandainya hari ini, Hadi tidak mengajak Hana pergi keluar, pasti adiknya ini akan baik-baik saja dan masih bisa memberikan senyuman manisnya ke Hadi.
"Hadi, berhenti nyalahin diri lo sendiri. Semua ini bukan karena lo. Mau lo nggak ngajak Hana pergi pun, kejadian ini akan tetap ada. Jamal itu gila, Di. Dia akan ngelakuin apa pun buat kita menderita" ucap Mada sambil menepuk pundak Hadi.
Melihat raut wajah Hadi, membuat Mada menyadari kalau Hadi pasti sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Mada tidak ingin Hadi merasa demikian. Karena, semua ini terjadi karena Jamal yang ingin membalaskan dendamnya kepada mereka.
Jamal benar-benar tidak suka melihat mereka bahagia.
Dan satu per satu, Jamal akan merenggut sumber kebahagiaan mereka.
Memikirkannya berhasil membuat Mada merinding.
Lampu di dekat pintu operasi yang awalnya menyala tiba-tiba mati. Mereka serentak menoleh ke arah pintu dan mendapati pintu terbuka serta seorang dokter keluar dari sana dengan masih mengenakan pakaian operasinya.
"Ada keluarga dari pasien di sini?" tanya dokter tersebut dan dengan cepat Hadi mengangkat tangannya.
"Saya kakaknya, dok" ucap Hadi dengan suara serak karena sebelumnya menangis keras.
Dokter itu tersenyum ke Hadi, "Adik kamu luar bisa. Dia begitu kuat dan mampu melewati masa kritisnya. Sejauh ini, adik kamu baik-baik saja. Luka yang ia dapatkan memang cukup dalam, tetapi karena dia begitu cepat dibawa kemari, menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi."
Mereka semua serentak mengucapkan kata syukur setelah mendengarkan penjelasan dokter. Apalagi Hadi yang sampai bersandar lemas ke Janu karena dia terlalu lega mengetahui adiknya baik-baik saja.
"Adik kamu akan dipindahkan ke ruang rawat inap dan akan menjalani perawatan untuk lukanya. Kalau begitu, saya permisi" ucap dokter tersebut berjalan meninggalkan tujuh bujang yang serentak mengucapkan terima kasih kepada sang dokter.
Tepat saat itu, mereka melihat para dokter serta perawat keluar dari ruang operasi sambil mendorong ranjang pesakitan yang terdapat Hana terbaring di sana.
Hadi yang melihat itu, langsung ikut bersama dokter dan para perawat tersebut diikuti oleh Cakra, Jiro, serta Mada.
"Gue mau hubungi Bang Lukman supaya Hana dipindahin di rumah sakit nya Om Elias. Di sana Hana bisa dijaga sama orang-orang dari bokap gue."
"Gue nggak yakin Jamal cuma berhenti sampe di sini buat nyakitin Hana" geram Nanda dengan kedua tangannya terkepal kuat.
"Emang lebih bagus Hana di tempat Om Elias aja, sih Nan" ucap Janu yang menyetujui ide dari Nanda itu.
Renjana menatap Nanda yang sepertinya kembali tersulut emosi karena membahas Jamal. Dia pun mengusap pelan pundak saudaranya itu dan memberikan senyuman kepada Nanda ketika Nanda menoleh ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfic*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)