"Kita telat datangnya. Kemaren baru aja panen. Jadi, jadwal kita main ke sawah nggak ada" ucap Mada kepada para adiknya yang sedang menikmati pisang goreng di teras rumahnya Mada ini.
Cakra yang mendengar hal itu langsung shock berat. Bahkan, pisang goreng yang ada di tangannya dan hendak masuk ke dalam mulutnya sampai terlepas dari sana. Untungnya, Janu langsung menangkap pisang goreng itu lalu memakannya karena tidak mau mubadzir.
"KENAPA? KENAPA PANEN NYA NGGAK NUNGGU KITA DATANG AJA?"
Cakra menyerukan hal itu sambil menggoyangkan pundak Mada dengan dramatis, membuat Mada menatap malas ke adiknya itu. Dia benar-benar sudah kenyang dengan tingkah ajaib para adiknya.
"Ngapain juga mereka nungguin kita? Memangnya kita ini apa? Penguasa bumi, kah?" gerutu Hadi yang dengan tenang memakan pisang gorengnya. Menurutnya, masih banyak hal yang bisa mereka lakukan di kampung halaman nya Mada. Lagian, hanya duduk diam di sini saja sudah membuat suasana hatinya menjadi bagus.
"T-Tapi, kapan lagi coba gue bisa ikutan panen?" ucap Cakra. Padahal, ikut memanen padi adalah agenda wajib nomor dua setelah dia tiba di kampung halamannya Mada.
"Lo, kan udah sering panen, Cak? Panen duit" celetuk Janu.
"Tahu aja lo kalo gue sering panen duit" sahut Nanda sambil memasang wajah jumawanya.
"Lo budeg, ya? Janu bilang "Cak" bukan "Nan", lagian, ngapain lo make kacamata hitam segala?! Lagi berjemur di pantai lo?!" gerutu Hadi yang langsung sakit mata karena melihat Nanda mengenakan kacamata hitam di teras rumahnya Mada. Padahal, sinar matahari tidak mengarah ke teras juga.
"Lagian, bapak lo yang panen duit. Lo cuma bagian mungut dan ngabisin duit bokap lo doang" celetuk Janu.
"Yang penting duit bokap gue yang gue pake buat foya-foya, hohoho" ucap Nanda masih dengan memasang wajah jumawanya.
"Ji, lo nggak ada kegiatan lain selain merhatiin cacing?" ucap Cakra yang tidak sengaja melihat Jiro sedang duduk melamun sambil memperhatikan cacing yang berjalan di halaman rumahnya Mada.
"Semua hal di dunia ini diperhatiin sama Jiro. Kayak anak TK aja" ucap Janu sambil mencomot pisang goreng di atas piring.
"Terus, hari ini kita mau ke mana? Duduk-duduk aja di rumah?" tanya Mada pada para adiknya, lalu pandangan mata Mada tertuju pada Renjana yang asyik sendiri dengan ponselnya.
Mada memicingkan matanya ke Renjana yang sedaritadi hanya diam dan sibuk sendiri dengan ponselnya itu. Renjana bahkan duduk di sudut dan sedikit menjauh dari mereka.
Karena melihat tatapan mata Mada, membuat yang lain lupa untuk menjawab pertanyaan Mada. Mereka langsung menolehkan kepala mereka ke arah pandangan Mada (kecuali Jiro, dia masih asyik memperhatikan cacing). Seketika mereka ikut memicingkan mata karena melihat Renjana duduk tersudut sambil memegang ponselnya.
"Lo ngapain, Ren?" tanya Nanda.
Setahunya, kampung halamannya Mada ini sinyalnya kurang bagus. Bahkan, pernah sinyalnya hilang. Jadi, aneh sekali melihat Renjana asyik dengan ponselnya karena tidak akan ada yang bisa ia lihat di sana dengan sinyal sesusah itu.
Renjana yang sedang melihat ke layar ponsel itu, menolehkan kepalanya ke arah teman-temannya. Dia sedikit bingung karena para temannya melihatnya seperti itu.
"Lihat hape" jawab Renjana.
"Yaa, apa yang lo lihat di dalam hape lo?" tanya Janu yang jadi curiga.
Apakah temannya ini diam-diam saling bertukar pesan dengan Sherina?
"Lo punya gebetan, ya?" tuding Nanda sambil memicingkan matanya ke Renjana.
"Siapa? Sherif itu?" tuding Nanda lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfiction*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)